Renungan Kematian


Tujuh belas menuju delapan belas maret dua ribu sebelas.

 

 

Aku berfikir tentang kematian.

Sejenak terdiam, dan tak lama kemudian mulai tenggelam.

Tenggelam dalam kelam malam yang kian menghitam.

Menghitam,

hingga murampun menjadi begitu buram.

 

Mulutku bungkam,

Memandangi langit yang penuh lebam.

 

 

Diam

dan kali ini nyaris temaram.

 

 

Kematian?

 

 

Lagi-lagi aku diam.

 

Aku pernah merasakan ketakutan itu,

ketakutkan kalau kalau ia datang dan menarik paksa lenganku.

 

Tapi setelah bertahun menjalani kehidupan,

semua ketakutan itu sirna,

direnggut oleh sang pembuka takbir kelahiran,

dan seketika semua menjadi berbeda.

 

***

 

Kutuangkan cairan pikirku ke dalam beberapa penggalan kalimat di akun twitterku malam itu.

 

 

@jooaan : Tragis, saat ini kematian menjadi faktualitas dan kehilangan maknanya sebagai faktisitas.

 

@jooaan : Pengalaman manusiawi terkait ‘kehidupan’ sudah terreduksi dominasi paradigma saintifik, semacam ‘krisis pengetahuan’ menurut istilah Husserl.

 

@jooaan : Bicara tentang kematian sama halnya dengan mengontraskan paradigma yang bertentangan. Tak ada paradoks.

 

@jooaan : Bukan sekedar teknologi yang mengubah faktisitas kematian menjadi faktualitas. Ideologi yang inhuman juga berperan melakukan itu.

 

@jooaan : Bagi saya, kematian bukan suatu ketakutan, melainkan sebuah jembatan. Begitu bermakna untuk kemudian dicari tahu bagaimana cara menikmatinya.

 

@jooaan : Kematian saat ini layaknya bercinta, seringnya dibincangkan namun kurang dipersiapkan. Mengurangi kenikmatan yang seharusnya didapatkan.

 

 

Saya mencoba melakukan distansiasi untuk mengasah naluri dalam diri, mencari dasar epistemologi tentang kematian serta relevansi eksistensialnya. Gagasan ranah pemikiran the thought, the unthought, & the unthinkable menjadi bahan kajian di saat saya mencoba berdamai dengan Epicurus dan para pemikir Stoa. Dua aporian kematian yang saya jumpai, yaitu bicara kematian secara a priori, dan keberadaan sebagai makhluk mengada. Saya mencoba berbicara secara a priori, dimana nyatanya secara a posteriori belum  saya lewati, ya semacam proses mengada pada yang meniada.

 

Saya mencoba merestorasi dengan filsafat eksistensial, mencoba melihat pengalaman hayati yang unik seperti kematian dengan intensionalitas. Saya tak memberi jarak secara hermeneutis, perlahan menghanyutkan diri dalam realitas demi intisari secara manusiawi. Saya bukan mengkaji dari saintifik medis biologis fisikal. Bagi saya, metode Existenzphilosophie atau Lebenphilosophie yang berangkat dari ontologi adalah yang paling dekat untuk memikirkan tentang kematian. Saya menjadikan kematian metafor.

 

Stalin dlm pidatonya pernah berujar “a single death is a tragedy, a million death is a statistic”. Dan menjadi sebuah kebutuhan bagi saya untuk mempelajari filosofis kematian, yang tak lain untuk berdamai dengan kematian itu sendiri.  Cepat atau lambat kita semua akan mati, tapi siapakah di sini yang benar-benar tahu bagaimana ia akan mati? Ada konstitusi tertinggi dalam aturan kehidupan, yang tidak semua mengerti tapi pasti semua alami. Sebuah akan bagi saya untuk belajar lebih banyak lagi, terkait tractatus philosophico necro ontologicus hingga akhirnya kematian pun menjemput saya nanti.

 

***

 

Ada sensasi tersendiri dalam keheningan absolut diri yang kurasakan saat itu. Kucatat baik-baik dalam hati titik-titik kenyataan dalam garis-garis hukumnya yang terikuti. Aku mengajak maut untuk memilih, menjadi sahabatku atau ia hanya akan kujadikan sebuah sambut tak patut. Kubiarkan ia memilih. Ya, aku sadar, karena aku yang terpilih.

 

Aku ingin hidup sampai seribu tahun lagi!

 

Dan kematian adalah satu-satunya yang harus kuajak berdamai saat ini. Kuredam gejolak demi kesabaran, demi merancang benteng terakhir untuk saat ketika harus kehilangan sesuatu yang sangat berharga nanti.

 

Aku butuh belajar lebih lagi! Aku tidak ingin berhenti!

 

Sebelum sang fajar kembali mendekapku tak wajar, kututup hari dengan mengucap salam rindu pada DIA yang mewarisi segala yang hidup di dalam aku. Sesungguhnya aku ingin sekali berjumpa denganMu yang suatu hari nanti juga pasti akan menjemputku, aku ingin sekedar melihat rupaMu dan menitipkan salam untuk mereka-ku yang telah Kau jemput lebih dulu. Terimakasih Kau yang kusebut Tuhan, atas kebangkitan setelah keterpurukan dan pengangkatan untuk kemenangan.

 

Kehidupan lahir dengan ketidakpastian, sementara kematian hadir dengan kepastian. Maka dengan lantang ucapkanlah selamat datang pada sang penjawab tuntutan, kawan!

 

***

 

Diri dan pikiran adalah dua hal yang berbeda. Diri menggunakan pikiran namun pikiran bukanlah diri. Diri adalah sebuah kesadaran yang menggunakan pikiran sebagai alat untuk menghasilkan buah pikir.

 

***

 

Salam peluk, dunia teluk. Ajari aku lebih banyak lagi hal, agar aku tidak menjadi lebih buruk. Please love me like You always do in every sigh of my breath, God.

***

 

Renungan kematian-ku ini belum selesai

 

 

 

Advertisements
Comments
22 Responses to “Renungan Kematian”
  1. helga says:

    good writing Jo!

  2. Aku butuh belajar lebih lagi! Aku tidak ingin berhenti!
    Terimakasih Kau yang kusebut Tuhan, atas kebangkitan setelah keterpurukan dan pengangkatan untuk kemenangan.

    like it and agreed! : )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Joan Arae


    "Art is my breath.. As long as I breathe, Art never dies.."

    A young energetic girl who realizes her existence in this world as a human learner and kept asking in her mind "Why I can't stop thinking & doing here?".

    Gonna be on top! ♥

%d bloggers like this: