Aku dan Dia


Aku dan Dia

Aku mencintai dia, aku (seharusnya) memilikinya, namun apa daya jika aku dan dia tiada..

***

Februari, Seribu sembilan ratus sembilan puluh satu.

Aku dan dia mengikat janji sehidup semati. Aku dan dia berjalan beriringan menentang masa depan. Aku dan dia sering kali berlari, kemudian sesaat berhenti, terkadang melompat, juga mengumpat. Aku dan dia, hanya aku dan dia.

***

Juli, Seribu sembilan ratus sembilan puluh tiga.

Aku dan dia terkadang bertengkar, sedikit mengingkar, lalu kembali berusaha saling mendengar. Warna warni bahtera ini. Aku dan dia masih bernyawa dan bersenyawa. Aku dan dia ada cinta di antara. Aku dan dia berbagi, canda tawa, suka ria, duka lara, semua. Aku dan dia, hanya aku dan dia.

***

Januari, Seribu sembilan ratus sembilan puluh empat.

Aku dan dia dilanda bencana. Aku dan dia merapat, menggugat, menjerat. Aku dan dia melarat. Aku dan dia mengais puing-puing semangat, sesekali berujar laknat. Saling damprat. Aku dan dia menuding, menjinjing, dan menodong. Aku dan dia, hanya aku dan dia.

***

Agustus, Seribu sembilan ratus sembilan puluh lima.

Aku dan dia adalah musibah. Aku dan dia saling menuduh. Aku dan dia tak lagi teduh. Aku dan dia melumpuh. Aku dan dia luruh. Aku dan dia melepuh. Aku dan dia lupa akan butuh. Aku dan dia dilanda gemuruh. Aku dan dia mengeluh. Aku dan dia, hanya aku dan dia.

***

Desember, Seribu sembilan ratus sembilan puluh enam.

Aku dan dia meluluh bersama peluh. Aku dan dia berbagi ampun, kembali rimbun. Aku dan dia meneruskan perjalanan, melewati cobaan demi cobaan. Aku dan dia saling berbagi senyuman. Aku dan dia mengukir harapan. Aku dan dia, hanya aku dan dia.

***

Maret, Seribu sembilan ratus sembilan puluh tujuh.

Aku dan dia menikmati indahnya dunia. Aku dan dia melukiskan warna senada. Aku dan dia meniti ruang di angkasa. Aku dan dia melantunkan sanjung puja. Aku dan dia bermandikan cahaya. Aku dan dia melintasi semesta. Aku dan dia berada. Aku dan dia, hanya aku dan dia.

***

Mei, Seribu sembilan ratus Sembilan puluh delapan.

Kerusuhan, perang, penjarahan. Tragedi, ironi. Darah, perpecahan. Peluh, pertempuran. Desah, pengkhianatan. Resah, gelisah, gundah membuncah. Perjuangan, terpaan. Pertentangan, terhunus. Menembus batas. Aku dan dia sudah

tiada.

 

Advertisements
Comments
7 Responses to “Aku dan Dia”
  1. suka, ada irama bunyi yang bermain di sana 🙂

  2. kerytilo says:

    so sad it was not happy ending…..

    however…..I really appreciate and you did something really touchable through your talent to write and write more.
    Congratulation

  3. Adilsonio da Costa says:

    Hi Joan nice to read it, wonderful keep going with your talent as writer.

    regards’

    Adilsonio da Costa
    Coo founder T3 Group-Lengkong Bandung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Joan Arae


    "Art is my breath.. As long as I breathe, Art never dies.."

    A young energetic girl who realizes her existence in this world as a human learner and kept asking in her mind "Why I can't stop thinking & doing here?".

    Gonna be on top! ♥

%d bloggers like this: