The Beauty of Social Media – Part II


Faktual

  • Media Sosial seperti blog, facebook, twitter, dan jejaring sosial lainnya menjadi trend yang selalu didengungkan dalam berbagai kesempatan, baik formal maupun informal, oleh para pakar ataupun awam.
  • Banyak media sosial baru yang merupakan hasil kloning dari media sosial yang sedang naik daun. Contohnya: Pinterest yang kini banyak ditiru karena keunikan sisi interface -nya yang menyerupai mading versi online, Instagram yang ditiru karena fitur instant photoshop -nya yang dapat mem-filter foto secara instan.
  • Banyak orang mulai merasa sangat penting untuk menampilkan sosok dirinya di media sosial agar dikenal orang lain.
  • Di kalangan masyarakat dunia, virus media sosial semakin menjalar ketika facebook diperkenalkan dan seolah menjadi kendaraan wajib bagi setiap orang yang berwisata di dunia virtual, tanpa memandang latar belakang, usia, profesi, dll-nya.
  • Di Indonesia, eksistensi media sosial yang dimulai dengan munculnya berbagai macam forum diskusi berbasis web seperti KasKus, dan menjadi semakin marak ketika friendster mulai naik daun.
  • Media sosial diakui sebagai peluang emas yang murah meriah untuk memperkenalkan sesuatu kepada publik secara luas dan menyeluruh, baik itu untuk tujuan yang bersifat personal maupun komersial.
  • Media sosial menjadi fasilitas paling mutakhir untuk membentuk dan memperkenalkan personal brand maupun business brand sehingga selalu diprioritaskan dalam bersosialisasi serta berbisnis.
  • Akses media sosial semakin friendly sejak didukung oleh perkembangan teknologi dan kemudahan akses Internet, salah satunya adalah teknologi mobile device.
  • Euforia media sosial melanda banyak perusahaan. Sebagian besar masih mencoba-coba untuk terjun ke ranah ini dan berusaha melihat seberapa penting media ini, sedangkan yang lainnya ada yang sudah berjalan cukup jauh bersama aset media sosial yang mereka miliki.
  • Pertanyaan tersulit bagi sebagian besar brand developer pengguna media sosial adalah : “Apakah keberadaan media sosial brand cukup diukur dengan pertambahan jumlah follower / fans? Ketika brand memiliki follower / fans hingga berjumlah ratusan ribu atau bahkan jutaan, lalu?”.

 

Perkembangan Teknologi Terkait Media Sosial

  • Ide awal media sosial seperti facebook yang menghubungkan orang-orang yang kita kenal di kehidupan nyata melalui dunia maya (social graph) ternyata tidak cukup, karena media sosial tidak hanya menghubungkan kita dengan orang yang kita kenal saja, melainkan juga dengan orang-orang baru yang memiliki kedekatan latar belakang dengan kita, seperti misalnya hobi dan lokasi. Seiring perkembangan masa, lahirlah twitter (interest graph) dan geosocial networking seperti foursquare yang memberikan keterangan data lokasi (location graph). Social, interest, dan location graph tersebut kemudian didukung oleh kecanggihan teknologi mobile yang terintegrasi dengan GPS. Contoh media sosial yang memanfaatkan teknologi tersebut: Google Latitude, foursquare, Badoo, Sonar, dll. Platform SoLoMo (Social, Location, and Mobile) menjadi salah satu trend teknologi media sosial yang kini ramai menjadi perbincangan dunia karena kemampuannya dalam memotivasi pengguna untuk semakin mengenal kehidupan sosial yang terjadi di sekitar mereka.
  • Teknik gamification yang merupakan sebuah proses pengaplikasian mekanisme atau aturan permainan yang ada di dalam game kepada aktifitas non-game untuk tujuan tertentu juga ikut menjanjikan masa depan cerah bagi perkembangan individu dalam kehidupan pribadi maupun karir di dunia social media. Era Big Data mengepakan sayapnya sangat lebar, sehingga segala hal menjadi mudah terukur dengan angka dan data yang tersedia dimana-mana. Dan saat ini, teknik gamification telah banyak diadopsi dalam aktifitas atau kampanye marketing, bahkan jumlahnya jauh melampaui angka yang semula diprediksi.
  • Topik pembahasan gadget paling hot di kalangan para social media junkie dan para pencinta gadget di dunia adalah Google Glass, sebuah kacamata yang memampukan penggunanya menggunakan fitur augmented reality untuk mendapatkan informasi terhadap apa saja yang dilihat. Kacamata tersebut bisa berfungsi sebagai kamera, perekam video, music player, dan banyak fungsi lainnya. Google Glass merupakan project yang diprediksi akan akrab digunakan khalayak di tahun 2014. Saat ini, teknologi yang hampir mirip dengan Google Glass dapat dijajal lewat aplikasi Wikitude yang bisa diunduh melalui hampir semua operating system yang ada pada perangkat mobile.
  • Teknologi Alternate Reality yang hampir serupa dengan teknik storytelling juga mengambil peranan penting dalam kehidupan media sosial. Teknologi ini berbasis pada fitur Interactive Narrative yang menjadi penekanan terhadap cerita dari sebuah game, dimana pemain bisa menentukan nasib atau jalan cerita berdasarkan dari keputusan yang dilakukan di setiap scene yang dilaluinya. Teknik alternate reality ini sudah diterapkan melalui platform YouTube oleh beberapa brand, selain itu juga diterapkan pada video game dengan console terkini seperti Xbox 360 dan PS3.
  • Social media diprediksi akan menggeser dominasi dari TV yang selama ini menjadi kekuatan utama dari media tradisional. Indonesia sebagai negara yang konsumsi media terbesar masyarakyatnya terletak pada TV telah melahirkan ide Social TV, yang memiliki kekuatan dalam kolaborasi mass reach TV dengan high engagement level dari social media. Social TV telah mendapat banyak dukungan dari berbagai situs, contohnya GetGlue dan juga didukung oleh aplikasi-aplikasi yang terdapat pada tablet maupun smartphone. Perilaku masyarakat yang ketika menonton TV tidak hanya melihat kepada layar TV saja, tetapi juga sambil melihat layar laptop, tablet ataupun smartphone pun turut memberikan dukungan penuh terhadap Social TV dalam melahirkan fitur Second-Screen Experience, dimana konten di layar TV akan disinkronkan dengan layar laptop, tablet, atau smartphone.

Pemanfaatan Media Sosial

  • Sebagai wadah untuk bersosialisasi dan berbagi, akun media sosial seperti blog, facebook, twitter, dll memberikan kesempatan untuk kita bergabung dengan grup – grup yang kita sukai dan mem-follow apa yang kita anggap bermanfaat. Media sosial juga mempertemukan kita dengan banyak orang untuk bersosialisasi, berinteraksi, dan berbagi ilmu serta informasi, bahkan relasi.
  • Sebagai wadah untuk berekspresi, media sosial memberikan peluang untuk kita mengekspresikan karya melalui tulisan, foto, audio, video, dll yang dapat dinikmati oleh khalayak. Media sosial juga menyediakan space diskusi pada setiap karya, sehingga kita dapat bertukar persepsi, inspirasi, motivasi, dll dengan khalayak, yang kemudian dapat memampukan kita mengelaborasi kreasi dan menjadi semakin kaya serta berdaya dalam karya.
  • Sebagai media promosi, media sosial memberikan sarana bagi kita yang memiliki usaha atau bisnis untuk melakukan promosi tanpa batas. Kita dapat membuat sebuah halaman atau grup, dan mengundang khalayak untuk bergabung. Pengguna media sosial yang jumlahnya sangat banyak tidak jarang mencari serta melakukan transaksi untuk memenuhi kebutuhan mereka melalui akses jejaring sosial dan Internet, yang tentu lebih efisien serta efektif, terutama bagi mereka yang traffic aktifitasnya padat.

***

Joan Arae :

Inovasi teknologi membuat komunikasi melalui medium digital menjadi semakin menarik kualitas dan kuantitas individu untuk ikut berpartisipasi aktif secara digital. Menurut saya, media sosial  sebagai media yang memberikan kebebasan dan akses tanpa batas, serta menyediakan berbagai fasilitas dan servis yang mengedepakan kemudahan dalam melangsungkan berbagai aktivitas ini ibarat pisau bermata dua, terutama dalam konteks adaptasi pribadi terhadap teknologi itu sendiri. Dengan kekuatannya yang dahsyat serta daya tumbuh kembangnya yang begitu cepat dan pesat, bukan hal yang mustahil teknologi dapat membuat kita tersesat saat memenuhi hasrat untuk menuai manfaat, jika kita tidak benar-benar memahami esensi dari media sosial itu sendiri.

Trend interkoneksi satelit komunikasi yang memberikan jaringan luas serta layanan informasi tentu menjanjikan prospek cerah bagi masyarakat di seluruh penjuru dunia, terutama kelas pebisnis. Bukan hanya referensi pengetahuan dan pengalaman yang dibutuhkan untuk bisa menggapai kesuksesan, para praktisi bisnis juga dituntut untuk selalu tanggap dan mampu bertindak cerdas, serta memiliki kelengkapan dukungan sumber daya spesialis yang tangkas agar mampu bertahan serta berperan aktif dalam optimalisasi penggunaan teknologi dan media sosial sebagai sarana politis yang ekonomis, di era bisnis yang sangat kritis ini. Struktur perencanaan idealis yang sistematis dan strategis, serta kemampuan pengimplementasian dengan pendekatan teknis yang praktis dan taktis menjadi prioritas modal basis yang wajib dimiliki untuk kemudian bisa terus berkembang secara berkesinambungan, seiring perkembangan jaman.

Hasil Riset

  • Saat ini internet seperti menjadi sebuah pintu, yang ketika dibuka akan membentangkan beragam hal dari seluruh penjuru dunia. Kita tidak lagi terbatasi oleh keterbatasan pandangan mata, karena internet menawarkan kita untuk bisa berkeliling dunia tanpa harus beranjak dari depan layar kaca.
  • Media sosial semakin hari semakin kaya bagi penggunanya, seperti para E-marketer, narablog, blogger, dll. Media sosial kini telah menjadi cermin dunia tempat kita menjalankan kehidupan sehari hari, karena hampir semua hal yang kita lakukan di dunia nyata, sekarang dapat kita lakukan juga di dunia maya, seperti misalnya berkenalan, berdiskusi, bertukar informasi, menghadiri seminar atau webinar, berbisnis, dsb.
  • Jumlah online store terus meningkat dan semakin beragam dalam memanjakan konsumen untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Konsumen dapat mencari informasi seputar barang yang diinginkan, melakukan pembelian dan transaksi pembayaran secara online, kemudian tinggal menunggu barang sampai ke hadapan tanpa perlu mendatangi pusat perbelanjaan.
  • Dengan mengamati interaksi digital yang terjadi, kualitas pribadi seseorang yang terrepresentasi sudah dapat dinilai. Menjadi unik dan menarik untuk ditilik, kenyataan bahwa dimana penilaian terhadap kepribadian diri seseorang kini dapat dibaca tanpa perlu bertatap muka.

Hasil Analisa

 

Media Sosial

  • Pembuatan, penyampaian, dan perolehan informasi yang mudah, dapat tersebar dengan cepat, dan jangkauannya sangat luas.
  • Setiap individu dapat mengutarakan pendapat dengan lugas, bebas, dan tanpa batas.
  • Interaksi dalam rangka bersosialisasi bisa dilakukan dengan siapa saja, kapan saja dan dimana saja.

Key Strengths : mudah, cepat, luas, lugas, bebas, tanpa batas, siapa saja, kapan saja, dan dimana saja

Kekuatan Media Sosial

  • Media sosial adalah alat bantu, bukan utama.
  • Media sosial adalah media digital yang kuat, namun tidak dapat berdiri tunggal.
  • Kekuatan media sosial adalah sebuah kekuatan sosial berbasis digital.
  • Kekuatan media sosial terletak pada lingkungan sosial digitalnya.
  • Lingkungan sosial digital yang kuat berasal dari jaringan digital yang kuat.
  • Jaringan digital yang kuat berasal dari kekuatan kita, sebagai komunitas digital.

Most Important Points :

  • Hal utama & paling fundamental dalam membangun sebuah jaringan yang kuat adalah komunitas.
  • Kekuatan media sosial adalah kekuatan kita sebagai makhluk sosial.
  • Kita adalah makhluk sosial yang memanfaatkan media sosial, bukan dimanfaatkan oleh media sosial.

Ancaman & Pengaruh Negatif Media Sosial

  • Penyalahgunaan kebebasan oleh para pengguna seringkali membuat pengguna terjebak dan menjadi dirugikan. Dan  hal ini dapat berakibat fatal ketika ada keterlibatan dari oknum lain yang tidak bertanggung jawab, yang ingin mengambil keuntungan pribadi.
  • Kecanduan Media Sosial / Game Online.
  • Perjudian Online.
  • Penipuan yang marak terjadi dan sudah banyak menyita korban.
  • Pornografi, SARA, Violence & Gore yang dapat merusak moral generasi bangsa lintas usia (tua-muda). Oknum tidak bertanggung jawab maupun pelaku bisnis yang menghalalkan segala cara untuk menjual situs dengan mengunggah foto, video, audio, dll yang bersifat tabu melalui internet dapat mendorong terjadinya tindakan kriminal yang berdampak luas pada masyarakat.
  • Carding, kejahatan yang dilakukan oleh pelaku tindak kejahatan yang mampu mendeteksi dan mencatat kode kartu kredit ketika ada transaksi online. Hal ini dimungkinan terjadi karena sifat transaksi dengan kartu kredit yang “real time” (langsung).
  • Cybercrime, kejahatan yang dilakukan di dunia maya dan dapat menimbulkan kerugian sangat besar, namun sulit dibuktikan secara hukum. Perbuatan yang dilakukan sifatnya ilegal dan dapat melintasi batas Negara, contohnya Hacking – usaha memasuki sebuah jaringan dengan maksud mengeksplorasi atupun mencari kelemahan sistem jaringan, Cracking – usaha memasuki sebuah jaringan dengan maksud mencuri, mengubah atau menghancurkan file yang di simpan pada jaringan tersebut.
  • Sifat anti sosial, kecenderungan dari sifat sosial yang lebih suka berhubungan lewat internet daripada bertemu secara langsung (face to face), yang dapat mengakibatkan perubahan pola masyarakat dalam berinteraksi.

Key Weaknesses : penyalahgunaan, kecanduan, perjudian, penipuan, tindakan kriminal, sifat anti sosial

Social Media Business

 

“Cara untuk mendapatkan keuntungan melalui media sosial sangat panjang untuk dirinci secara detail, namun sudah sangat banyak terbukti bahwa media sosial bisa menjadi sumber penghasilan, meskipun E-marketing masih dipandang sebagai sebuah pekerjaan yang tidak umum di kalangan awam.”

Pada umumnya, praktisi bisnis masih banyak yang menganut gaya komunikasi tradisional “one to many communication”, dimana tujuan utamanya adalah coverage / mass reach. Hal ini menyebabkan parameter kesuksesan brand dalam praktik penggunaan media sosial seringkali hanya diukur dari jumlah likes (fans) dan followers -nya. Memperlakukan media sosial seperti media massa / traditional memang sah dan tidak salah, hanya saja hal tersebut dapat mengakibatkan hilangnya karakteristik media sosial bersamaan dengan peluang yang ditawarkannya.

Menurut saya, karakteristik dan peluang yang saling terkait dan terikat antara satu dengan lainnya dalam suatu hubungan sistemik di dunia social media seharusnya menjadi objektif prioritas brand. Karena objektif prioritas inilah yang akan menjadi sumber utama kekuatan relasi antara brand dengan semua stakeholdernya, terutama konsumen. Maka dari itu, ketika praktisi bisnis atau pemilik brand memiliki komitmen untuk eksis di dunia social media, jumlah likes (fans) dan followers seharusnya hanya menjadi tidak lebih dari sebuah database brand, berdasarkan pada kesadaran bahwa objektif prioritas lah yang dapat memberikan banyak keuntungan  lebih nyata dalam jangka panjang, yaitu dengan memperkaya citera brand maupun perusahaan.

Objektif prioritas yang saya maksud adalah :

1. Insight

Fenomena The Era of Big Data mengharuskan para pemilik brand untuk tidak lagi bersikap reaktif, melainkan proaktif terhadap jutaan data yang membanjiri media sosial setiap harinya agar dapat menjadikan hal tersebut sebagai peluang emas yang prospektus. Langkah utama dan terpenting yang harus dilakukan adalah listening. Listening ini bertujuan untuk memperoleh insight dari konsumen, yang dapat berupa opini, motivasi, maupun reaksi terhadap brand, yang tentu saja sangat berguna dalam proses penyeragaman persepsi antara brand dengan konsumen. Maka dari itu, Social Intelligence dalam ranah konsep Social Enterprise pun menjadi kebutuhan fundamental yang harus dipenuhi untuk dapat memperoleh insight yang bermanfaat dari jutaan data yang tersedia dan mencapai kesuksesan bisnis di dunia social media.

2. Reputation

Saat ini sudah banyak social monitoring tools yang dilengkapi dengan fitur intelligence, yang akan mengkirimkan E-mail apabila pada rentang waktu tertentu traffic social media yang dimonitor memiliki kenaikan angka yang signifikan dan bersentimen negatif. Fenomena tweet / status update negatif yang dapat menyebar dengan begitu cepat dalam waktu yang singkat memiliki kaitan erat dengan crisis management brand di dunia social media. Para pemilik brand harus bersikap proaktif untuk mendeteksi lebih dini isu-isu negatif dan melakukan pencegahan terhadap kekuatan penyebaran serta efek negatif lainnya yang mungkin ditimbulkan dari isu tersebut. Ini sangat penting diperhatikan dan dilakukan untuk menjaga reputasi baik brand.

3. Innovation

Di era bisnis yang sangat kompetitif ini, para pemilik brand dituntut harus selalu menciptakan inovasi yang memiliki relevansi tinggi dalam memenuhi kebutuhan konsumen secara efisien, efektif, dan kooperatif. Mengingat kebiasaan dan pola hidup konsumen yang terus dan cepat sekali mengalami perubahan, maka media sosial bila dimanfaatkan dengan benar tentu akan dapat memfasilitasi fungsi yang mendukung penciptaan inovasi. Di dunia social media, para pemilik brand dapat melibatkan konsumen secara langsung dan bahkan berkolaborasi dengan mereka untuk mengembangkan produk dan menciptakan produk yang lebih baik.

Aset Social Media Bagi Para Praktisi Bisnis :

1. Peningkatan

Social media berpengaruh sangat besar dalam peningkatan banyak hal, seperti : engagement konsumen, loyalitas konsumen, database konsumen, brand awareness, identitas brand, persepsi kualitas brand, value brand, worth of mouth, dll. Bahkan trend social commerce menjadikan social media sebagai medium digital untuk menghasilkan dan meningkatkan sales online yang merupakan tujuan dan KPI para pemasar maupun pemilik brand, karena dampaknya yang dapat langsung terlihat dengan kasat mata.

2. Efisiensi

Social media berperan sangat besar dalam melakukan efisiensi pada banyak hal, walaupun hal ini seringkali terlupakan dalam perhitungan ROI Social Media, contohnya :

  • Media sosial membuat market research menjadi lebih mudah dan murah, karena bisa dilakukan secara langsung di media sosial secara gratis. Tidak sedikit brand yang telah berhasil menciptakan produk baru berdasarkan insight konsumen yang mereka dapatkan melalui media sosial.
  • Media sosial membuat perusahaan mampu mengambil keputusan dan tindakan langsung atas reaksi konsumen terhadap sebuah kebijakan dengan cepat. Seperti misalnya GAP yang segera menarik logo barunya dalam beberapa hari setelah dipublikasi karena mendapat tanggapan negatif dari konsumennya.
  • Media sosial telah menjadi salah satu point kontak penting bagi konsumen untuk mendapatkan informasi seputar produk ataupun melakukan komplain. Hal ini tentu memberikan efisiensi bagi perusahaan dalam mengalokasi sumber daya layanan konsumen.

Sifat media sosial yang lintas batas dan menyangkut hajat berbagai divisi mulai dari Sales, Marketing, PR, CRM, HRD, dll membuat perhitungan ROI seharusnya dilihat secara komprehensif. Menurut saya, para praktisi bisnis yang terjun ke dalam dunia social media harus terbuka dan memampukan diri untuk melihat dengan cara pandang yang lebih luas dan terus meluas, agar optimalisasi manfaat dan minimalisasi alokasi budget dapat dicapai dengan efisien.

***

Majalah Popular Science mengangkat isu tentang Era Big Data dengan tajuk “Data is Power”.

Disebutkan bahwa pada tahun 2011, jumlah data di internet mencapai 1,8 Zettabyte / setara dengan 1,8 trillion Gigabyte, dan jumlah ini akan semakin tinggi pada tahun ini dan tahun-tahun ke depan.

Majalah New Scientist juga mengungkap isu serupa dengan tajuk “The Greatest Experiment Begins”.

Disebutkan bahwa revolusi teknologi media internet telah memampukan para ilmuwan sosial untuk menciptakan sebuah eksperimen besar dengan menggunakan data yang tersedia di internet.

Tidak heran bila Facebook berani membeli Instagram seharga 1 milyar Dollar. Dalam hal ini bukan jumlah pengguna Instagram yang masih cenderung kecil yang dicari oleh Facebook, melainkan data. Karena dengan data, Facebook bisa memahami insight pengguna, yang pada akhirnya akan sangat berguna bagi bisnis Facebook Advertising.

Welcome to The Era of Big Data!

Masih penasaran?

Nantikan episode tulisan saya selanjutnya , The Beauty of Social Media – Part III!

Advertisements
Comments
10 Responses to “The Beauty of Social Media – Part II”
  1. keren semakin semangat ni internetan hehehee

  2. reckydj says:

    gak tau kenaapa kalau aku masih setia sama facebook ditengah gemboran banyaknya social media akhir-akhir ini

  3. zeffry says:

    Very informative for me who is very familiar with conventional media. Thank you

  4. Perlu dibedakan antara social media (media sosial) dengan social network (jejaring sosial), walaupun perbedaannya tipis.

    Media sosial lahir terlebih dahulu, ditandai dengan blog, dimana aktivitas sosial dilakukan secara digital dan pengunjung maupun pengguna “tidak atau belum terhubung” satu dengan lainnya.

    Sementara istilah jejaring sosial “mengemuka” saat jejaring pertemanan Friendster lahir dan semakin populer sejak “demam” Facebook melanda, dengan faktor aplikasi maupun game yang berjalan di atas platform tersebut.

    • Joan Arae says:

      Yup yup, terimakasih atas info kelengkapannya kak..
      Nanti di episode-episode berikutnya akan kubahas perbedaan keduanya..
      Again, thank you for your kind input 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Joan Arae


    "Art is my breath.. As long as I breathe, Art never dies.."

    A young energetic girl who realizes her existence in this world as a human learner and kept asking in her mind "Why I can't stop thinking & doing here?".

    Gonna be on top! ♥

%d bloggers like this: