Mutual Love


Apakah “cinta” itu mutualisme? Mari kita telisik bersama!

 

Beberapa waktu ini ada hal yang menarik mengusik pikiran dan perasaan gw. Tentang konsep mutualisme dalam ber-cinta. Namun, karna ber-cinta adalah kata yang multi tafsir, maka gw batasi dulu maksud penggunaannya di tulisan ini; ber-cinta yang gw maksud adalah berbagi cinta sebagai ekspresi dari men-cinta dan di-cinta sehingga ada cinta di antara subjek-subjek yang terlibat.

 

Let’s go ahead!

 

Definisi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia

Cinta : cin.ta

(1) suka sekali; sayang benar; (2) kasih sekali; terpikat (antara laki-laki dan perempuan); (3) ingin sekali; berharap sekali; rindu; (4) kalau susah hati (khawatir); risau: tiada terperikan lagi.

 

Mutualisme : mu.tu.a.lis.me

hubungan timbal-balik yang saling menguntungkan antara dua organisme.

 

Deskripsi Dilematisasi Pendefinisian

1. Cinta yang mutualisme itu seperti apa sih?

Cinta pada umumnya melibatkan dua subjek (mungkin lebih dari dua, tapi pembahasan kali ini untuk dua dulu aja ya), serta perasaan ketertarikan dan keterikatan di antara subjek-subjek pelaku. Menurut gw, jumlah subjek yang plural ini menyebabkan cinta itu sebaiknya menganut paham mutualisme, dimana paham tersebut dimaksudkan untuk mengadakan kesepakatan antara kedua subjek tanpa paksaan dan tekanan dari salah satu dan atau kedua pihak terlibat. Jadi sederhananya, cinta yang mutualisme adalah cinta yang berdasarkan keinginan dan dorongan alami dari dua belah pihak yang sama-sama mempersilahkan perasaan tersebut tumbuh di dalam jiwanya.

 

2. Mengapa cinta yang mutualisme itu penting?

Yes, hal tersebut penting banget! Karna cinta itu melibatkan banyak aspek dalam diri pribadi dan kondisi psikologi seseorang, mulai dari emotional, mental, spiritual, dan physical. Dimana dalam hal ini keterhubungan aspek-aspek tersebut antar subjek ternyatakan secara visual, verbal, serta chinestetical. Sehingga konsep mutualisme memegang peranan penting dalam tumbuh kembangnya perasaan tersebut dari, oleh, dan untuk kedua subjek.

 

3. Dimana cinta yang mutualisme harus dimulai?

Dimana saja ada dua individu yang memiliki dorongan untuk ber-cinta.

 

4. Kapan cinta yang mutualisme dapat dicapai?

Ketika kedua subjek memiliki itikad baik untuk memulai penyesuaian antara subjek yang satu dengan yang lainnya demi mencapai satu kondisi yang adil; berasaskan ke-saling-an dalam menentukan titik tengah; pencapaian kesepakatan yang berdasarkan pada deep understanding in between. Jika kedua subjek telah mencapai suatu persepsi dan toleransi pada gelombang frekuensi yang sama, maka hasil akhirnya sudah dapat dipastikan cinta yang ada menjadi mapan dan menjanjikan kebahagiaan.

 

5. Bagaimana cara mendapatkan dan menjalankan cinta yang mutualisme?

As simple as melakukan diskusi dan interaksi. Untuk dapat berdiskusi dan berinteraksi secara efektif dan efisien, maka diperlukan koordinasi dan komunikasi yang kooperatif. Yang mana dalam konteks ini menjunjung tinggi keunikan dan perbedaan masing-masing individu yang sama-sama menduduki posisi subjek. Maka dari itu, kerelaan dan ketulusan menjadi kunci kesuksesan untuk meraih cinta yang mutualisme.

 

Dictum Addendum in order to avoid the Quandary Issues

1. Berlaku untuk siapa sajakah konsep cinta yang mutualisme?

Siapa saja yang ingin ber-cinta, tanpa pengecualian terhadap gender, age, status, domicile, social grade, etc, personally and professionally.

 

2. Apakah ada batasan kondisi tertentu seperti waktu dan tempat dalam pengaplikasian konsep cinta yang mutualisme?

Tidak ada, karna cinta pada dasarnya merupakan suatu energi kekal yang melampaui batas ruang dan waktu.

 

3. Adakah pembatasan di dalam cinta yang mutualisme?

Tidak ada. Cinta yang mutualisme bersifat mutlak, sah dan tak terbantah. Jika tidak mutualisme maka cinta tersebut bukanlah cinta yang sacral, real and natural. Cinta yang dipaksakan dan atau berdasarkan tekanan is nothing but fake.

 

4. Salahkah cinta yang fake atau tidak mutualisme?

Kasuistis dan kondisional, tergantung sudut pandang pengamat. Cinta yang fake adalah hal yang umum di kalangan masyarakat modern, namun perbedaan yang signifikan terletak di bagian process and output antara input cinta yang fake dan yang mutual; begitu kontras, begitu membekas. Cinta yang fake membutuhkan kerja keras dan investasi emosi dalam menjalankan ketidakpastian akan penantian kebahagiaan atau pengakhiran. Sedangkan cinta yang mutual sejak dimulai, dijalani, hingga mencapai suatu kondisi abadi di dalam hati sudah bersama dengan kebahagian itu sendiri.

 

5. Adakah mekanisme atau prosesi tertentu yang diperlukan untuk mencapai cinta yang mutualisme?

Silahkan membaca ulang bagian “Deskripsi Dilematisasi Pendefinisian” point 3 sampai 5.

 

So, what’s next?

Love yourself to the Fullest and Shine with Style! Dare enough to Fly??

Let it Flow, Let it Glow, and Play it Now..or NEVER!!!

 

Think different?? Stop bashing, just sharing!

 

Lots of Love and Bunch of Kisses,

J.

 

 

Advertisements
Comments
11 Responses to “Mutual Love”
  1. Annisaa Rahmaatillah says:

    Halo kak, kenalin nama aku Annisa
    Aku udah baca buku kaka dan aku mau nanya, gimana menurut kakak tentang seorang laki-laki yang mencintai dua perempuan dalam waktu yg bersamaan? Karena aku sebagai perempuan yg menganut paham setia, gak bisa mengerti hal itu sama sekali. Mantan pacar aku itu pernah bilang, “kamu dan dia (wanita lain itu) kalo disatukan tuh sempurna”.

    Note: Aku masih dalam proses menunggu pelangi itu, kak.

    Terima kasih

  2. wisnuvidya says:

    calling me by name is good enough, i think… :))

    iya juga ya? kalau gak worth it si kayaknya gak akan dipertahankan juga.. 🙂 dan kalau iya worth it apapun juga dilakuin… kadang sampai ke hal-hal ekstrim. cuma batasnya itu kan yang kita agak susah buat nentuin. karena kadang kita udah ngerasa lebih, tapi ternyata dianggap masih kurang atau malah berlebihan…

    • Joan Arae says:

      hehehehe.. “ngerasa” tuh emang complicated sih.. jadi berspekulasi terus.. mungkin rumusnya gini : segala sesuatu yg berlebihan itu gak menyenangkan biasanya, jadi kalau berlebihan dibagikan ke yang berkekurangan aja, biar sama2 jadi cukup.. kalau cukup itu pas, tepat, presisi! 😀

  3. wisnuvidya says:

    finally~~~~ a new post!! 😀

    sekarang bahasannya cinta (dan) mutualisme ya… agak bingung juga si, yang namanya hubungan memang harusnya bersifat saling menguntungkan. tapi kalau kita kebanyakan “nuntut” pasangan kita hanya karena kita ngerasa udah memberikan yang terbaik dan mengharapkan balasan yang sama, biasanya ujung-ujungnya jadi berantem. 🙂

    and then there’s this words….

    “So, what’s next?

    Love yourself to the Fullest and Shine with Style! Dare enough to Fly??

    Let it Flow, Let it Glow, and Play it Now..or NEVER!!!”

    JUST. LOVE. IT. 😀

    mungkin itu yang sebenernya disebut cinta sejati. ketika kita udah bisa mencintai diri sendiri tapa syarat. dengan sendirinya kita bisa bahagia dengan atau tanpa pasangan. dengan atau tanpa hubungan mutualisme. karena kita udah gak akan nuntut apapun dari siapapun lagi. we simply love. loving ourself and the one we choose to love.

    🙂

    • Joan Arae says:

      Yeay! Glad to be able to post this new one too!
      Thank you so much for always supporting me to keep on writing yaa kak 😀

      Hmm.. Menurutku mutual love itu gak menuntut, justru based on a deep understanding, added with a great tolerance level dimana pasangan bisa saling menerima apa adanya, kalau ada kekurangan / hal yg sekiranya kurang sreg baik itu di salah satu pihak atau keduanya, akan diselesaikan dengan kompromi, musyawarah mufakat.. Justru jarang deadlog seharusnya.. mnurutmu gimana? 🙂

      yaayyy!! Thanks for loving my words! Happy to know it 🙂
      Dan setuju banget sama paragraf terakhir kakak, ketika kita bisa mencintai diri kita with unconditional love, and respect dgn diri kita sendiri, then people will treat us so.. Krn apa yg kita rasakan atas diri kita itu adalah cerminan yg orang lain rasakan atas diri kita ketika berinteraksi dengan kita, kind of emotional energy transfer gitu menurutku..
      and yes, lets love the one we choose to love unconditionally as well 🙂

      • wisnuvidya says:

        first thing first… gak perlu manggil kak deh kayaknya… that makes me feel old… :)) and off course i’ll support this well-done blog… 😀

        setuju si, intinya memang saling memahami, tapi menemukan pasangan yang bener-bener bisa saling memahami itu….apa ya? disebut susah bukan juga si.. kadang ada aja “kekurangan” fatal yang gak bakal bisa diterima masing-masing pihak. 🙂 jadi balik ke akhir, intinya si mending mencintai diri sendiri, cinta dari orang lain itu bonus… itu aja kadang masih susah. (pesimis ya?:)) )

        emotional energy transfer ya… kalimat modernnya mungkin ya.. kalau kalimat kuno nya: karma. kalimat science nya: hukum tarik-menarik. :))

        last but not least, don’t forget to not call me “kak” again, okay? ever.

        :))

      • Joan Arae says:

        hehehe.. so what should i call u dongg?

        thankkkyouuuu for your greatest support! am honored 🙂

        hmmm, mungkin bukan susah tapi mungkin kurang bekerja keras utk “menerima”.. sometimes i think “love” is kata kerja bukan kata benda.. that’s why efforts dibutuhkan, dan seberapa besar effort yg harus kita spent itu depend on seberapa worth nya juga.. what do you think? 🙂

        setuju bgt dengan love ourself first, the others are bonuses..dan..gak pesimis kok, realistis would be much appropriate 🙂

        karma mungkin konteks yg berbeda dgn emotional energy transfer ataupun hukum tarik menarik k.. emotional energy transfer mungkin hanya sepihak, hukum tarik menarik supposed to be jamak, karma juga.. hehehe

  4. Hendy Irawan says:

    Cinta yang murni mutualisme, akan mudah rapuh dan patah semangat manakala terjadi konflik sehingga berpotensi berubah menjadi saling menyalahkan, atau… “mutual blame”?

    Cinta yang terbaik didasari oleh kecintaan terhadap Tuhan dan komitmen untuk menjalankan perintahNya. Saat aral menghadang, mungkin itu salah satu ujian dariNya untuk melatih kesabaran dan semakin memperkuat komunikasi dalam berumah tangga.

    • Joan Arae says:

      Hmm.. interesting to be discussed further.. why do u think cinta yg murni mutualisme potentialy leads to mutual blame?
      I think that the mutual love will leads the couple to a condition where they are connecting their self to each other in a fair and balance environment, which no one dominates the other one.

      I agree, cinta yg spiritually growing is the strongest love..but it takes time and process to have this kind of growth, as the relation between human and God is an ultimate special relation that no one knows, except him/her self and God 🙂

      • Hendy Irawan says:

        Thanks Joan.

        Mutual love murni aku umpamakan seperti stock trading, atau seperti bangunan tanpa pondasi. Secara kasat mata sih canggih, namun risikonya tinggi banget.

        Pada praktiknya semua mutual love pasti ada faktor2 lain misalnya.. ortu udah cocok banget, ato sama2 hobi naik gunung, ato masih keluarga jauh, ato bahkan “bokap lu berjasa banget ama keluarga gue”. Semua itu membantu namun lemah sebagai pondasi. People change, people get pressured, people have priorities.

        Cinta pada Tuhan butuh proses, waktu. Cara terbaik memastikannya ya segera, semampunya, dibiasakan. Tuhan Maha Adil, tdk berubah2. Kita harapkan, setiap kali konflik, Dia membantu kita melewatinya dengan syahdu dan sesuai kehendakNya, dan seminimal mungkin ego kita berperan di situ. 🙂

      • Joan Arae says:

        wowww! aku suka analoginya, tapi aku blm sepaham ttg deskripsinya.. hehehe.. menurutku mutual love is the foundation justru, setelah pondasi, masih banyak kelengkapan bangunan yg harus di construct supaya kokoh dan tahan gempa plus tsunami.. what do you think? 🙂

        kalau faktor2 lainnya seperti keluarga, hobi, dll itu menurutku bukan part of d mutual love, tapi lebih part of the legitimacy utk meneruskan langkah.. btw, I couldn’t agree more for this statement of you : “People change, people get pressured, people have priorities.” ~ this is one of the reasons why I believe that mencintai atau bahkan menikahi seseorang doesn’t mean kita memberikan seluruh hidup kita pada orang tsb, krn sbg manusia pada dasarnya kita bukan hanya makhluk sosial tapi juga makhluk individual, dimana ada hal-hal yg memang sifatnya personal individual shg tidak memungkinkan diri, hati, maupun jiwa kita utk 100% di-share, even we love the person so much (till the death separate us gitu mungkin analogi term waktunya).

        And yes I do agree persoal cinta kepada Tuhan yg seharusnya menjadi prioritas utama yg bersifat mutlak, tak dapat dikelak 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Joan Arae


    "Art is my breath.. As long as I breathe, Art never dies.."

    A young energetic girl who realizes her existence in this world as a human learner and kept asking in her mind "Why I can't stop thinking & doing here?".

    Gonna be on top! ♥

%d bloggers like this: