Karna Jatuh Cinta itu Terlalu Mainstream


Ngomongin tentang cinta itu emang gak akan pernah ada matinya. Mulai dari jatuh cinta, cinta mati, putus cinta, cinta buta, dan segala cinta-cintaan lainnya. So, kali ini gw memutuskan untuk mempersempit judul tulisan ini. Yup, “Karna Jatuh Cinta itu Terlalu Mainstream”.

 

Alasan gw memilih judul ini simple, karna buat gw jatuh cinta itu udah kayak rutinitas, terlalu sering, terlalu mudah, bahkan antara kapok tapi nagih itu jadi blunder. Terlalu mainstream.

 

Masuk ke segmen yang lebih tertarget, lawan jenis. Menurut gw, jatuh cinta dengan lawan jenis itu bisa dimana saja, kapan saja, dan tanpa ada apa-apa sebelumnya. Ketemu cowok ganteng yang murah senyum atau ramah aja bisa buat gw melting di tempat. Trus kalau ada cowok berpakaian rapih dan berbicara sopan di depan gw, meski senyumnya tipis pun, gw bisa mendadak lemes kayak gak bertulang. Tapi, cowok pendiam yang menebarkan wangi yang lembut juga bisa buat gw salah tingkah kehabisan kata. Apalagi berhadapan dengan cowok yang matanya menyiratkan sejuta makna, imajinasi gw bisa terbang ke langit ke tujuh seketika. Fall in love at first sight itu gak mustahil buat gw.

 

Tapi.. Apa fall in love berarti pasti ingin menjalin relasi yang lebih serius, seperti pacaran atau bahkan lebih? Belum tentu.  Jatuh cinta itu emang mudah buat gw, tapi mempertahankannya itu butuh pertumpahan darah. Haha! Menurut gw, untuk melangkah ke hubungan yang lebih dari teman itu gak cuma butuh cinta. Jadi, butuh apa dong? Harta? Tahta? Gak segitunya juga sih. Kalau gw, butuh tiga hal : kenyamanan, kecocokan, dan komitmen.

 

Kenapa kenyamanan? Karna, biarpun gw bisa sampai sesak nafas di awal perjumpaan, kalau gak nyaman ada di deket dia, apapun penyebabnya, pasti semua akan berakhir dengan.. gw males. Tapi nyaman itu kan luas implementasinya, jadi nyaman yang gimana dong? Yes, emang luas, bahkan lebih luas dari samudra hindia, sampai-sampai gw gak tau batasannya dimana. Yang pasti nyaman yang gw maksud adalah kondisi dimana gw gak peduli apa kata orang lain; kalau ada di deket dia gw seneng, dan kalau gak ada dia gw kangen.

 

Nah, kalau soal kecocokan, yang dimaksud yang kayak gimana? Menurut gw, cocok itu bukan berdasarkan pengetahuan atau pembicaraan, tapi berdasarkan kebiasaan. Gw gak peduli dia itu pengetahuannya lebih luas atau lebih sempit daripada gw. Gw gak peduli pembicaraan dia susah atau mudah dimengerti sama gw. Yang penting kebiasaan gw sama dia cocok, bukan berarti sama, tapi cocok yang gw maksud itu bisa saling menerima, apa adanya. Gak ada salah satu yang merasa “ih kok dia gitu sih, harusnya kan gini”, tapi kalau “oh dia gitu ya, yaudah lah gakpapa” itu sah. Karna menurut kamus hidup gw: berbeda itu lumrah, kemampuan menerima perbedaan itu yang menjanjikan masa depan cerah.

 

Trus kalau soal komitmen, segimana tuh? Gw emang gak punya deskripsi dan batasan yang pasti soal ini, tapi ini justru poin terpenting buat gw. Tapi, berhubung gw sendiri adalah pribadi yang sadar kalau dalam kehidupan ini ada banyak hal-hal yang bisa terjadi di luar kuasa manusia, maka komitmen yang gw maksud itu bukan janji-janji semacam janji sehidup semati, melainkan sebuah janji yang dijunjung tinggi untuk tidak pernah lelah saling mengingatkan satu sama lain. Mengingatkan itu ya bisa apa aja, salah satu dan yang nomor satu adalah mengingatkan bahwa gw dan dia pernah jatuh cinta, masih, dan akan terus begitu. Kenapa? Karna terkadang berbagai macam konflik kehidupan bisa saja membuat gw atau dia lupa.

 

Jatuh cinta itu biasa buat gw, maka untuk menjalin relasi spesial dan serius dengan lawan jenis itu butuh lebih dari sekedar jatuh cinta; butuh rasa sayang. Karna sayang bisa bikin mabuk kepayang. Haha!

Kalau menurut lo, jatuh cinta itu gimana, butuh apa, dan kenapa??

 

 

Advertisements
Comments
26 Responses to “Karna Jatuh Cinta itu Terlalu Mainstream”
  1. kasamago says:

    nge Jleb bgt gan. cinta tanpa sayang is ragnarok..
    3 poin diatas bkl ane cantamkan terus nih. nice move gan..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Joan Arae


    "Art is my breath.. As long as I breathe, Art never dies.."

    A young energetic girl who realizes her existence in this world as a human learner and kept asking in her mind "Why I can't stop thinking & doing here?".

    Gonna be on top! ♥

%d bloggers like this: