Lanjutan dari saya, mengenai sengketa Indonesia dengan Malaysia.


Pengantar

Setelah tulisan pertama saya yang berjudul “Dari saya, mengenai sengketa Indonesia dengan Malaysia.”, kali ini saya menulis lagi untuk berbagi dengan rekan-rekan sekalian sekaligus sebagai sebuah keberlanjutan rasa kepedulian saya terhadap kondisi kenegaraan terkini.

Berdasarkan atas kesadaran saya sebagai warga NKRI yang memiliki rasa kepemilikan terhadap Negara ini dan dengan banyaknya respon yang diberikan kepada tulisan pertama saya, saya mencoba meningkatkan lagi rasa solidaritas, loyalitas, dan totalitas terhadap  bangsa dan tanah air salah satunya dengan membuat tulisan ini.

Saya membuat tulisan ini dengan tujuan untuk menindaklanjuti masukkan-masukkan dari rekan-rekan pembaca dan juga berita-berita, baik itu yang saya lihat maupun saya dengar dari berbagai media elektronik, sekaligus berbagi sudut pandang dengan rekan-rekan pembaca sekalian. Semoga tulisan ini dapat bermanfaat sebagai sarana diskusi dua arah tanpa tatap muka dimana kita dapat saling berbagi energi positif untuk meningkatkan semangat perjuangan sebagai sesama warga NKRI.




Konsiderans  dalam subtopik “Menimbang” dan “Mengingat” dapat dibaca di tulisan pertama saya (http://www.facebook.com/note.php?note_id=435714117257).




Memperhatikan

Berita-berita mengenai kondisi teraktual yang terlampir berupa link sebagai bentukkan kumpulan data berupa fakta yang didapatkan dari media yang menjadi dasar analisis lanjutan.

1.Wiranto : Tak Layak Kedaulatan diukur dari Ekonomi

(http://www.detiknews.com/read/2010/09/03/201922/1434751/10/wiranto-tak-layak-kedaulatan-diukur-dari-ekonomi)

2.PPP Minta Rakyat Indonesia Maafkan Malaysia

(http://www.detiknews.com/read/2010/09/01/002018/1432352/10/ppp-minta-rakyat-indonesia-maafkan-malaysia)

3.PKB Tolak Interpelasi Soal Malaysia

(http://www.detiknews.com/read/2010/09/01/142306/1432797/10/pkb-tolak-interpelasi-soal-malaysia)

4.Golkar Puas Malaysia Terkena Efek Kejut Pidato SBY

(http://www.detiknews.com/read/2010/09/03/170843/1434644/10/golkar-puas-malaysia-terkena-efek-kejut-pidato-sby)

5.Inggris Dukung Diplomasi Damai RI-Malaysia

(http://dunia.vivanews.com/news/read/175759-inggris-dukung-diplomasi-damai-ri-malaysia)

6.Thailand Percaya Indonesia Tak Gegabah Selesaikan Konflik dengan Malaysia

(http://www.detiknews.com/read/2010/09/02/155831/1433783/10/thailand-percaya-indonesia-tak-gegabah-selesaikan-konflik-dengan-malaysia)

7.Konflik dengan Malaysia, Indonesia Pertaruhkan Posisi di ASEAN

(http://www.detiknews.com/read/2010/09/02/135326/1433628/10/konflik-dengan-malaysia-indonesia-pertaruhkan-posisi-di-asean)

8.Pemerintah Yakin Capai Hasil Optimal di Perundingan Kinabalu

(http://www.detiknews.com/read/2010/09/03/194404/1434735/10/pemerintah-yakin-capai-hasil-optimal-di-perundingan-kinabalu)

9.Pemerintah Percepat Perundingan Perbatasan

(http://nasional.vivanews.com/news/read/175958-pemerintah-percepat-perundingan-perbatasan)




Tanggapan Saya

Berikut ini akan saya jelaskan mengenai tanggapan saya terkait konsiderans dalam subtopik “Memperhatikan” berdasarkan analisis dan kesimpulan dari kacamata pribadi saya dengan penuh kesadaran akan keterbatasan ilmu pengetahuan yang saya miliki, serta posisi dan porsi saya sebagai warga NKRI yang saya relevansikan terhadap kondisi teraktual.

Kedaulatan pada konteks ini saya definisikan sebagai pusat konsepsi suatu Negara untuk mencapai persemakmuran.

Menurut apa yang saya pelajari, kedaulatan dibagi menjadi dua tingkatan, yaitu de facto (berbasis fakta yang ada) dan de jure (berbasis pada unsur-unsur yuridis). Dilengkapi dengan teori dari Oppenheim-Lauterpacht tentang unsur-unsur yang harus dimiliki oleh suatu negara untuk dapat disebut berdaulat, yaitu berupa unsur konstitutif (ada rakyat, ada pemerintah, dan ada wilayah) dan unsur deklaratif (pengakuan oleh negara lain) maka saya mencoba menganalisis polemik berkelanjutan mengenai kedaulatan dengan meninjau korelasi unsur-unsur yang terkandung dalam kedaulatan itu sendiri.




Tinjauan terhadap unsur konstitutif




Tinjauan 1 : ada rakyat

Menurut saya, rakyat pada hakikatnya merupakan kompleks hubungan kehidupan bersama antar manusia yang terdiri dari aneka ragam masyarakat yang secara sosiologis tidak dapat dipisahkan dari faktor politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan (faktor yang tersebutkan mengacu pada konsitusi NKRI yang saya cantumkan pada poin ”Mengingat”). Hal tersebut dimaksudkan untuk menjamin unsur kepastian yang diperlukan sebagai penunjang kelangsungan hidup dan kepentingan bersama dalam konteks kenegaraan.

Maka dari itu, saya menyimpulkan bahwa faktor ekonomi sekalinyapun merupakan faktor yang sangat penting dan layak untuk dijadikan parameter kedaulatan, khususnya bagi NKRI. Dan menurut saya, patut digaris bawahi bahwa semua faktor terkait (poleksosbudhankam) berada pada strata yang sama, sama-sama penting, tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya karna adanya keterkaitan dan keterikatan antar faktor untuk saling menyokong satu sama lain dalam pencapaian tujuan kehidupan bernegara.


Tinjauan 2 : ada pemerintahan

Menurut saya, pemerintahan merupakan sebuah bentukan organisasi tingkat Negara yang memiliki kekuasaan untuk menyelenggarakan segala urusan kenegaraan. Mengingat bahwa NKRI adalah Negara kesatuan berbentuk Republik yang menganut sistem presidensial, maka pemerintahan di NKRI itu sendiri dijalankan oleh badan legislatif, eksekutif, dan yudikatif (teori Montesquieu). Dan berdasarkan Pasal 4 ayat 1 UUD’45, Presidenlah yang memegang kekuasaan pemerintahan.

Maka dari itu, saya menyimpulkan bahwa pengambilan keputusan dan tindakan yang dilakukan oleh Presiden NKRI saat ini dalam rangka penyelesaian sengketa memang sudah sepatutnya, mengingat kewajiban yang juga disesuaikan dengan kewenangan dan kekuasaannya dalam konteks pemerintahan. Dan menurut saya, ada baiknya jika kita sebagai rakyat menghargai dan mendukung pemerintah dalam rangka mensukseskan persemakmuran kehidupan bernegara di NKRI.

Ketika keputusan maupun tindakan yang diambil oleh pemerintah memang kurang relevan, bukan berarti kita harus berdiam diri, melainkan kita menyampaikan aspirasi sesuai dengan koridor hukum yang berlaku (mengingat NKRI adalah Negara hukum) dan dilengkapi dengan etika yang sesuai (mengingat kita adalah bangsa yang berintelektualitas tinggi , berwibawa, serta berbudaya) sebagai bentuk penghargaan dan dukungan terhadap pemerintahan kita sendiri.


Tinjauan 3 : ada wilayah

Wilayah NKRI terbentang sangat luas dan terdiri atas beribu-ribu pulau. Dan seringkali perbatasan menimbulkan konflik yang mengganggu dan mengancam keutuhan wilayah negara kita. Dalam kaitannya dengan  upaya pembelaan negara, wilayah teritorial NKRI yang merupakan wadah berlangsungnya penyelenggaraan kehidupan bernegara menjadi sasaran penting yang wajib dibela, baik itu oleh rakyat maupun pemerintah.

Menurut saya, untuk menjaga batas teritorial dan keutuhan wilayah NKRI dibutuhkan lembaga pertahanan dan keamanan yang didukung oleh peran aktif setiap warga negara (mengingat dalam konstitusi NKRI, setiap warga negara wajib ikut serta mempertahankan, mengamankan, dan membela negara).

Dalam kaitannya dengan sengketa antara NKRI dengan NFM, saya menyimpulkan bahwa pemerintah memiliki posisi yang krusial sebagai penentu kebijakan maupun sebagai pelaksana (dalam konteks ini saya mengusulkan berupa tindakan mengkoordinasi aparatur pertahanan dan keamanan NKRI, yaitu TNI dan POLRI untuk selalu siaga menghadapi ancaman dari luar maupun dari dalam), dan kita sebagai warga NKRI yang juga memiliki kewajiban membela negara wajib mendukung pelaksana pertahanan dan keamanan negara. Patut digaris bawahi di sini, dalam konsep pembelaan NKRI, kita dan aparatur pemerintahan memiliki keterkaitan sesuai dengan porsi dan posisi masing-masing. Pemerintah sebagai perencana serta pelaksana, dan rakyat sebagai pendukung.


Tinjauan terhadap unsur deklaratif

Pengakuan dari Negara lain menurut saya bukan semata-mata hanya berupa deklarasi secara verbal maupun secara literalis, namun membutuhkan sebuah implementasi realis yang diwujudkan dalam bentuk kerjasama dalam berbagai aspek kehidupan kenegaraan (poleksosbudhankam). Menurut beberapa literatur yang saya pelajari, keterlibatan Indonesia secara aktif dalam menjamin stabilitas dan perdamaian dunia telah ditunjukkan sejak tahun 1957, melalui pengiriman pasukan perdamaian ke sejumlah negara di dunia yang dilanda konflik.

Saya menyimpulkan bahwa hubungan bilateral antara NKRI dengan NFM memang patut untuk dipertahankan. Selain pertimbangan mengenai simbiosis mutualisme (yang saya cantumkan pada poin ”Mengingat”), hal tersebut juga dimaksudkan untuk mempertegas konsistensi NKRI atas kepeduliannya untuk menjaga serta terus meningkatkan stabilitas dan perdamaian dunia, dimana hal ini secara langsung juga akan memperkokoh keyakinan pengakuan Negara lain terhadap kedaulatan NKRI, serta memperkuat kelayakan pencalonan NKRI sebagai ketua ASEAN periode 2011 (sesuai dengan pernyataan Menteri Luar Negeri, Marty Natalegawa yang saya cantumkan pada bagian 7 poin ”Memperhatikan”).

Menurut saya, sebagai calon Ketua ASEAN 2011, NKRI baik rakyat maupun pemerintah sudah seharusnya mampu menunjukkan bahwa kita layak menjadi panutan. Momentum konflik NKRI dengan NFM ini dapat menjadi salah satu peluang pembuktian kita sebagai rakyat dan pemerintah NKRI yang memiliki intelektualitas tinggi, bermartabat, memiliki harga diri, dan juga beretika sebagai bangsa yang berbudaya serta solutif dalam menghadapi setiap permasalahan yang ada.

Maka dari itu, langkah awal berupa jalur diplomasi menurut saya sudah cukup tepat, diperkuat dengan langkah lanjutan pemerintah NKRI dalam penyelesaian sengketa dengan mempercepat perundingan perbatasan bersama pemerintah NFM yang akan diselenggarakan pada tanggal 6-8 September 2010 mendatang (sesuai dengan yang informasi yang tercantum di dalam bagian 8 poin ”Memperhatikan”).


Penutup

Sesuai dengan yang saya cantumkan pada poin ”Memperhatikan” bagian 5 dan 6, dapat kita lihat bahwa beberapa negara di dunia pun percaya bahwa NKRI tidak gegabah dalam penyelesaian sengketa dengan NFM, bahkan memberikan dukungan terhadap diplomasi damai yang dilakukan oleh pemerintah NKRI. Lalu, kita sebagai bagian dari NKRI, pantaskah untuk tidak memberikan dukungan yang lebih dari negara-negara lain tersebut?

Menurut saya, kesuksesan ditentukan salah satunya oleh dukungan baik itu dari pihak internal maupun eksternal. Kita sebagai pihak internal NKRI sudah seharusnya memperkuat konsolidasi internal kita untuk memberikan dukungan penuh terhadap pemerintah dalam penyelesaian sengketa dengan NFM, baik itu secara mental, moral, atau bahkan materiil.

Dalam setiap penyelesaian sengketa patut dipahami juga bahwa tidak ada segala sesuatu yang instan, semuanya membutuhkan proses yang panjang untuk mencapai hasil yang optimal dan berkesinambungan. Faktanya, perundingan dengan Vietnam NKRI membutuhkan waktu selama 32 tahun, dengan Singapura membutuhkan waktu 5 tahun (sesuai dengan informasi yang tercantum di dalam bagian 8 poin ”Memperhatikan”).

Kita sebagai warga NKRI yang merupakan pihak pendukung pemerintah seharusnya tidak pesimis dalam penyelesaian sengketa melalui jalur perundingan ini, apalagi diperkuat dengan optimisme yang ditunjukkan oleh pemerintah sebagai perencana sekaligus pelaksana.

Sekarang warga NKRI yang seharusnya mendukung pemerintah, apakah kita ingin menghambat atau mengakselerasi proses penyelesaian tersebut? Sebagai warga NKRI yang mencintai tanah air kelahiran, dapat dipastikan akselerasi menjadi pilihannya. Bagaimana mengakselerasi proses tersebut?

Menurut saya jawabannya adalah menjalankan peran kita sesuai dengan porsi dan posisi kita masing-masing seoptimal mungkin dan dilengkapi dengan rasa syukur terhadap bangsa kita sendiri. Bagaimana implementasi rasa syukur kita? Menurut saya, dimulai dengan memberikan dukungan terhadap pemerintah (lagi-lagi saya tegaskan bukan berarti ketika keputusan maupun tindakan yang diambil oleh pemerintah kurang relevan kita harus berdiam diri, melainkan kita menyampaikan aspirasi sesuai dengan koridor hukum yang berlaku tanpa melupakan norma-norma etika).

Saya sebagai bagian dari warga NKRI sangat kagum dengan banyaknya elemen masyarakat yang fokus memberikan perhatian dan menunjukkan kepedulian terhadap penyelesaian sengketa NKRI dengan NFM, dan menurut saya akan sangat jauh lebih baik ketika dapat menyalurkan kepedulian kita dengan cara yang tepat dengan tidak melupakan nilai-nilai luhur yang ditanamkan sebagai bangsa yang beradab.

Menurut saya, kedaulatan NKRI merupakan hak mutlak kita yang tidak dapat diganggu gugat oleh pihak manapun dan patut kita perjuangkan sampai mati. Namun jangan sampai hanya wilayah kedaulatan NKRI semata yang menjadi fokus perjuangan kita untuk dihargai oleh Negara lain, karena sesuai dengan yang telah saya jelaskan bahwa kedaulatan juga mencakup rakyat dan pemerintahan.

Maka dari itu saya menyimpulkan bahwa harkat, derajat, serta martabat rakyat dan pemerintah NKRI juga harus kita jaga dan perjuangkan sampai mati untuk mempertahankan kedaulatan kita. Dari semua berita yang saya lihat dan saya dengar dari media-media selama ini, menurut saya kita teralu memfokuskan kedaulatan pada satu unsur saja, yaitu kedaulatan wilayah, dua unsur penting lainnya seolah terlupakan begitu saja.

Sebelum terlambat, mari kita fokuskan juga perjuangan mempertahakan kedaulatan NKRI pada kedua unsur lainnya sehingga kita dapat benar-benar merealisasikan NKRI yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur sesuai dengan cita-cita proklamasi yang tertuang dalam pembukaan UUD 1945 (yang telah saya cantumkan di poin “Mengingat”).

Catatan Saya

Waspadalah terhadap provokasi dan cermatlah dalam membedakan data, fakta, atau opini semata.

Jangan ragu mengorbankan waktu, tenaga, serta pikiran kita untuk tetap berpikir dan berbuat segala sesuatu yang baik untuk tanah air dan bangsa yang kita cintai.

Perjuangkanlah harga diri bangsa dengan mawas diri dan penuh pengendalian diri, jangan sampai kita mencabik-cabik sendiri harga diri bangsa kita.

Berucap dan bertindak dengan dasar yang jelas dan dapat dipertanggung jawabkan secara de facto maupun de jure serta sesuai dengan identitas bangsa kita yang memiliki kesadaran penuh akan porsi dan posisi guna meminimalisir penyelewengan maupun pelanggaran yang dapat merugikan NKRI kita sendiri.

Berhati-hatilah dalam mengatasnamakan individu, institusi, ataupun Negara dalam berucap dan bertindak, jangan sampai melakukan segala sesuatu yang di luar batas kewenangan kita.

Selaraskan ucapan dan tindakan kita dalam realisasi rasa cinta kita terhadap tanah air dan bangsa, pegang teguh nilai-nilai luhur sebagai bangsa yang beradab.

Tunjukkan kepada dunia bahwa kita adalah bangsa yang memiliki harkat, derajat, dan martabat yang patut untuk dihargai karena kitapun menghargai bangsa kita sendiri.

Dalam membuat suatu keputusan buatlah perencanaan yang matang dengan dasar yang kuat dan dapat dipertanggung jawabkan, tanpa melupakan refleksi serta evaluasi diri terlebih dahulu untuk dapat lebih menyadari kapasitas diri kita sendiri.

Sejarah perjuangan NKRI untuk merdeka sangat patut untuk kita teruskan dengan cara-cara yang luhur dan berbudi pekerti. Berikut beberapa link mengenai sejarah perjuangan NKRI :

http://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Indonesia dan

http://translate.googleusercontent.com/translate_c?hl=id&sl=en&tl=id&u=http://www.enjoytravelling.net/indonesia/index.htm&rurl=translate.google.co.id&anno=2&usg=ALkJrhjLHFQrmXm4nOaOk5Q3uZ4XiGmkTg

Patut untuk diingat agar dalam setiap apapun yang kita lakukan untuk NKRI tercinta ini, jangan lupa memohon restu dari Yang Kuasa.



Akhir kata, saya mohon maaf sebesar-besarnya jika terdapat substansi-substansi di dalam tulisan saya yang menyinggung pihak-pihak baik yang terkait maupun yang tidak terkait. Serta harap maklum dengan masih banyaknya kekurangan baik dalam sistematika penulisan, pemilihan kata, pembahasaan, serta pembendaharaan kata yang seadanya. Atas perhatiannya, saya ucapkan terimakasih. Semoga bermanfaat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Joan Arae


    "Art is my breath.. As long as I breathe, Art never dies.."

    A young energetic girl who realizes her existence in this world as a human learner and kept asking in her mind "Why I can't stop thinking & doing here?".

    Gonna be on top! ♥

%d bloggers like this: