Bintang Hari Ini


 

Jumat, 26 Oktober 2012.

Selamat memperingati hari Idul Adha bagi teman-teman sekalian yang memperingatkan!

 

 

Tamu tak diundang bertandang tanpa permisi, peraduan gusi mengawali hari, dan saat ini sebut saja saya sedang sensi sehingga setiap hal yang mengada memaksa jari menari demi membuang kelebihan kalori yang terlanjur terkonsumsi..

 

***

 

Berbagian pertama

Mereka dan kata mana yang nyata.

 

Terlalu banyak pembicara yang berbicara tanpa tahu apa makna sebenarnya dari sebuah kata. Mereka tertawa, merasa kata berdaya guna kemudian berusaha memanfaatkannya demi merasa apa yang mereka kira adalah bahagia. Mereka mungkin lupa atau mungkin memang tidak tahu bahwa kata itu bukan sekedar rangkaian huruf semata yang merujuk kata benda. Kata itu tak sepantasnya diperlakukan semena-mena, karna kata bernyawa, sebijaknya berjaga dengan kekuatannya yang mampu menembus waktu dan ruang hampa. Tahukah mereka bahwa kata itu bahkan dapat membunuh anak manusia berakal tanpa suara? Betapa malangnya mereka ketika mengira diri bernyawa, padahal hanya menyisa raga yang ada tak berasa.

 

***

 

 

Berbagian kedua

Perang menentang dentang yang akan datang.

 

Saya punya seorang rekan diskusi yang usianya terpaut hampir mengali. Dia adalah sosok manusia di usia yang hampir senja namun memiliki pemikiran yang luas nyaris tak berbatas hingga mampu menembus bingkai bingkai generasi. Berkali kali kami terlibat dalam diskusi yang mengganti pagi dengan pagi yang baru lagi. Suatu hari dia bertanya padaku tentang titian hari, dan kuberikannya jawaban sepenuh hati “Aku ingin mati muda..

 

Mengapa adalah pilihan kata tanya yang mengawali dan mengakhiri setiap ucapnya yang kemudian kulanjutkan dengan “Karna segala sesuatu yang berlebihan itu bisa menjadikan aku lupa pada daya kepemilikan atasnya. Jika aku mati muda, maka segala yang ada akan menjadi bermakna terpuja. Dan segala itu termasuk di dalamnya persoal usia. Kurasa aku memang terada untuk meniada pada waktunya, dan bukan dosa disebutnya ketika menjadikan percepatan sebagai sebuah harapan yang menjanjikan.

 

Lalu dia menyatakan “Hidup itu indah, dear.. Kamu harus menikmatinya, jangan pernah ingin mengakhirnya, itu dosa.

 

Kupaparkan lekas setelahnya segala yang ternyata di balik jendela jiwa demi menyangkal segala prasangka tanpa tanya “Aku tidak ingin mengakhirinya, sama sekali tidak. Aku hanya mengharapkannya terakhiri lebih dini. Ya, aku tau hidup itu indah, bahkan setiap keindahannya selalu menyihirku hingga rupaku kaku saat ingin mengaku. Dan karna hidup itu indah, aku ingin menikmati sepenuhnya, kemudian meninggalkannya sebelum kehilangan kenikmatan atas indahnya.  Sebut saja aku egois, ya, karna aku manusia berakal yang sering kali lelah menadah gerimis.

 

***

 

 

Berbagian ketiga

Aku dan duniaku mencipta tanya mereka.

 

Apa yang salah dengan duniaku? Mengapa tidak hanya satu yang ragu dan selalu meninggalkan sendu di ujung tahu? Bukankah kala itu semua memintaku untuk maju dan tidak terpaku pada masa lalu? Bukankah semua tak ingin aku membiru dan senyumku pun menjadi turut mengabu?

 

Katanya aku memiliki keabsolutisan praktis dan taktis atas hak yang berbasis. Katanya usiaku sudah dipercaya berpunya citera yang lebih dari gadis lucu nan lugu yang tak paham ini itu. Katanya.. Ya, hanya katanya.

 

Nyatanya selalu ada dominasi asasi yang disubsitusi tanpa definisi apalagi deskripsi yang memadai. Nyatanya selalu persepsi kritisi terekspresi dengan konklusi ortodoksi yang acap kali menginstitusionalisasi kontroversi. Nyatanya, kontaminasi ego terlalu dini yang tidak terkualifikasi dilegitimasi secara ekslusi pada setiap kontradiksi lokalisasi. Ministri miskin esensi merealisasi signifikansi substansi tanpa aplikasi yang terkontekstualisasi secara histori dalam proses rekonstruksi atensi.

 

Konsekuensi terisolasi dikompromi, dengan dan tanpa literasi, merevisi doktrinasi praktisi sambil berlagak menunjunjung tinggi dedikasi. Ah, ironi tragedi yang tervisualisasi memang tak pernah jauh dari citera dan ceritera elegi.

 

Jadi, duniaku yang seharusnya kumiliki memang terbukti tak pernah benar-benar kumiliki hak kepememilikannya. Duniaku, yang seharusnya kumiliki, termiliki bersama mereka tanpa prosesi legalisasi, karna aku memang diharuskan berbagi tanpa tapi dan tanpa tepi.

 

***

 

Mungkin takdir senang mencibir, mungkin pula takdir memang terlahir nyinyir.

Tapi bukan tak mungkin takdir memiliki kuasa sihir yang mampu menyisir arsir segala getir tanpa tolerir, bersama melansir desir semilir pelesir yang anyir di setiap butir patikelir pasir teranulir.

 

Teruslah melaju, meski tak pernah tentu arah yang kau tuju.. Karna dimana ada mau, disitu pasti ada mampu. Persilahkan debu mencipta galau, dan yakinlah deru akan mengahalau semua itu untukmu, satu.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Joan Arae


    "Art is my breath.. As long as I breathe, Art never dies.."

    A young energetic girl who realizes her existence in this world as a human learner and kept asking in her mind "Why I can't stop thinking & doing here?".

    Gonna be on top! ♥

%d bloggers like this: