Di rumahku, hari ini.


Di rumahku, hari ini.

Aku duduk di sudut ruang tamu rumahku bersama seorang teman.

Sejak tadi aku terus memperhatikan keramaian di sini. Ramai sekali. Banyak keluarga, tetangga, serta kolega yang datang untuk mengikuti serangkaian acara doa bersama yang diadakan oleh orang tuaku. Papa sibuk menyambut setiap tamu yang datang, mama sibuk mempersiapkan acara doa yang sebentar lagi akan dimulai, adikku sibuk membagikan air minum pada setiap tamu yang duduk. Semua sibuk, sibuk dengan kesibukan mereka masing-masing.

Aku sebenarnya ingin membantu, tapi apa daya. .

___________

Acara doa bersama belangsung sekitar pukul 19.00.

Acara berlangsung selama 45 menit, singkat namun hikmat. Tidak sedikit yang menangis, bahkan mama sempat histeris. Aku tidak tahu apa yang dapat kulakukan. Aku hanya bisa terus diam di sudut ruangan. Aku hanya bisa terus memperhatikan mereka.

Aku sebenarnya ingin menghibur, tapi apa daya. .

___________

Setelah doa bersama selesai, acara dilanjutkan dengan ramah tamah.

Seperti biasanya, papa menceritakan kepada setiap tamu tentang betapa bangganya ia memiliki anak sepertiku. Papa memang selalu membanggakan aku, ia sangat menyayangiku. Mama dan adikku sibuk membagikan makanan ringan, terkadang merekapun ikut terlibat dalam beberapa perbincangan.

Aku sebenarnya ingin bergabung, tapi apa daya. .

___________

Aku kesepian, aku merasa sendirian di tengah keramaian.

Sungguh menyedihkan, tak ada seorangpun yang memperhatikan aku di sini. Mereka kadang seperti sedang menoleh ke arahku, tapi saat aku ingin memulai bicara, mereka malah mengalihkan pandangan dan berbicara pada yang lain.

Mereka tidak jarang menyebut-nyebut namaku, tapi mereka sama sekali tidak menyapaku, pilu. .

___________

Waktu menunjukkan pukul 21.15 saat para tamu pulang satu per satu.

Aku masih duduk di sudut ruangan. Aku ditemani seorang teman yang sejak tadi ikut diam dan memperhatikan semua keramaian. Papa, mama, dan adikku masih sibuk. Papa mengantar tamu ke depan, mama dan adikku mulai merapihkan ruangan perlahan. Setelah mengantar tamu-tamu yang pulang, papa kembali, lalu ikut merapihkan ruangan.

Aku terus menunggu, menunggu mereka selesai dengan kesibukan mereka. .

___________

Hampir selesai mama merapihkan ruangan.

Di depan meja doa, lagi-lagi mama menangis. Tapi kali ini tidak sehisteris tadi. Papa berusaha menghibur mama dengan memberikan pelukan hangat dan belaian lembut di kepala mama. Aku dapat melihat dari sini, sebenarnya papapun menitikkan air matanya walau tanpa suara. Adikku juga larut dalam kesedihan yang sama, namun ia tak henti berusaha menghibur mereka dengan sejuta cara, terutama menghibur mama.

Aku sebenarnya ingin memeluk mereka, tapi apa daya. .

___________

Kita sudah bisa pergi sekarang?” tiba-tiba temanku mengagetkan aku.

Boleh aku minta waktu sebentar lagi? Sampai mereka selesai, dan aku bisa berpamitan..” kataku menanggapi pertanyaannya.

Baiklah, tapi jangan lama-lama..” jawabnya.

___________

Papa, mama, dan adikku sudah selesai merapihkan ruangan.

Sekarang mereka sedang memperhatikan fotoku yang ada di atas meja. Tanpa kata, hanya air mata yang bicara, bicara tentang apa yang mereka rasa.

Aku tersenyum sambil menyeka air mata, aku bahagia. Mereka begitu menyayangi aku, aku yakin itu.

Pa. . ma. . dik. . aku pamit……

Aku terlalu terburu-buru untuk segera lalu, tak sempat menunggu mereka membalas perkataanku. Temanku yang sejak tadi terus memaksaku untuk ikut bersamanya tak mau lagi memberi perpanjangan waktu.

Aku sebenarnya masih ingin di sini, tapi apa daya. .

***********


Di rumahku, hari ini.


Aku tak berdaya.

Semua yang ingin aku utarakan tak dapat kuutarakan, semua yang ingin aku lakukan tak dapat kulakukan.

Aku tak berdaya.

Aku hanya terus terdiam di sudut ruangan, memperhatikan semua. Aku ingin bergabung, tapi aku tak bisa. Bahkan sedikit memberi penghiburan pada papa, mama, dan adikku pun aku tak bisa.

Aku tak berdaya.

Temanku membatasi aku. Temanku memisahkan aku dengan mereka. Temanku memaksaku menanggung pedih yang tak terperih. Ia hanya mengatakan bahwa aku harus bersabar, bahwa lain waktu aku pasti dapat bertemu kembali, dengan mereka.

Ya, mungkin aku harus menunggu, menunggu lain waktu.


___________


Selamat tinggal papa, selamat tinggal mama, selamat tinggal adik.

Maafkan aku, ragaku terpaksa meninggalkan kalian.

Tapi asaku akan selalu menemani kalian, sampai nanti,

sampai kita berjumpa lagi.

Di lain waktu, di lain kehidupan.

***********


Di rumahku, hari ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Joan Arae


    "Art is my breath.. As long as I breathe, Art never dies.."

    A young energetic girl who realizes her existence in this world as a human learner and kept asking in her mind "Why I can't stop thinking & doing here?".

    Gonna be on top! ♥

%d bloggers like this: