Mengenang Radio Kampus #1




Orientasi dan Penerimaan Mahasiswa Baru 2006.


Sengat mentari membuncah, dan peluhpun meluluh. Aku mulai merasa lelah, lelah, lelah teramat lelah, hingga tiba di satu sesi yang tertulis di kertas jurnal kegiatan dengan judul “perkenalan Unit Kegiatan Mahasiswa” yang sedikit mengusik rasa asikku menghela setiap tetes peluh di pelipisku. Satu demi satu unit mempertontonkan teatrikal kegiatannya, aku diam dan memperhatikan dengan seksama. Dengan status mahasiswa baru yang kusandang, aku memang tak begitu paham tentang semua yang terputar di depan mata jadi kucoba mengumpulkan puing-puing keseriusan untuk mencermati tentang apa sih ini.

“Bukan O Bukan A, U R S !”

Sontak aku tersentak dengan hentakan suara yang cukup membahana di tengah hening bingung ribuan mahasiswa baru yang duduk manis melihat ke arah depan. Beberapa kakak senior lalu lalang dengan seragam merah mereka yang bertuliskan URS 107.7FM, kemudian mereka mulai memperagakan beberapa adegan unik seperti berteriak tanpa suara, berlari-lari tanpa arah, fashion show, dan tentunya adegan terakhir yang mebuat saya tercengang, adegan seolah-olah sedang bersiaran radio dilengkapi dengan beberapa perlengkapan alat siaran radio. Hal itu perfectly membuat saya tersengat aliran listrik seribu voltage dan hampir membatu di tempat. Sekilas, tak lebih dari sepuluh menit mereka memainkan semua peran-peran itu. Namun, si ‘tak lebih dari sepuluh menit’ ini sungguh membuat saya bertanya-tanya mengapa saya jadi begitu berlebihan terpesona hanya karena sepuluh menit saja.

***

EXPO Unit Kegiatan Mahasiswa 2006.



Setelah menyelesaikan kelas, saya bergegas menuju gedung serba guna UNPAR. Sedikit berlari, namun tak sampai terengah-engah. Gedung serba guna UNPAR hari itu ramai sekali, banyak stand-stand Unit Kegiatan Mahasiswa berwarna warni dan lengkap dengan semua alat pamerannya. Saya buru-buru kesana hanya untuk satu stand, stand yang bertuliskan kalimat sama persis dengan kalimat di dalam logo baju kakak-kakak si ‘tak lebih dari sepuluh menit’ yang menghantui saya ‘ lebih dari sepuluh hari ’ dengan ‘lebih dari sepuluh ribu’ pernyataan ungkapan kekaguman.

Standnya tidak begitu besar, hanya seukuran 1m x 1m, namun dekorasinya begitu meriah seperti meminta untuk diraih oleh setiap pengunjung yang datang bertandang. Saya lalu menuliskan nama dan nomor pokok mahasiswa saya di kertas yang tersedia di atas meja, mengambil formulir yang diberikan oleh salah satu kakak, dan segera melenggangkan kaki menuju kelas kuliah kembali.

***

Interview Calon Anggota 107.7FM Unpar Radio Station.



Berbekal mental dan kertas formulir yang telah kuisi dan kuhias dengan hiasan sederhana dari kreatifitas yang seadanya, aku berjalan ragu ke arah keramaian di depan gedung studio siaran radio kampusku. Ragu, karna rasa percaya diriku menurun drastis sewaktu melihat begitu banyak rekan yang sedang mengantri untuk diwawancarai oleh lagi-lagi kakak-kakak berbaju merah. Baju merah itu adalah seragam kebanggaan mereka sepertinya. Ya, mereka. Aku belum termasuk menjadi mereka walaupun rasa iri mematri begitu dalam di lubuk hati saat melihat logo hitam dengan ukiran tulisan kuning di dalamnya “URS 107.7FM”.

Aku duduk di bawah pohon rindang di depan gedung tersebut sambil memandang sekitar dengan kerut di dahi. Tidak ada yang kukenal, tidak ada orang yang sejurusan denganku di sini, bahkan yang sefakultaspun juga tak ada. Aku tak ingin terus terpaku, aku mencoba berkenalan dengan beberapa rekan yang berdiri di antrian, menanyakan tentang angkatan dan tentu saja jurusan mereka. Kebanyakan mereka berasal dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik dan Fakultas Hukum, sisanya sedikit beragam, ya hanya sedikit, hanya sekitar tiga sampai lima orang yang berasal dari fakultas selain dua fakultas yang kusebutkan tadi.


Tiba giliranku untuk di-interview.

Salah tingkah, minder, dan merinding, ya hanya tiga kata itu yang cukup mewakili apa yang kurasakan ketika nama dan nomor pokok mahasiswaku disebutkan dan akupun memasuki ruangan berlantai dua itu dengan langkah agak gontai.  Aku diinterview oleh salah satu kakak laki-laki yang setelah hari itu kutahu bahwa ia dipanggil Bono oleh kakak-kakak lainnya. Aku diminta berbicara selama satu menit, mendeskripsikan tentang name tag yang saat itu erat terlekat di sekat-sekat jemarinya. Selesai memberikan deskripsi, aku diminta menunggu untuk diwawancara oleh General Manager.

Sehabis memperkenalkan diri, aku lekas ditanyai “Mengapa kamu ingin menjadi anggota URS?” oleh salah satu kakak diantara tiga kakak lainnya, namanya Kak Vai, ya itu nama yang dia sebutkan ketika memperkenalkan dirinya di permulaan sesi wawancara ini, dia adalah General Manager Unpar Radio Station. “Karna aku tertarik dengan keunikan kakak-kakak sekalian sewaktu promosi di acara Orientasi dan Penerimaan Mahasiswa Baru waktu itu, kak.. Sepertinya keren, dan beda.. Aku jadi pengen..” jawabku ceplos dan polos yang kemudian kusesali karna itu lagi-lagi adalah sebuah bentuk pembodohan diri yang kupertontonkan di depan khayalak. Ya Tuhan, makhluk macam apa aku ini, sudah kuliah tapi kelakuan masih seperti anak SD! “Ohh, ok! Kamu menuliskan di formulir ingin masuk divisi announcer, tapi sepertinya menurut saya kamu lebih cocok jadi produser.. Kamu wawancara sama anak produser ya!” kata si kakak tersebut singkat dan sesaat membuatku tercekat, karna aku sama sekali tidak paham mengenai seluk beluk produser di dunia radio.

Aku lalu diwawancarai oleh dua kakak lainnya, ya, kali ini dua namun detak jantungku tidak sedang sprint seperti sebelumnya, kali ini mungkin lebih tepat masuk kategori marathon. Interview kali ini aku hanya diberikan beberapa pertanyaan yang harus kujawab dengan spontan, sejak sebelum dimulai pertanyaan sudah diberikan warning bahwa waktu untuk menjawab terbatas. Aku ditanyakan pengetahuan tentang dunia broadcast, dan kuakui aku nol saat itu, ya aku hampir tidak tahu apa-apa sama sekali, karna aku hanya bermodalkan sering mendengarkan siaran salah satu radio swasta ternama di Jakarta setiap perjalanan berangkat menuju sekolah dulu. Dua kakak yang memperkenalkan namanya Hansen dan Feli saat itu hanya tertawa kecil, mungkin di dalam hatinya berbisik “ hey betapa bodohnya kamu, masa tidak ada satupun pertanyaan yang bisa kamu jawab, padahal kamu berani mendaftar sebagai calon bagian dari kami “. Aku mencoba untuk tetap tersenyum manis saat itu, walaupun rasanya hati sungguh ingin menangis karna tidak sanggup menahan beban rasa malu yang disebabkan oleh ketidaktahuanku. Interview diakhiri dengan pertanyaan “coba jelaskan apa yang kamu pikirkan mengenai bata?”. Pertanyaannya memang mungkin sepertinya tidak begitu sulit, tapi cukup membuatku kelimpungan dalam kebingungan, dan tanpa kusadari aku malah bertanya balik “Bata maksud kakak batu bata?”. Ooohh, betapa konyolnya aku menunjukkan kelemahan otakku dalam menangkap pertanyaan, tapi sudah terlanjur, tak mungkin kabur, hanya akan membuatku lebih malu lagi. “Ya, batu bata. Jelaskan saja yang ada di pikiranmu tentang itu..” kata salah satu kakak. Pernyataan yang melintas dikepala seperti begitu saja mengalir lewat bibir “Batu bata itu kotak, keras, tapi bisa jadi lunak kalau sering kena air, kak..”. Mereka tersenyum, kami bersalaman, lalu aku dirujuk untuk wawancara dengan Dewan Alumni.

Kali ini aku benar-benar pasrah, semua proses yang sejak tadi kulalui tidak lebih dari sekedar memperkenalkan diriku yang bodoh dan lemah. “Ok, Joan. My name is Abdur.” kata kakak di depanku dengan logat inggrisnya yang cukup British sambil memegang formulir pendaftaranku di genggamannya. “So, please tell me about advantages and disadvantages of your self..” begitu dia melanjutkan. Aku terdiam, berpikir keras, dan stuck sampai akhirnya kakak tersebut memecahkan keheningan batinku yang melayang terbang entah kemana dengan mengucapkan “Come on, tell me.. Be honest please..”. Aku jawab seadanya yang hinggap di benak saja “Kekurangan aku, aku itu pelupa, kak.. Kelebihan aku…mmm… aku punya semangat kak..”. Saat itu aku benar-benar tak bisa menemukan satupun kelebihan di diriku, ya, tidak ada satupun yang kutemukan, tragis! “Ok, next.. How do you cover your disadvantage, Joan?” pertanyaan lanjutan darinya menanggapi pernyataanku tadi. “Aku biasanya mencatat semua yang harus kuingat di handphone-ku, kak.. Kalau aku lupa, aku langsung mencari di notes dan mengingatnya kembali..”. Ya, kala itu aku memang sangat mengandalkan reminder di handphone-ku untuk mengatasi keterbatasan memori otakku. Kakak tersebut tertawa, lalu mengakhiri sesi dengan mengucapkan “So, if you lost your phone, it means you can’t remember anything then ya.. Ok, Joan, nice to meet you.. Thank you and good luck for the results”.

Menyusuri Jalan Pulang.

Aku berjalan pulang dengan lesu, sungguh aku menyadari betapa aku ini seseorang yang tidak layak mengikuti interview tadi, aku tidak tahu banyak hal tentang dunia radio dan semua jawabanku menunjukkan betapa ceteknya volume otakku. Sedih rasanya, semua mimpi untuk bisa berseragam merah meriah seperti semua kakak-kakak tadi di sana seperti sedang berdiri di antrian pintu sirna. Nafsu makan hilang, tapi merenungpun otakku rasanya tak sanggup, karna semua penyesalan hanya akan sia-sia, semua sudah terjadi, aku melakukannya sendiri, melakukan semua kebodohan itu sendiri untuk diriku. Hufffttt

***

Pengumuman Penerimaan Anggota Baru Unpar Radio Station.



Sebenarnya aku pesimis, tapi aku penasaran untuk melihat pengumuman di depan ruang siaran siang itu. “Minimal aku bisa melihat ruang itu dari dekat dan sedikit mengandai sedang duduk di dalam, berbicara di depan mic yang tergantung sambil membacakan lembar script di tangan, yaa walaupun mungkin itu yang terakhir kalinya aku bisa mengandai seperti itu, minimal terakhir kali ini tidak aku lewatkan dan bisa aku nikmati sejenak.” pikirku. Aku melangkah menuju ruang dambaan itu sambil terkadang masih sedikit mendesah menyesali saat memori kala di- interview menari-nari di alam bayangku.

Kertas putih berisi tulisan-tulisan daftar nama dan divisi itu terpampang di atas kepala seorang kakak yang kebetulan memperkenalkan diri, namanya Izel. “Mau lihat pengumuman ya? Gimana, keterima gak kamu?” katanya sambil tersenyum manis. “Iya kak.. Aku tapi deg-deg-an gak berani ngeliat, kayaknya gak keterima, soalnya aku payah, hehe..” kataku pesimis namun berusaha membalas senyum manis si kakak. “Eh, belum tentu.. Kita gak pernah ngeliat siapapun payah kok.. Dan diterima atau enggaknya gak cuma diukur dari jawaban pertanyaan interview aja kok.. Lihat dulu aja, coba cari nama kamu, siapa tau ada..” katanya sambil kembali tersenyum manis yang kali itu kurasa ia seolah ingin menghiburku.

Joan – Produser ’ tulisan yang tertera di baris ketiga dari bawah itu seketika membuat aku hampir kehilangan kesadaran karna terlalu kegirangan. Rasanya ini tidak mungkin, tapi ini nyata di depan mata. Ya Tuhan, sumpah aku ingin melonjak! Tapi segera kuurungkan niat itu, tidak ingin lagi aku mempermalukan diriku di hadapan salah satu kakak radio di depanku. “Waaahh.. Aku keterimaaa..” kata-kata itu mengalir tanpa permisi, membuat kakak tadi segera menjabat tanganku memberikan selamat dan lagi-lagi ia tersenyum manis, kali ini manis sekali rasanya, menjadi berlebihan karena mungkin efek kesenangan memberikan pengaruh begitu besar menyamarkan pandanganku. “Nanti tunggu sms dari kita ya untuk rapat pertama anggota baru, sekali lagi selamat ya kamu!” kalimat yang diucapkan si kakak sebelum akhirnya aku berpamit diri untuk kembali kuliah lagi.

***

Tuhan, ini sungguh menakjubkan!! Rasanya setelah sesi wawancara dulu, aku bermimpi jadi bagian dari merekapun sudah tak bernyali.. Tapi hari ini ternyata mukzizatmu yang nyata dihadapku berbicara lain, aku diterima,Tuhan!! Ya, aku D I T E R I M A !!! Aku diterima menjadi bagian dari mereka! Aku si bodoh ini diberikan kesempatan untuk menjadi bagian dari mereka yang keren-keren itu.. WOGH, Tuhan, Kamu benar-benar SUPER COOL !!! Aku bingung gimana ngungkapin rasa terimakasihku ini padamu. TERIMAKASIH, TUHAN !! Dan mulai malam ini aku pasti berani bermimpi kembali tentang radio kampusku.. Tuhan, aku gak sabar, gak sabar untuk ngerasain rasanya duduk di atas sofa dalam ruangan itu! Aku gak sabar untuk bermain-main dengan mic, tombol-tombol di mixer, playlist di layar computer, dan… aaahhh, semuanya!!! Semuanyaa bener-bener buat aku gak sabar.. Aku pengen main di dalam ruangan bersama kakak-kakak keren berbaju merah itu!!

Hmm.. O I a, Tuhan, aku kapan ya punya baju merah seperti mereka?? Sepertinya kalau aku mengenakan baju merah itu aku akan jadi keren sekali!! Sumpah, pasti jadi prestise tak terbeli..! Tuhan, plisss, cepet buat kakak-kakak itu mengirimkan aku sms untuk rapat supaya aku bisa segera memulai siaran bersama mereka.. pliisss Tuhan, pliissss… Kasih aku satu lagi mukzizatmu, plisss.. aku bener-bener gak sabar nih, Tuhan…

***


..penasaran dengan kisah-kisah menarik lainnya yang aku alami setelah hari pengumuman itu??? penasaran dengan semua yang aku lakukan di dalam ruang siaran??? apakah aku berhasil mendapatkan baju merah itu???

Temukan semua jawabannya di kelanjutan kisahku :

Mengenang Radio Kampus #2 !!


Advertisements
Comments
11 Responses to “Mengenang Radio Kampus #1”
  1. David Handoko says:

    wah, jdi penasaran bgt nie sama mengenang kampus #2 nyaa… saya maba 2011, sama tertarik bgt ikut urs… hehehe… cerita” lgi donk ttg urs… hehehe.. thx!!

  2. gue tau nih lanjutannyaaaaa!! hahaha…
    nanti kamu ketemu anak perempuan gendut, kribo bernama ajeng saraswati yang masuk divisi producer juga!!! hahahaha.
    ayo ngakuuuu…. :p

    eh, joan…
    aku malu ah nunjukin tulisan aku. ga pede pisaaaaann…
    jedang… :p

  3. cestri says:

    Awesome! 😀

    Jadi, produser itu job desk-nya apa? hehe,
    terus pertahankan semangat juangmu, nak 😀

  4. babeth says:

    joaan..gue terharu dengan cerita lo!!
    bener banget!! gue pas jadi maba 2007, kagum banget liat kakak2 berbaju merah..dan salah satunya itu lo!!
    hahahaa
    oo ternyata dulunya tuh lo ga ada maksud daftar produser toh?? wow..hebat yee bisa cocok sama lo jadinya.
    gue wktu itu on air ngambil produser sama announcer..lo yg ngewawancarain gue..tapi ga keterima.hahaa..soalnya gue bener2 gatau lo produser tuh kerjaannya ngapain aja..(stupiidd bgt ya gue!!)

    hhhaaaaa…..
    lo datenglah inisiasi tahun ini tanggal 27 november..oke? banyak alumni yg dateng kok…
    kehadiran lo ditunggu!!

    • Joan Arae says:

      ahahahahahaa… iyaa, tdnya pengen announcer beth,, huahahahahaha 🙂
      samaaaaaa kitaa bethh.. gw jg dl pertama kali disuruh wawancara di produser doeengg kaga ngerti apa2 gt.. ahahaha.. emg seringnya calon anggota yg diterima mgkn ga sesuai sm yg dia pilih di awal, tp sampe akhirnya biasanya dia pas sm tmpt dia dipilih gt.. ya ga siy? ky kt kl lg nyeleksi aja.. feeling dan intuisi anak radio ukurannya jempol maksimal yaa?? hahahaha

      iyaaa.. datengg kokk… DA pd mau sekaliann reuniannn ktnyaa… 😀 😀 😀

  5. Belinda says:

    Menunggu kelanjutannya 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Joan Arae


    "Art is my breath.. As long as I breathe, Art never dies.."

    A young energetic girl who realizes her existence in this world as a human learner and kept asking in her mind "Why I can't stop thinking & doing here?".

    Gonna be on top! ♥

%d bloggers like this: