Insiden-Insiden yang Menjadi Tren


Tulisan ini merupakan kelanjutan dari tulisan saya sebelumnya yang berjudul Bisik Dibalik Cikeusik.

Saya ingin mengucapkan terimakasih kepada seluruh rekan-rekan yang telah menyempatkan membaca dan berbagi pandangan pada tulisan saya sebelumnya.  Saya sangat mengapresiasi semangat positif rekan-rekan sekalian untuk melakukan pembenahan terhadap insiden-insiden yang mengatasnamakan dan menimbulkan perpecahan agama akhir-akhir ini. Sayapun sangat menyadari keterbatasan akan kemampuan dan kapasitas diri yang pada akhirnya menjadi kendala, tapi hal tersebut dapat saya pastikan tidak akan menyurutkan semangat saya dan membuat saya menjadi tidak peduli terhadap apa yang terjadi di Negara tempat saya dilahirkan ini. Melalui tulisan saya kali ini, saya ingin mengajak rekan-rekan sekalian yang juga peduli untuk bersama-sama berbagi lebih banyak data dan fakta agar selanjutnya dapat kita analisa. Agar tidak semata-mata membuat keputusan yang prematur untuk melakukan sebuah pergerakan atau mungkin sekedar membuat stigma di dalam pikiran.

Beberapa petisi sempat dilayangkan oleh pihak masyarakat terhadap pemerintah, namun apakah petisi tersebut mendapatkan tanggapan yang sesuai harapan? Sampai saat inipun belum ada kejelasan, yang ada hanya saling lempar ultimatum dan berbagi kecaman. Beberapa petisi yang sempat saya baca, kurang lebih isinya mengenai solidaritas kepada umat beragama di Indonesia, serta sikap masyarakat demokratik, pluralis, dan humanis atas penyerangan dan korban-korban pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan. Inti yang saya tangkap dari petisi-petisi tersebut adalah ajakan untuk menggugat bersama, dan petisi tersebut ditembuskan ke pihak-pihak sbb : Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono; Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, Marzuki Alie; Kepala Kepolisian Republik Indonesia, Jenderal Timur Pradopo; Panglima Tentara Nasional Indonesia, Laksamana Agus Suhartono; Pimpinan instansi-instansi intelejen negara Republik Indonesia;  Seluruh Gubernur di Indonesia; Ketua Majelis Ulama Indonesia, Slamet Effendy Yusuf; Pimpinan Nahdatul Ulama dan Muhammadiyah; Pimpinan Persatuan Umat Islam, Gerakan Reformasi Islam, Front Pembela Islam, Hizbut Tahrir Indonesia, dan kelompok pendukung pembubaran Ahmadiyah lainnya; Rekan-rekan Pers di seluruh Indonesia; dan juga bahkan kepada Masyarakat Internasional.

Untuk saat ini, menurut saya hanya hipotesis yang memungkinkan untuk kita prediksikan. Ya, memang mungkin tidak sedikit kejanggalan yang kita temukan di setiap insiden. Tapi alangkah baiknya jika kita tidak lekas membuat suatu kesimpulan dan melakukan penghakiman. Kita sebagai bagian dari masyarakat di Negara hukum ini tidak secara langsung memiliki hak untuk mengadili, kita telah mempercayakan kewenangan itu kepada perwakilan-perwakilan kita yang menduduki kursi pimpinan pemerintahan yang juga manusia biasa yang tidak lepas dari kekhilafan.  Oleh karna itu, mari secara perlahan tapi pasti kita saling mengingatkan satu sama lain untuk melakukan pembenahan secara menyeluruh yang dapat memberikan dampak konstruktif terhadap tanah air kita dengan cara yang tepat. Ada banyak jalur untuk menyampaikan pendapat kita secara efektif, positif, dan konstruktif, tentunya dengan terlebih dahulu kita menyadari keberadaan statuta dan posisi kita.

Saat ini yang terfikirkan oleh saya adalah jika memungkinkan mengapa kita tidak mengadakan diskusi terbuka dengan perwakilan dari setiap lapisan masyarakat yang mampu berdiskusi dan memberikan keterbukaan pemikiran untuk menerima perbedaan yang ada dan menyampaikan pendapat? Mungkin bisa dimulai dari lingkup terkecil dalam lingkungan tempat kita bernaung, misalnya kampus. Kita bisa berbagi pandangan dan saling memperluas jangkauan, kemudian hasilnya bisa kita utarakan ke pihak yang berwenang, pastikan kita melakukannya atas dasar niatan baik dan bentuk rasa cinta tanah air serta kepedulian kita terhadap nusa dan bangsa.

***

Kembali mengenai permasalahan agama, menurut saya, persoalan terkait agama seharusnya dipisahkan dari kepentingan apapun juga. Agama merupakan privasi individu yang tidak dapat diganggu gugat, bahkan hingga saat ini konstitusi yang berlaku di Negara kita masih mengakomodir kebebasan untuk memeluk agama dan beribadah sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing. Pada kenyataannya memang di luar sana masih banyak saudara-saudara kita yang mungkin saja lupa atau mengalami disorientasi paradigma, hal ini salah satunya disebabkan oleh kurangnya pengetahuan. Apa yang mereka butuhkan saat ini adalah masukan yang berarti dan bermanfaat untuk kemudian disikapi sehingga tidak mudah terprovokasi. Jadi mari kita yang masih mampu berfikir secara jernih mencoba mengakomodir kebutuhan itu guna pembangunan berkelanjutan ke arah yang positif di Negera kita ini. Menumbuhkan sifat solutif yang sinergis akan memberikan dampak positif yang lebih signifikan dibanding sikap provokatif fanatis yang sangat mungkin membawa kita kepada permasalahan yang lebih dan semakin besar lagi.

Jikalaupun memang sekiranya dirasa ada motif kepentingan dari pihak-pihak tertentu dibalik semua insiden di Negara kita ini, mari bersama kita dengan kepala dingin mencari solusi untuk kepentingan bersama dan demi kesejahteraan bersama seluruh masyarakat Indonesia. Mari optimis bahwa kita pasti bisa membawa semua ini ke arah perubahan yang positif dan konstruktif.

***

Informasi perkembangan insiden :

  1. 1. Insiden di Cikeusik

–          Tersangka dari pihak warga Cikeusik kini berjumlah delapan orang. Direktur I Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri, Brigjen Agung Sabar Santoso belum bersedia menyebutkan identitas delapan orang tersangka tersebut.

–          Polisi sampai saat ini juga masih belum bersedia angkat bicara mengenai status Deden Sudjana yang ternyata juga menjabat sebagai Kepala Keamanan Nasional Jamaah Ahmadiyah Indonesia (JAI), yang menjadi pemimpin rombongan jemaah Ahmadiyah dari Jakarta ke Cikeusik.

–          Tim Pengacara Muslim (TPM), pengacara tersangka kasus penyerangan Ahmadiyah di Cikeusik, Pandeglang, Banten menyatakan adanya pemutarbalikan fakta dalam rekaman video yang beredar dan tidak setuju kasus di Cikeusik dinilai sebagai penyerangan.

–          Mahendradatta dari TPM mengatakan bahwa bentrokan dimulai ketika Suparta (warga Cikeusik) ingin berdialog dengan warga Ahmadiyah, lalu tangannya dibacok dengan pedang, dan Ujang (tersangka, yang juga adik dari Suparta) tidak terima, hingga akhirnya terjadi bentrokan.

–          TPM juga mendalami video penyerangan yang tersebar, termasuk misteri identitas si pemberi salam tabik. Setelah diricek, di Desa Cikeusik, Cigeulis, Cibaliyung dan Panimbang, ternyata tidak ada satupun warga desa yang kenal dengan pemberi salam yang ditujukan pada perekam.

–          Rabu (16/2), Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), Abdul Haris Semendawai, menyatakan lembaganya berpeluang melindungi penganut Ahmadiyah. LPSK juga telah menerima permohonan perlindungan dari inisial A, perekam video penyerangan Ahmadiyah yang juga mengaku sebagai anggota jemaat Ahmadiyah dibawah pimpinan Deden Sujana di Cikeusik, Banten. Status perlindungan saat ini adalah sementara.

* Sumber : Tempo Interaktif, Republika Jakarta, dan AM. Waskito (penulis buku Islam yang berdomisili di Bandung).

  1. 2. Insiden di Temanggung

–          Selasa, 08 Februari 2011 telah terjadi kerusuhan di Temanggung karena masa yang tidak puas akan keputusan sidang perkara penistaan agama dengan terdakwa A Richmon B di PN Temanggung, Jawa Tengah.

–          Kronologis kerusuhan Temanggung : sesaat setelah jaksa penuntut umum membacakan tuntutan 5 tahun untuk terdakwa Antonius, massa langsung menyerbu terdakwa dan meja sidang. Segera setelah itu, majelis hakim diamankan dan dilarikan ke luar ruang sidang. Massa di luar mengamuk, memecahkan kaca-kaca jendela, dan membakar kendaraan yang ada di sekitar gedung pengadilan.

–          Gereja Bethel Indonesia yang berjarak sekitar dua kilometer dari PN Temanggung mengalami kerusakan akibat pembakaran oleh kelompok massa tersebut.

–          Bangunan sekolah taman kanak-kanak di lingkungan gereja terbakar pada sejumlah bagian, termasuk enam unit motor juga hangus terbakar.

–          Pembakaran juga terjadi di lokasi lain yakni di Gereja Pantekosta Temanggung, dan sampai saat ini belum diperoleh laporan mengenai dampak pembakaran di gereja tersebut.

–          Bagian depan Gereja Katolik Santo Petrus dan Paulus juga rusak dilempari batu oleh massa.

–          Kiai NU dan Muhammadiyah serta ormas-ormas Islam yang tergabung dalam Forum Umat Islam Bersatu (FUIB) Temanggung mendesak Kapolda Jawa Tengah agar membebaskan semua terdakwa yang kini mendekam di Mapolda, termasuk Kiai Syihabudin dan K Lutfi.

–          Pernyataan bahwa terdakwa tidak bersalah dan hanya sebagai korban perilaku Antonius Richmond Bawengan, terpidana kasus panistaan agama disampaikan dalam sitalurahmi para kiai dan tokoh-tokoh agama di lingkungan NU dan Muhammadiyah serta ormas-ormas Islam yang tergabung dalam FUIB di Ponpes Watugede, Joho, Temanggung pimpinan KH Isa Bchri, Kamis (17/2).

* Sumber : MetroTV News dan Republika Online Breaking News.

  1. 3. Insiden di Pasuruan

–          Selasa (15/2) terjadi penyerangan Pesantren Yayasan Agama Islam (Yapi) Bangil Pasuruan merupakan peristiwa kekerasan yang mengatasnamakan agama.

–          Penyerangan terjadi saat sejumlah seratusan orang tak dikenal menyerang Pondok Pesantren Al Ma’hadul Islam Yayasan Pesantren Islam (YAPI) di Bangil, Pasuruan, Jawa Timur.

–          Menurut informasi dari pimpinan pondok pesantren, yakni Habib Ali bin Umar dugaan pelaku penyerangan mengatasnamakan Aswaja dengan melihat dari pakaian dan bendera mereka.

–          Penyerangan tersebut bukanlah yang pertama sejak tiga tahun lalu. Pondok pesantren tersebut telah  beberapa kali mendapat serangan di malam hari dengan lemparan telur.

–          Serangan dilakukan siang hari, pukul 14.15, dengan menggunakan motor dari arah Pandaan.

–          Kepala Bagian Penerangan Umum (Kabag Penum) Polri, Kombes Pol Boy Rafli Amar menyatakan bahwa Kepolisian RI saat ini sudah menahan enam tersangka dan memeriksa 33 saksi.

–          YAPI adalah salah satu dari yayasan yang berada di bawah Ahlul Bait Indonesia. Ketua Ahlul Bait, Hasan Alaydrus, telah menyebut nama Thohir Alkaf sebagai provokator yang menghasut massa untuk melakukan tindak kekerasan, namun saat ini Thohir Alkaf belum masuk dalam daftar tahanan.

–          Hasan sempat mendatangi Bareskrim Polri dengan membawa data berupa rekaman CCTV, rekaman telepon seluler, bendera dan bambu yang dibawa penyerang, juga barang bukti berupa KTP yang terjatuh saat penyerang kabur.

–          Polri masih melakukan pendekatan antartokoh agama yang difasilitasi pejabat Muspida Pasuruan.

–          Ada delapan korban akibat penyerangan tersebut, yakni Muhammad Abufadl Abbas Baragbah, Ahmad Miqdad al Hadar, Ali Reza, Abu Bakar Alaydrus, Muchdar, Misbah, Sya’roni dan Shoir.

–          Kepala Polda Jawa Timur, Irjen Badroddin Haiti, mengatakan tersangka penyerangan pondok pesantren Al Ma’hadul Islam Pasuruan akan dikenakan Pasal 170 dan 160 KUHP tentang Pengrusakan dan Penghasutan.

* Sumber : Republika Jakarta.

***

Beberapa hal yang menurut saya perlu kita analisa lebih mendalam, di antaranya adalah :

  1. Kerusuhan di Cikeusik tidak terjadi secara spontan tapi berproses, memakan waktu sampai mencapai titik klimaks. Beberapa bulan sebelum kejadian, sudah ada pemanasan situasi ke arah kerusuhan. Sedangkan kerusuhan anarkis biasanya cenderung terjadi secara insidental, seperti kasus tawuran dengan jamaah HKBP di Ciketing beberapa waktu lalu.
  2. Dalam kerusuhan Cikeusik, pihak Ahmadiyah sudah mempersiapkan diri dengan mendatangkan bantuan tenaga dari Jakarta dan Bogor, di rumah Suparman tempat terjadinya kerusuhan pun didapati banyak senjata-senjata tajam.
  3. Salah satu anggota dari pihak Ahmadiyah yang kemudian berlindung di bawah LPSK adalah peliput gambar dari berbagai sisi, baik meliput pihak Ahmadiyah maupun warga anti Ahmadiyah.
  4. Yang menarik dari hasil rekaman adalah : video tersebut dibuat dengan tidak ada rasa ketakutan, angle-anglenya bersifat tendensius, dan pada klip M2U02093.MPG menit ke 3:09 tampak jelas seorang penyerbu berjaket kulit hitam berpeci putih dengan pita biru di dadanya seusai melempar batu melintas dekat si perekam, lantas berhenti dan memberikan salam dengan mengatupkan kedua tapak tangan di dada sambil mengucapkan sesuatu. Apa yang diucapkan tidak terdengar jelas, terredam oleh suara teriakan massa yang sedang menyerbu rumah jemaah Ahmadiyah. Lalu si penyerbu tersebut tersenyum sebelum akhirnya pergi. Yang menjadi pertanyaan adalah, mengapa si penyerbu itu memberi salam kepada si perekam? Banyak orang lain di lokasi yang merekam dengan ponsel, tapi tidak diberikan perlakuan khusus seperti ini.
  5. Roy Suryo, seorang pakar infromatika, multimedia, dan telematika pun merasa heran, ia mempertanyakan bagaimana pihak penyerang dapat memberi salam kepada kameramen seakan antara penyerang dan kameramen sudah tahu sama tahu?
  6. Para penyerang dari pihak anti Ahmadiyah memakai tanda berupa pita. Ada pita biru, ada pita hijau, juga pita kuning. Hal ini cukup menjelaskan bahwa pihak penyerang sudah dipersiapkan.
  7. Meskipun Polisi dalam hal ini tidak bertindak seperti Densus88, tetapi mereka melakukan peran mereka perlu dipertanyakan. Dalam video yang tersebar, jelas terlihat bahwa Polisi tidak berbuat apapun untuk menyelematkan rumah Suparman dan penghuninya.
  8. Kerusuhan di Temanggung juga tidak spontan terjadi. Proses persidangan yang sudah dimulai dari Oktober 2010 ini memang sudah memiliki potensi konflik yang nyata sejak awal.
  9. Banyak saksi mata melihat perusuh mengenakan jubah, kopiah, baju koko, dll. Tetapi ketika melarikan diri, mereka melepas jubah, lalu lari dengan baju mereka sebelumnya.
  10. Massa perusuh di depan PN Temanggung masih bersikap anarkis padahal sudah mendengar bahwa terdakwa dalam sidang di PN tersebut sudah dihukum maksimal 5 tahun.
  11. Pada video yang tersebar terlihat bahwa pihak Polisi lagi-lagi cenderung mendiamkan, tidak bertindak cepat meredakan kerusuhan. Fakta paling nyata adalah ketika perusuh hendak menggulingkan truk Dalmas milik Polisi, puluhan Polisi melihat kejadian itu dalam jarak sekitar 100 m, tetapi tidak ada upaya menggagalkan pengerusakan.

***

Bambang Soesatyo, salah seorang anggota DPR RI mensinyalir kedua kerusuhan itu sengaja dibuat dengan menumpang isu pertikaian agama. Mahendradata dari Tim Pembela Muslim juga mengatakan demikian. Komnas HAM pun mengakui bahwa ada rekayasa dalam kedua kerusuhan itu. Dan menurut analisa pribadi saya, pada kejadian tersebut terdapat provokasi, penjebakan, perekaman kejadian, pembentukan opini secara massif, lalu berujung pada tuntutan yang lebih mengarah pada penghakiman terhadap pihak-pihak tertentu.

Mungkin pertanyaan kita selanjutnya adalah, siapa yang merekayasa dan untuk apa?

Inilah yang menjadi tujuan saya menuliskan tulisan ini yang telah saya nyatakan sebelumnya, yaitu mengajak rekan-rekan sekalian yang juga peduli untuk bersama-sama mengumpulkan lebih banyak data dan fakta agar selanjutnya kita dapat melakukan analisa yang lebih mendalam. Adalah percuma mengambil keputusan yang prematur tanpa pertimbangan yang berdasar, karena hal tersebut dapat melahirkan stigma-stigma baru di dalam pikiran kita yang dapat memberikan pengaruh kepada lingkungan sekitar dan secara sadar maupun tidak sadar dapat mengakibatkan terulangnya insiden-insiden serupa yang mengatas namakan agama serta menimbulkan perpecahan di atas tanah pertiwi ini.

Alangkah bijaknya ketika intelektualitas serta integritas kita jadikan prioritas untuk menjunjung tinggi objektivitas dalam melakukan analisis dan pengutaraan hipotesis. Dan bagi pihak-pihak yang sekiranya memiliki kesempatan untuk melakukan rekonstruksi berupa diskusi terbuka terkait penyusunan kasus posisi insiden-insiden tersebut, lakukanlah selagi masih ada kesempatan, tidak ada kata terlambat.

***

Menurut saya, sebagai bangsa yang bhineka, perbedaan seharusnya dijadikan penghargaan, bukan untuk diperdebatkan, apalagi semata untuk memenangkan kepentingan golongan. Dalam kasus ini, tentunya ada pihak-pihak yang benar-benar tahu dan ada juga pihak-pihak yang benar-benar tidak tahu. Dan kita, apakah kita masuk ke dalam salah satu klasifikasi? Kita yang menentukan. Sudah sepatutnya kita menyadari bahwa kita saat ini masih memiliki peluang untuk menjadikan bangsa ini lebih baik lagi. Apakah kita mau memilih untuk tetap diam dan berdiri di area abu-abu? Berpura-pura tidak tahu atau bahkan tidak mau tahu hanya karena pesimis, merasa tidak akan didengarkan apalagi dapat membawa perubahan yang berarti?

Ketika justifikasi dipertemukan dengan realitas dan pandangan hidup, lalu apakah kita mau membiarkan relevansi kepentingan menjadi dikuatkan? Moral yang tercela disanjung puja, sementara hati yang terluka dibiarkan tergeletak, apakah kita masih memilih untuk acuh? Apa pantas kita merasa bahagia dan lantang teriak merdeka, ketika nyatanya kita punya andil sebagai salah satu pencipta neraka dunia? Diam dan terbuai manja pada hiburan yang sudah menjamur dengan gemerlap fatamorgana tanpa muatan nilai-nilai, apakah kita bangga memilih untuk bungkam?

Perjuangan yang pernah terjadi pada masa lampau apakah hanya untuk dijadikan lukisan di atas prasasti sejarah? Darah dan daging yang dikorbankan untuk kita bisa diakui menjadi sebuah bangsa apakah sudah sebegitu tidak berartinya saat ini? Apakah kita tega membiarkan sesama tenggelam dalam belenggu zolimi zaman? Apakah semangat kemerdekaan memang sudah luntur? Bukankah moralitas kita malah menjadi sama dengan mereka yang kita caci, jika kita terus berdiam diri?

Kita masih bernyawa, kita masih berbekal akal budi, kita ini makhluk yang tercipta lebih sempurna dibanding hewan dan tumbuhan, kita dapat melakukan banyak hal, sangat banyak. Asal kita punya kemauan, asal kita rela untuk berkorban. Selama konstitusi masih wajib untuk kita junjung tinggi, hak asasi dan harga diri bangsa ini patut kita perjuangkan sampai mati!

Salam sejahtera, Indonesia! Semoga kita semua dapat benar-benar merasakan bahagia dari arti kata merdeka. Mari berbuat, mari bagikan semangat, dan mari hidupkan kembali nilai-nilai sebagai bangsa yang bermartabat! Mari berbagi pendapat agar kita tidak tersesat dan dapat saling mengingatkan tentang apa yang dapat kita perbuat sesuai dengan kapasitas diri kita dalam kehidupan bermasyarakat.

***

Menutup mata bukan berarti buta, menutup telinga dan membiarkan hati angkat bicara adalah bagian dari diri saya yang paling saya cintai, dan tulisan ini pun akhirnya saya akhiri sampai di sini.

Semoga bermanfaat bagi jiwa yang masih bernyawa dan merasa rindu bersatu di tanah air kita, Indonesia.

Advertisements
Comments
12 Responses to “Insiden-Insiden yang Menjadi Tren”
  1. Galih says:

    Ost nya ini nihhhh ^_^

    • Joan Arae says:

      Terimakasih banyak untuk Ost nya yaa, Galih..
      Terimakasih atas rasa yang kamu tambahkan pada ungkapanku..

      Mari terus berkarya dan semoga kita bisa terus menebarkan cinta untuk bangsa
      Menginspirasi sesama lewat sentuhan karya 🙂

  2. anez says:

    Mungkin jelasnya sih bisa dikatakan ini pembantaian ya ketimbang sebuah bentrokan.dimana saat kejadian tersebut jumlah massa yang banyak dan sulit dikendalikan membbuat polisi tidak bisa berbuat apa-apa.Dan ini tentu akan menimbulkan beragam tanggapan.Dan saya yakin bahwa ada versi lain dibalik suatu peristiwa.

    Betapa biadabnya orang-orang yang mengaku mempunyai agama. Meraka merasa bahwa merekalah Tuhan, merekalah yang berhak menghukum siapa saja yang salah, siapa yang boleh hidup,siapa yang sesat, siapa yang muslim, dan bahkan ironisnya mereka pula yang menentukan siapa yang harus mati! Luar biasa!!

    Hukum memang harus selalu ditegakkan!
    Saya dan seluruh rakyat indonesia pastinya sangat berharap untuk bangsa ini,para penegak hukum agar dapat melakukan pekerjaanya dengan baik,menjalankan amanat dengan sempurna.. amin.

    • Joan Arae says:

      Amiiinn.. Terimakasih atas semangat dan perhatiannya.. Mari kita berbuat lebih banyak hal untuk negara ini.. Dengan memulai dari diri kita sendiri lalu mengajak keluarga, serta teman-teman di sekitar kita untuk bisa lebih jernih dalam melihat segala sesuatu hal yang dipertontonkan di depan lensa kita. Tidak mudah terprovokasi dan bisa saling menghargai antar sesama.

      Agama bukanlah sesuatu yang seharusnya kita perdebatkan, antara anggapan sakral, mahal, atau sebagainya biarlah menjadi anggapan masing-masing dari kita sesuai dengan pengalaman yang kita imani bersama DIA, dan alangkah indahnya jika kita juga bisa menghargai sesama walaupun ia melihat dari sudut yang berbeda, dan berdiri pada sisi yang tak sama.

      Karena sesungguhnya kita semua sebagai sesama manusia tidak memiliki hak untuk memaksakan kehendak, apalagi kepercayaan terhadap sesama kita sendiri. Sebagai sesama manusia, kita duduk pada strata yang sama, diri kita sepenuhNYA mutlak milik DIA dan hanya DIA satu-satunya yang memiliki hak penuh untuk memberikan penghakiman pada kita, makhluk ciptaanNYA. 🙂

      Semoga setiap dari kita dapat menjalankan fungsi tugas dan tanggung jawab kita dengan sebaik-baiknya dan tidak melampaui batas kewenangan apalagi sampai merebut hak dari sesama kita. Amiiinnn…

      Mari kita pertahankan selalu semangat positif dan konstruktif kita untuk bangsa yang merdeka, berdaulat, satu, adil dan makmur ini, bersama selalu, ka 🙂 🙂 🙂

  3. bam says:

    Buah pikir yang cemerlang Jo.
    Untuk saya semua analisis mu mengarah pada satu konklusi:

    Selalu ada konspirasi-konspirasi besar yang mengiringi sebuah negara untuk memiliki karakter

    Pendapat saya tentang insiden SARA yang terjadi adalah itu semua murni sebuah bagian dari rekayasa besar.

    Indonesia banyak didera masalah yang dapat terbaca bahwa satu masalah menutupi masalah lainnya, mengalihkan dari masalah sebelumnya. Tapi seiring berjalannya masalah demi masalah, dapat terlihat kedewasaan dari masing-masing elemen negara, bagaimana setiap pemikiran dari teruna muda bangsa bisa dipaparkan, salah satunya pemikiran mu diatas.

    Adalah hal yang baik mengetahui banyak generasi muda yang kini membuka mata atas negara mereka, banyak pemikiran yang berloncatan berkenaan dengan SARA, hak mengenai informasi, pengelolaan uang negara, dan bahkan tentang produksi garam dalam negeri.

    Banyak luka tetapi Indonesia mengarah pada kebaikan, tetap teriakan setiap pemikiran Jo.

    • Joan Arae says:

      Terimakasih banyak kak atas apresiasinya terhadap tulisanku ini 🙂

      Konspirasi yang dikukuhkan oleh spekulasi membentuk karakter sesuai mereka yang mendalangi. Sang perekayasa mungkin terlalu mendalami esensi dari istilah ‘Dunia ini adalah panggung sandiwara” sampai harus membuat suatu perekayasaan sistem termasuk peristiwa-peristiwa yang ingin ia mainkan ceritanya. Entah terlalu harafiah atau justru malah interpretasipun disandiwarakan olehnya.

      Pengalihan isu menjadi tren tersendiri, terutama akhir-akhir ini, mungkin tujuannya untuk menutupi kejanggalan-kejanggalan yang ditangkap oleh pihak-pihak pengamat. Sayangnya trik-trik yang mereka gunakan terlalu basi, walaupun masih saja banyak yang terprovokasi. Mungkin masih perlu diedukasi atau mungkin sengaja tidak mau peduli karena lebih senang dan merasa akan tenang berada di ranah abu-abu.

      Semoga tulisanku setidaknya bisa mengingatkan untuk peduli, dan sangat bersyukur jika bisa menginspirasi untuk berfikir lebih jernih dan bersama-sama mencanangkan pembangunan-pembangunan yang positif untuk negeri ini.

      Terimakasih banyak atas apresiasi dan dukungannya kakak yang selalu diberikan cuma-cuma untukku yaa 🙂

  4. musaAngelo says:

    dalam masalah seperti ini (SARA), aku rasa ini memang rekayasa, sperti yg dijelaskan bahwa tragedi yg terjadi di cikeusik ini 100% provokasi dari orang dalam (Ahmadiyah).
    sedangkan masalah temanggung itu merupakan sengketa tanah antara kedua belah pihak.

    tapi yg jelas kita sebagai generasi pancasila harus menjaga kerukunan antar dan inter Agama.
    kedewasaan, kebijakan, dan kesabaran merupakan landasan utama untuk menyelesaikan konflik yg terjadi saat ini.

    aku hanya bisa berdoa saja agar perpecahan antar dan intern agama tidak terulang lagi tuk sekian kali.
    btw, good analysis, joo. i like it 🙂

    • Joan Arae says:

      Kepastian akan apa yang sebenarnya terjadi dibalik insiden-insiden yang marak di tanah air masih sangat sulit untuk diberikan judgement menurutku, karena masih banyak fakta yang disimpan, data yang dihilangkan, serta isu-isu yang secara sengaja dipermainkan oleh pihak-pihak yang berkepentingan.

      Ya, setuju terkait menjaga kerukunan. Sedikit aku tambahkan, terutama kerukunan yang terbangun atas kesadaran sebagai saudara sebangsa dan setanah air. Ada baiknya para kaum cendekia menjenguk kembali esensi dari paham sekularisme, karena menurut pendapatku paham tersebut relevan untuk diberlakukan.

      Terimakasih atas apresiasinya ya ka 🙂 Mari berbuat untuk bangsa!

  5. Dimas says:

    good analisis. tapi sebelum sampai pada fase itu, ada kalanya kita berangkat pada konflik-konflik sebelumnya, mengapa demikian?
    1. apakah konflik – konflik yg terjadi saling integrated?
    2. apakah konflik yg terjadi merupakan Gran desain oknum tertentu sebagai manuver politik?
    3. adakah para elite politik yg terlibat di dalamnya?
    4. mengapa konflik tentang SARA tak kunjung berhenti?? seakan konflik ini silih berganti menunggu gilirannya?

    • Joan Arae says:

      Yups, sejarah bukan untuk dijajah melainkan untuk dijelajah guna mengumpulkan data-data dan fakta-fakta untuk memperluas jangkauan pandangan, memberikan batasan toleransi, dan membuat prediksi untuk merampungkan sebuah perencanaan matang kebijakan dan tindakan yang akan dieksekusi.

      Peristiwa yang terjadi sejak dulu hingga kini adalah sebuah rangkaian cerita, perlu ditelaah lebih mendalam tentang scene-scene yang saling terkait agar tidak mengakibatkan lahirnya peristiwa-peristiwa baru yang serupa atau bahkan sama hanya karena pemahaman yang prematur.

      Terimakasih banyak atas apresiasinya terhadap buah pemikiran aku ya.. 🙂

  6. conrad says:

    pedoman yang pasti adalah, seperti semboyan yang pernah kita buat pada tahun 1998 yang lalu :

    “Nurani jangan Mati”

    • Joan Arae says:

      Setuju kak.. kalau nurani tak diijinkan bicara sama saja dengan meregang nyawa. Hidup dan perjuangan untuk bertahan hanya menjadi sebuah cerita basi yang tercecer di tanah pertiwi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Joan Arae


    "Art is my breath.. As long as I breathe, Art never dies.."

    A young energetic girl who realizes her existence in this world as a human learner and kept asking in her mind "Why I can't stop thinking & doing here?".

    Gonna be on top! ♥

%d bloggers like this: