SEPUCUK SURAT UNTUK TUHAN


 

Tuhan,

Aku tidak tahu.

 

Aku hanya bisa diam dan menunggu

Terkadang aku mencari tahu

Namun asaku begitu mengganggu

Hingga rasaku pun buntu

 

Tuhan,

Aku tidak tahu.

 

Seperti apa wujudmu?  Aku belum pernah sekalipun melihatnya

Seperti apa suaramu? Aku belum pernah sekalipun mendengarnya

Seperti apa sentuhanmu? Aku belum pernah sekalipun merasakannya

 

Tuhan,

Aku tidak tahu.

 

Hanya dari sekian banyak orang aku menerka tentangMu

Hanya dari sekian banyak buku aku membaca tentangMu

Hanya dari sekian banyak lagu aku mendengar tentangMu

 

Hanya dari sekian banyak

yang aku pun bahkan tak pernah tahu apakah benar ataukah salah

 

 

Tuhan,

Siapa sebenarnya diriMu?

Bagaimana aku bisa mencari tahu?

 

Mengapa begitu banyak orang yang memujaMu, namun begitu banyak juga orang yang meragukanMu?

Sebagian dari mereka bilang Kau itu Maha Kuasa. Sebagian dari mereka bilang Kau itu Sang Pencipta.

Namun mengapa sebagian lagi mempertanyakan keberadaanMu, menyangsikan keabsolutanMu,

bahkan mendustai dan menodai citera dan ceritera -Mu.

 

Kata mereka Kau sosok yang terpuji

Begitu suci dan rendah hati

Tapi, mengapa mereka terus memuji dan mengagungkanMu?

Menjadikan itu sebuah keharusan dan melakukannya tanpa henti setiap hari.

Bukankah.. sosok terpuji yang suci dan rendah hati tak suka untuk dipuji dan ditempatkan begitu tinggi?

 

Tuhan,

Aku tidak tahu.

 

Mengapa banyak sekali inkonsistensi

Inseminasi doktrinasi

Legitimasi ilusi

Mengapa banyak sekali itu ini?

 

Tuhan,

Bukannya aku tak ingin mencari tahu,

Bukannya aku masih terlalu lugu

Bukan pula aku menjadikanMu bak angin lalu

 

Aku bingung

Begitu banyak dengung

Begitu banyak dendang

Bahkan tabuhan genderang perang terkadang begitu lantang menantang

Sesaat menyiratkan terang, membuat melayang

Dan lalu.. jatuh begitu saja ke dalam jurang yang tak berujung

 

Aku bingung

 

Tuhan,

Aku tidak tahu.

 

Beribu deskripsi,

namun bagaimana aku meyakinkan salah satunya adalah benar untuk diriku sendiri?

Berjuta pemberitaan,

namun bagaimana aku membedakan mana yang kebenaran dan mana yang kenistaan?

 

Begitu mahalnya harga sebuah kepercayaan, bahkan tak mampu aku menukarnya dengan masa depan

 

Tuhan,

Aku tidak tahu.

Sungguh, aku tidak tahu.

 

Ragaku begitu kecil,

Imanku begitu kerdil,

Apa yang ingin kulakukan nampak begitu mustahil

Semua usahaku begitu nihil

 

Aku tidak tahu,

Tuhan, aku tidak tahu mengapa aku tidak tahu.

 

Terkadang aku ragu

Diriku begitu lemah dan semakin layu

 

Aku tertatih

Tungkai tungkai ini begitu rapuh

Hati ini tinggal serpih

Aku sering kali letih

Sungguh aku tidak ingin mengeluh walau aku t’lah lelah berpeluh

 

Tuhan, Tuhan, Tuhan..

Aku tidak tahu, benar-benar tidak tahu.

 

Aku hanya terus melangkah walau buta arah

Aku hanya terus bermimpi walau hari silih berganti

 

Cahaya matahari terlalu silau menerangi bumi

Senja pun tak selalu berhiaskan warna warni pelangi

Malam terlalu kelam, cengkramannya begitu mencekam

 

Aku ingin berlari dan melompat lebih tinggi

Kucoba yakini diri, tuk mampu melewati semua ini

Tapi..

Aku begitu bersahabat dengan sepi, begitu erat mendekap sunyi

Merasa asing dan ingin terus berpaling, hanyut dalam denyut tak bertepi

 

Aku terkadang menyangsikan arti sebuah kelahiran

bahkan pernah terbesit keinginan menjemput kematian

 

Kini masih terlalu dini untuk kupungkiri

Pun esok akan terus menjadi misteri tersendiri

Aku dengan ketidaktahuanku mencoba menyerukan namaMu

Kucoba untuk bisa mempercayai keberadaanMu

 

Tuhan,

Aku tak ingin tahta, harta, apalagi kuasa

Aku hanya ingin tahu siapa Engkau sebenarnya

Kurasa hanya itu alasan (masih) kubuka mata pagi ini

Kurasa hanya itu penyebab (masih) kuhirup udara sepanjang hari

 

Ucapku, pikirku, lakuku, nyata namun kian hari kian mengabu

Berselimut debu dalam deru ketidaktahuanku akan segala tentangMu

Bagai diiris sembilu setiap kali hatiku merindu untuk sekedar tahu

 

Tuhan,

Aku tak merasa pantas memohon padaMu.. atau mungkin aku begitu meragukan kuasa pemenuhanMu?

Aku tak merasa layak menjadi alatMu.. atau mungkin aku begitu malas menjadi pelayanMu?

Sebut saja aku fasik!

Aku begitu munafik,

menampik untuk sekedar merasakan besarnya kasihMu.

 

Tuhan,

Kepada siapa aku harus bertanya?

Bagaimana aku harus percaya?

 

Siapa sebenarnya aku?

Untuk apa kelahiranku?

Dan.. kapan malaikat kematian akan datang menjemputku?

 

Duka.. cita.. derita.. bahagia.. semua itu nampak sama di mataku, tak sedikitpun berbeda.

Merasakannya sudah terlalu biasa.. mungkin hanya akan menjadi sia-sia dan binasa begitu saja.

 

Tuhan,

Aku patut kau benci, Kau caci

Hilangkan saja aku dari muka bumi!

Aku begitu egois untuk menyerahkan diriku sepenuhnya padaMu.

Aku manusia yang begitu manusiawi,

yang sadar akan kemanusiaan namun tak pernah memanusiakan diriku sendiri.

 

Tuhan,

Aku ingin sekali bertemu denganmu, namun mengapa begitu sulit

Aku ingin sekali mengenal dirimu, namun jalannya begitu rumit

Pikiran dan hatiku begitu sempit

Setiap kata saling menghimpit dan aku terjepit

 

Aku takut

Tuhan, aku takut.

 

Aku tak ingin terjebak sebelum sempat menjejak

Aku tak ingin beranjak sebelum sempat menjajak

 

Tuhan,

Lihat aku.. dengar aku..

Jadilah ayah bagiku, jadilah ibu bagiku,

mari bersahabat, jadilah kerabat dekatku

Agar aku mampu menyerahkan diriku sepenuhnya padaMu.

 

Tuhan,

Dulu ayah dan ibu mengajarkanku untuk berbincang denganmu lewat apa yang mereka sebut doa.

Waktuku kecil ayah mengajarkan aku untuk menutup kedua bola mataku setiap kali berdoa,

katanya dalam gelap maka Engkau akan mendekap.

Waktuku kecil ibu mengajarkan aku untuk mengaitkan jari-jari mungilku setiap kali berdoa,

katanya semakin erat maka Engkau akan semakin dekat.

 

Seiring bertambahnya usia, semakin dewasa aku malah mempertanyakan pernyataan mereka.

 

Aku memang manusia yang akrab dengan khilaf dan dosa,

namun di dalam hati kecilku, aku selalu ingin bisa percaya padaMu,

seperti ayah dan ibuku mempercayaiMu.

 

Aku ingin bisa menyebut nama mereka di dalam doaku,

seperti mereka selalu menyebut namaku di dalam doa mereka

Tuhan,

Inginku hanya satu.. menjadi seperti yang Kau mau, walau aku.. tidak tahu.

 

Tuhan,

Aku tidak tahu.

Tolong aku, ijinkan aku.. dan ajari aku untuk membuka diri dan hati

Bukan untukku, dan bukan untuk siapa, namun hanya untukMu,

Hanya untukMu saja, yang satu, dan hanya satu-satunya.

 

 

 

 

Jakarta,

dini hari ke tujuh bulan ke sembilan tahun duaribuduabelas,

Suratanku belum tuntas.

Advertisements
Comments
12 Responses to “SEPUCUK SURAT UNTUK TUHAN”
  1. Lots of beneficial in a row. I give rise to bookmarked your place.

  2. akbar says:

    udh di baca anjutanya :D, klo bgtu saya punya 1 pertanyaan untuk kamu, apa kamu selama ini sudah yakin dengan siapa tuhan mu?

  3. akbar says:

    maap baru baca lagi, iy km seperti sedang dalam kebimbangan yang sangat besar, apa si yag jadi masalahmu sekarang

  4. ocitamala says:

    Good release about God, I really appreciate

  5. known anon says:

    Bukan dilangit tertinggi, pun diperut bumi. Didalam diri sendiri.

  6. akbar says:

    curhatan tentang kebenaran adanya tuhan, saya sudah baca semuanya sepertinya kamu sedang mencari dan seperti apa tuhan yang sebenarnya, klo kamu tertarik mari kita diskusi, saya akan cek surat ini terus

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Joan Arae


    "Art is my breath.. As long as I breathe, Art never dies.."

    A young energetic girl who realizes her existence in this world as a human learner and kept asking in her mind "Why I can't stop thinking & doing here?".

    Gonna be on top! ♥

%d bloggers like this: