Diari Imaji


 

Imaji berhenti menari, duduk menyendiri di sudut hati

Bukan karna sepi, bukan pula sedang menanti

Imaji berdiri menepi  bersama jemari, takut ‘tuk melompat lebih tinggi.

 

Terlalu banyak sensasi yang buat imaji hampir bunuh diri

Banyak jiwa ingin imaji berubah menjadi ilusi, hilang, tenggelam bersama halusinasi.

 

Imaji resah,

Mendesah lelah, gerah dengan semua bantah yang limpah.

Imaji gundah,

Bersimbah darah, menyambut segala serapah yang tumpah.

 

Imaji tak ingin pergi dari sini.

Imaji ingin terus mengayunkan kaki, ingin berjalan perlahan menyusuri lika liku hari

Imaji ingin berjuang sampai mati, menghidupi mimpi demi menyambut warna warni pelangi.

 

Sudahi semua, jangan bunuh imaji!

Imaji tidak ingin mati terlalu dini.

 

Imaji mungkin bukan anak yang cerdas, tapi imaji cukup manis untuk dihargai

Walau terik menyalak begitu galak, imaji tak pernah menangis, imaji punya harga diri

 

Jangan tutup mata hati dan telinga jiwamu,

Lihatlah imaji yang sedang menanti sambutmu!

Dengar, imaji menyanyi begitu merdu meski sedang dirundung sendu..

 

Apakah imaji seburuk yang kau bayangkan?

Ataukah imaji terlalu sinis hingga kau anggap ia tak menyenangkan?

 

Imaji mungkin tak menghidrup udara yang menghidupimu

Tapi, imaji bernyawa, bahkan ia mengisi hidupmu setiap waktu

Tak pernahkah kau sadari hal itu?

Mengapa kau bergitu membencinya, menganggap seolah imaji begitu semu?

 

Imaji ada.

Ia larut bersama kata yang terucap dari bibirmu,

hanyut bersama air mata yang lalu di wajahmu yang rupawan itu.

 

Imaji ada.

Imaji akan terus ada.

Bersenyawa dengan jiwa, memenuhi seisi raga, dan bernafas bersama asa

Mencipta rasa yang mampu membawamu terbang menuju apa yang kau sebut surga.

 

Bersediakah kau untuk sekedar percaya?

 

 

Advertisements
Comments
8 Responses to “Diari Imaji”
  1. Tomski says:

    ya aku percaya . . .

  2. ocitamala says:

    Salah satu karya lagi dari Pujangga Joan

  3. Dwi Hartaty says:

    Imaji menghidupkan diri … akan terus ada meniti hari … imaji akan tumbuh bersama jiwa

  4. Ya, aku bersedia… dan semua duniapun.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Joan Arae


    "Art is my breath.. As long as I breathe, Art never dies.."

    A young energetic girl who realizes her existence in this world as a human learner and kept asking in her mind "Why I can't stop thinking & doing here?".

    Gonna be on top! ♥

%d bloggers like this: