Bisik dibalik Cikeusik


Tragedi kerusuhan Ahmadiyah di Cikeusik Pandeglang-Banten, 04 Februari 2011.

3 korban jiwa tewas, 6 luka berat, 1 motor dan 3 mobil terbakar, 1 rumah hancur.

 

Seperti malam-malam sebelumnya, saya duduk manis di depan layar kaca sambil menyelesaikan pekerjaan saya. Tiba-tiba telefon genggam saya berbunyi, sebaris pertanyaan dari seorang rekan menghantarkan kami ke sebuah diskusi dan berujung pembahasan lanjutan di esok hari. Berikut cuplikan pembicaraan kami :

 

“Jo, lo punya link yang Ahmadiyah gak?”

“Cikeusik? Ada, di web, tapi di protect, cuma member yang bisa nonton.”

“Ada yang kesebar di bbm, kemarin gw dapet cuma ilang. Lo udah liat belum sih? Parah aja.”

“Streaming di web. Iya, pembunuhannya parah gila, Li.”

“Katanya itu gara-gara gossip dari agama lain yang nyebarin, padahal bukan lho..”

“Provokator itu sih Li yang ngomong gitu..”

“Embeeerr.. Yang parah mereka minta dilepasin dari penjara. Kalo lo udah nonton videonya, sumpah ya..”

“Gw udah nonton videonya. Gw rasa mereka lupa pancasila dan perintah Tuhan..”

“Gila ya, parah. Emang mereka kenal perintah Allah? Eh Jo, yang dipenjara mau diinterogasi.”

“Li, kita ketemu ya besok, wajib di bahas secara langsung..”

“Ok, see you..”

“Sip! See you soon.”

 

***

 

Salah siapa? Pertanyaan retoris yang selalu diungkapkan saat suatu kejadian telah dinyatakan menjadi tragedi dan memakan korban. Sebagian dari jutaan mata yang menonton rekaman video kerusuhan tersebut berasumsi dan menarik kesimpulannya sendiri, walaupun tanpa bukti otentik. Sebagian lagi memilih diam, entah itu karena mereka sudah mengerti entah karena memang sama sekali tidak peduli. Dan sebagian lagi.. bingung. Ya, bingung. Seperti saya ini, bingung.

 

Pikiran dan perasaan saling berbenturan, menghantarkan pada kegundahan yang tak terelakan. Berfikir keras, sesaat kemudian meringis saat menyaksikan ulang rekaman perbuatan sadis. Di dalam hati menangis melihat sesama manusia diperlakukan tak lagi seperti manusia. Tenggelam dalam diam, mencoba menelaah lebih dalam.

 

Saya pun sempat menuliskan pernyataan dan pertanyaan reflektif di akun twitter saya dengan untuk mengajak rekan-rekan saya yang membaca di sana tergerak hatinya, tidak lekas memberikan judging kepada mereka semua yang terlibat di dalam tragedi Cikeusik.

 

Ya, sejak hari tragedi hari itu, sesungguhnya saya sangat ingin menulis, tapi banyak keraguan dalam diri saya. Saya tidak ingin tulisan saya malah memperkeruh keadaan. Hari ini akhirnya saya putuskan untuk menuliskan tulisan ini, untuk sekedar berbagi apa yang saya rasakan, dan di sisi lain, keegoisan saya mengatakan dengan menuliskan ini akan sedikit meringankan beban mental dan moral yang saya emban karena tenggelam dalam penyesalan karna tak mampu merubah keadaan.

 

***

 

Sejak kecil apa yang ditanamkan di dalam diri saya seiring perkembangan kehidupan rohani saya adalah  “Jangan menyebut nama Tuhan mu dengan tidak hormat”.

Dan itu membentuk paradigma berfikir saya bahwa menghargai Tuhan itu bukan berarti dengan kita mengambil alih apa yang menjadi wewenangNya, melainkan dengan melakukan segala sesuatu sesuai dengan perintahNya. Tuhan -mu, Tuhan -ku, Tuhan -nya perlukah dipermasalahkan? Bukankah kita diberi kebebasan memilih kepercayaan? Bahkan kebebasan itu dijamin oleh konstitusi. Konstitusi yang WAJIB kita taati dan junjung tinggi, Undang-Undang Dasar 1945.

 

“Kemanusiaan yg adil dan beradab” begitu bunyi sila ke2 Pancasila. Pancasila yang merupakan dasar dan ideologi negara kita, cerminan identitas bangsa kita. Lambang itu hanya aksesoris ruangan di tengah-tengah pigura foto pimpinan negara kita kah? Kenyataannya memang sering kali diperlakukan tidak lebih dari sekedar aksesoris semata kan? Padahal kita semua tahu bunyi setiap sila -nya. Kamu, saya, dia seharusnya tahu apa maknanya. Tapi mungkin terkadang sebagian dari kita lupa atau.. memang selama ini hanya sekedar menghafal tanpa pernah mencoba memaknainya? Ya, mungkin, mungkin saja begitu. Toh banyak yang bilang “memang tidak ada yang adil di dunia ini”. Padahal menurut saya, sesungguhnya keadilan itu bukannya tidak pernah ada, tapi kita saja yang memang tidak pernah paham apa itu keadilan, terus saja mencari dan mempertanyakannya tanpa berinisiatif menciptakannya. KITA. Kita yang memilih untuk diam dan tidak berusaha memahami. Sadar atau tidak, kata kerja dan kata sifat sudah lama melebur, bahkan yang disebut-sebut kaum intelektual pun rasanya sudah tak mampu melihat garis pemisahnya.

 

Ketika kemanusiaan tak lagi mampu memanusiakan manusia, lalu masih pantaskah manusia itu disebut sebagai manusia?” pertanyaan ini menghantui tidur saya akhir-akhir ini.

 

Saya salah satu manusia yang sadar akan pentingnya melihat segala sesuatu dengan kedalaman dan kejernihan, walaupun tidak saya pungkiri terkadang sayapun hanyut dalam permainan emosi. Namun, yang ingin saya garis bawahi di sini adalah pentingnya berfikir sebelum bertindak. Punya hak apa kita untuk bisa mengadili sesama? Nyawa -ku, nyawa -mu, nyawa –nya memangnya siapa yang punya? Kita? Sama sekali bukan. Nyawa kita ini hanya pinjaman, Ia meminjamkan pada kita untuk kita belajar dan memaknai arti kehidupan, ya, BELAJAR. Nyawa dianugerahkan pada kita tidak semata-mata untuk disia-siakan begitu saja kan? Nyawa itu dipinjamkan kepada kita tidak gratis, kita semua mengemban tugas di sini. Tugas dari Dia. Dia yang mati-matian kita bela, yang kita puja sekaligus kita hina dengan menggunakan namaNya untuk melakukan hal yang tanpa persetujuanNya, ah.. jangankan persetujuan, permisi saja kita sering lupa toh?

 

Bayangkan betapa tragisnya ketika sebagian dari kita mengakhiri hidup saudara kita yang lainnya. Takdir? Mungkin. Nasib? Bisa jadi. Tapi, pernahkah kita berfikir lebih dalam sebelum membenarkan atau menyalahkan saudara-saudara kita? Ada baiknya bukan jika kita tidak membuat asumsi tanpa bukti, apalagi pada saudara kita sendiri? Saudara yang kita akhiri nyawaNya atas dasar pemikiran kita yang belum tentu berdasar, bagaimana kalau kita yang ada di posisi saudara kita itu? Saat maut datang menjemput baru merasa takut, saat waktu memburu justru bersikap acuh sering kali malah belagu. Betapa manusiawinya manusia. Yang memiliki sering kali tak sadar apa yang dimiliki dan yang tidak memiliki justru merasa menjadi pemilik. Hukum sebab akibatpun luluh. Apa sih sebenarnya mau kita ini, rekan-rekan manusia? Masih pantas kan kita semua disebut  m a n u s i a?

 

Manusia yang seharusnya beramin ketika sebagian dari kita beriman, bukan malah bermain atas nama iman dan lalu berteriak amin. Kita ini sebenarnya diciptakan untuk saling melengkapi atau untuk saling melangkahi? Apakah hak asasi sudah menjadi begitu basi untuk dijunjung tinggi? Mungkin baiknya kita mulai sama-sama belajar menjadi sedikit lebih bijak dengan tidak saling mengadili, tapi sama-sama melakukan refleksi tanpa saling menyalahi. Karna kita semua sesungguhnya adalah sama di mataNya kan? Sama-sama cerminan Yang Kuasa, karena kita ini sama-sama ciptaanNya. Yang membedakan kita hanya sudut tempat kita berdiri dan memandang saja kan?

 

***

 

Agama.. mengapa harus dipermasalahkan jika berbeda? Apa kita semua ini harus seagama? Saya hanya bocah yang tidak banyak paham asam garam dunia, tapi bagi saya agama bukanlah sesuatu yang harus diperdebatkan, terlalu sensitif mengusik kepercayaan dan keyakinan pribadi setiap insan. Saya memang bukan seseorang yang taat dalam menjalankan ibadah dan rajin ke tempat ibadah, tapi kali ini saya ingin mencoba membagi pandangan sederhana saya kepada saudara-saudara sekalian yang membaca tulisan saya ini. Saya berusaha menggunakan toleransi logika dalam mengungkapan pandangan dan jangkauan nalar saya tentang hal ini, jadi maaf jika ada kata-kata yang mungkin tidak sepantasnya saya tuliskan di sini, harap maklumi keterbatasan pengetahuan saya yang masih harus banyak belajar ini.

 

Menurut saya agama hanya fasilitator untuk mencapai tujuan, tujuan yang saya maksud adalah tujuan untuk mengenal sosok Yang Kuasa. Setiap agama dengan caranya masing-masing membantu umatnya mengenal Dia melalui pencitraan yang tak lepas nilai cinta kasih, itu hipotesis saya hingga saat ini, silahkan koreksi jika saya salah. Persepsi dan resepsi secara verbal, visual, auditori, bahkan kinestetik terjalin di antara pemuka agama dan umatnya sehingga melahirkan sebuah jembatan emosi. Tidak jarang terjadi disfungsi pada bagian ini. Keterbatasan pengetahuan seringkali menyebabkan perpecahan, tindakan yang didasari oleh pemikiran yang prematur membuat manusia sering kali lupa kemanusiaannya. Merasa seolah berkuasa, padahal sedang dikuasai, dikuasai oleh emosi dalam diri yang menganut paham fanatisme.

 

Sadarkah bahwa nyatanya seringkali kita melakukan pembodohan pada diri kita sendiri? Menolak perkembangan, menutup diri, lekas menyalahkan perbedaan dan melupakan nilai-nilai dasar yang seharusnya menjadi pedoman. Disorientasi berkelanjutan hingga tak lagi mampu menggunakan akal budi, karunia yang membedakan manusia dengan hewan dan tumbuhan. Melakukan penghakiman lalu membuat ketetapan tanpa pertimbangan, melakukan eksekusi tanpa paham esensi konsepsi, terlalu tergesa-gesa. Kita ini hanya ciptaan, tak lebih. Ingat dan resapkan dan mari kita bersama-sama berlaku selayaknya sebagai ciptaan, bukan sebagai pencipta. Pencipta punya hak mutlak atas ciptaanNya, Ia yang menentukan hak, kewajiban, dan kewenangan kita, bukan kita sendiri, memang siapa kita ini? Hanya ciptaan. Dan selayaknya sesama ciptaan, kita berada pada tataran yang sama, hubungan kita koordinasi, bukan komando.

 

***

 

Lalu untuk semua yang sudah terjadi pada saudara kita, kita.. hanya meratap? Berucap? Mencaci? Menghakimi? Tentu tidak kan? Dan yang melakukan,, menyesalkah? Yang diperlakukan, kesalkah? Salah siapa? Salah saya? Salah kamu? Salah dia? Salah mereka? Atau salah Dia yang mempercayakan akal dan budi ini pada kita? Sayapun tidak tahu. Karna saya tidak pernah benar-benar tahu mana yang SALAH dan mana yang BENAR. Begitu juga dengan kamu kan? Tapi alangkah bodohnya jika kita merasa tidak punya daya dan hanya memilih diam sambil berusaha menerima semua padahal relung jiwa berurai air mata. Tragis, ketika kita hanya bisa menangis melihat melihat saudara kita mengais saat diperlakukan sadis oleh saudara kita yang lainnya sementara kita tidak bisa berbuat apa-apa.

 

Memang bisa berbuat apa? Banyak! Tapi mari kita mulai dengan hal yang paling sederhana, menghargai. Mari kita saling menghargai mulai hari ini hingga suatu saat nanti ketika pagi tak lagi disambut oleh senyum mentari. Saling menghargai dalam persamaan dan perbedaan karna sesungguhnya kita semua ini sama-sama hanya ciptaan, hanya tempat kita berdiri dan memandang saja yang berbeda. Tragedi Cikeusik biarlah diselesaikan oleh yang berwenang, kita hidup di negara hukum, biarlah semua diselesaikan dengan jalur hukum sesuai dengan aturan-aturan yang berlaku. Berhenti saling menyalahkan dan mencari-cari kesalahan, mari kita saling mendukung untuk masa depan bangsa yang gemilang. Kalau bukan kita yang sadar, siapa lagi? Untuk apa saling menunggu jika kita bisa sama-sama melepaskan belenggu itu? Mari bergandengan tangan dalam ketidaksempurnaan, melangkah bersama dan saling mengingatkan, mengulurkan tangan untuk saudara yang butuh bantuan. Saling menguatkan dalam iman dan sama-sama beramin.

 

“Garuda di dadaku, Garuda kebanggaanku…” jangan hanya kita dengungkan saat mendungkung tim nasional sepak bola di piala AFF saja, mari sama-sama kita implementasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kita bisa!

 

***

 

Tambahan :

 

Pembukaan UUD’45

.. dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri-kemanusiaan dan peri-keadilan.

.. dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-undang Dasar Negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasarkan kepada: Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, dan Kerakyatam yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

 

 

Bab XI

Agama

Pasal 29

(1) Negara berdasar Ketuhanan Yang Maha Esa

(2) Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.

 

 

***

 

Saya tidak apatis, tidak juga skeptis, bukan juga utopis. Saya hanya bisa menulis. Setidaknya dengan menulis, saya berusaha menghapus tangis dan mengubahnya menjadi senyum manis. Harus optimis! Selama gerimis masih bersenandung romantis, bintang kecil akan selalu menghiasi malam-malammu, menghapus pilu dan melukis rindu, bersatu sebelum menjadi abu.

***

Suatu saat nanti, sebut saja saya si ‘pembunuh’, karna saya akan ‘membunuh’. Membunuh kamu, dia, mereka, bahkan diri saya sendiri. Membunuhmu dengan jari-jari mungilku yang tak henti menari di atas papan qwerty. Silahkan penjarakan saya setelahnya. Penjarakan saya di dalam jiwa dan raga –mu ya.

Katakan saya egois karna saya memilih cara yang paling manis untuk mengakhiri tulisan ini.

Ingin tahu diskusi dengan pembaca lainnya? Klik disini.

Advertisements
Comments
9 Responses to “Bisik dibalik Cikeusik”
  1. Dian Damayanti says:

    Inspirasi seperti ini seharusnya melebur, tidak terkubur. 🙂
    Bersyukurlah kita yang bisa MENYADARI siapa kita sebenarnya.
    Bersyukurlah kita yang bisa MENERIMA siapa, apa, kapan, dan bagaimana.

  2. ema arifiani says:

    Saya tidak melihat kekerasan / konflik / pembantaian yg terjadi karena SARA, logika saya mengamini bahwa masyarakat berbeda itu sudah hidup bersama dlm satu masa dalam keselarasan sampai akhirnya ada insiden itu.
    Artinya ada yg mengerakan dan meniupkan isu SARA.Demi apa? Motif apa? Bayaran ? Order siapa?. Belum lupakan dgn serangkain kerusuhan yg pernah terjadi.
    Marilah kita belajar dari sejarah, KEKERASAN di negeri ini berjalan Wajar dari wkt ke wkt.
    HUKUM tdk mempunyai kekuatan, Mimpiku adalah satu hari Pertiwi tersenyum krn Hukum tegak atas nama keadilan bukan krn UANG.Wahai penguasa, tentu bukan hal sulit buatmu utk menyelesaikan, menegakkan kecuali ada kepentinganmu yg membuat carut marut negeriku. I Love Indonesia

    • Joan Arae says:

      ketika saya menggunakan logika berfikir dengan jangkauan nalar yg lebih, sayapun menemukan begitu banyaknya kejanggalan.. Namun mungkin terlalu dini untuk saat ini saya memberikan judging..
      Terkait demi apa, motif apa, bayaran, dan order siapa saat ini belum bisa dipastikan krn msh banyak hal yg ditutup dan tertutup, sehingga untuk melakukan analisa pun masih terlalu prematur.. mungkin ada baiknya kita mengumpulkan fakta2 lebih banyak lagi, dan menganalisis benang merah dari setiap apa yg terjadi di sekitar terkait hal-hal tsb, mengolah data dengan lebih objektif dan menggunakan sudut pandang segala aspek terkait maupun tak terkait.. Bukannya mustahil jika kita semua mau berusaha 🙂

      Mari hapus air mata pertiwi dengan memulai segalanya dari diri, sama-sama belajar menghargai dan tidak saling mengadili.. 🙂 Peraturan yg masih kurang memadai dan keadilan yg masih terus dicari2 bukannya tak ada, hanya mungkin kita belum menyadari keberadaannya..

      Mirisnya saat ini kenyataan berbicara bahwa moral yg tercela disanjung puja, hati yg terluka digeletakkan begitu saja. Mereka merasa bahagia teriak merdeka sbg pencipta neraka dunia. Tuan-tuan penguasa memang juara dalam melakukannya.. Tetapi kita masih bisa mengubahnya jika kita mau berusaha.. 🙂
      Bagaimana?

  3. iamjameto says:

    Memang sulit untuk melihat siapa yang salah atau benar, semua mempertahankan argumennya masing2. Seakan-akan manusia suka berlaku layaknya Tuhan, padahal mereka hanya sebagian kecil dari ciptaan-Nya. Buka mata, buka hati, dan juga pikiran.

    Kenali dirimu, dirinya, dan diri mereka.
    Musuh terbesar ktia adalah diri kita sendiri, bukan dia ataupun mereka.

    *****************
    Masukan kamu bagus joo. aku suka 😀

    iamjameto.wordpress.com

    • Joan Arae says:

      Makasiiyy yaa.. 🙂
      Semoga banyak orang yg masih mau membuka matanya, dan mengambil keputusan dgn pertimbangan yg berdasar.. memiliki pondasi yg kuat bukannya tidak mungkin, namun mereka terkadang hanya tidak tahu bagaimana caranya, lalu lekas memilih jalan pintas tanpa menyadari bahwa itu semua mengarahkan langkah mereka ke arah yg mungkin saja salah.. Kita yg masih sadar, mari membantu menyadari yg tak sadarkan diri.. 🙂
      Semangaaatt! Kalau bukan dimulai dari kita, dari siapa lagi? 😉

  4. dhejih says:

    they’re playing God.

  5. Joan Prahara says:

    aku udah baca twins…dari post pertama km…
    dan aku dah liat videonya…
    disini aku TIDAK menilai agama mereka atau latar belakang mereka…
    tp semua pelaku yg ada di video adalah BINATANG , BUKAN manusia…

    jangan terprovokasi dengan konteks AGAMA, tp bagiku yg perlu di perhatikan adalah soal KEMANUSIAAN, bukan KEHEWANAN. Temen2 jangan langsung judge latar belakang pelaku dulu, tp apa yg telah mereka lakukan terlepas dari SARA mereka…

    • Joan Arae says:

      Banyak data yg masih butuh di analisis lebih dalam.. Dan untuk saat ini data yg didapat masih sangat terbatas, bumi.. ada baiknya kt mengumpulkan lbh banyak data dan menjadi pengamat dengan kepala dingin.. supaya saat menganalisis bs lbh jernih dan mendalam.. semangaaatt! 😀

      Yang mem-provokasi dan di-provokasi itu sbnrnya ga bs dijudge salah atau benar jg skrg.. motif msh hrs dianalisis.. dan provokasi itu sbnrnya pilihan kedua belah pihak (yg mem- dan yg di-).. Jadi mari cooling down dan spread positive energy ke sekitar dulu.. Supaya semua bs lbh ‘sadar’ 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Joan Arae


    "Art is my breath.. As long as I breathe, Art never dies.."

    A young energetic girl who realizes her existence in this world as a human learner and kept asking in her mind "Why I can't stop thinking & doing here?".

    Gonna be on top! ♥

%d bloggers like this: