Dari saya, mengenai sengketa Indonesia dengan Malaysia.


Pengantar

Saya, Warga Negara Indonesia. Mahasiwi semester 8 salah satu perguruan tinggi swasta di Bandung yang bebas politik praktis. Tolong digaris bawahi, saya adalah seorang non-partisan, tidak berada di bawah naungan bendera partai manapun.

Berangkat dari kesadaran sebagai bagian dari keluarga besar Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan kepedulian akan kondisi kenegaraan baik itu dalam ruang lingkup nasional maupun internasional, saya mencoba menyampaikan pandangan saya melalui tulisan ini.

Dengan mengetahui bahwa komunikasi merupakan hal yang sangat penting dalam penyampaian intelektualitas bangsa yang terkait dalam suatu sistem kenegaraan, yang dalam konteks ini adalah NKRI, maka tulisan ini saya tujukan sebagai sarana diskusi dua arah agar dapat bersama melakukan analisis dan perencanaan yang baik sehingga mampu membuahkan hasil yang objektif dan maksimal sebagai perwujudan rasa cinta terhadap NKRI.

Menimbang

Sejarah

Bahwa pada tahun 1963 terjadi konfrontasi antara NKRI dengan Negara Federasi Malaysia (NFM) karena NFM berkeinginan untuk menggabungkan Brunei, Sabah, dan Sarawak dengan Persekutuan Tanah Melayu pada tahun 1961.

Bahwa pada tahun 1969 NKRI dan NFM sama-sama mengklaim kepulauan Sipadan dan Ligitan, kemudian Mei 1997  persengketaan diserahkan kepada Mahkamah Internasional (MI) dan kedua belah pihak sepakat menerima keputusan pengadilan MI sebagai penyelesaian final dari sengketa.

Bahwa pada tahun 2002 NFM mengklaim kepulauan Sipadan dan Ligitan yang terletak di perairan dekat kawasan Sabah dan Kalimantan Timur sebagai wilayah dari NFM.

Bahwa pada tahun 2005 terjadi sengketa antara NKRI dan NFM mengenai batas wilayah dan kepemilikan Ambalat.

Bahwa pada Oktober 2007 terjadi konflik yang disebabkan oleh Departemen Pariwisata NFM karna menggunakan lagu daerah Rasa Sayang-Sayange untuk mempromosikan kepariwisataan Malaysia dan mengklaim lagu tersebut sebagai lagu Kepulauan Nusantara (Malay archipelago).

Kondisi teraktual

Bahwa telah terjadi beberapa insiden antara NKRI dengan NFM yang menciptakan polemik berkelanjutan.

Bahwa prinsip dasar politik luar negeri NKRI bersifat bebas dan aktif.

Bahwa NKRI dan NFM merupakan dua Negara serumpun yang menjalin hubungan bilateral dan sama-sama tergabung di dalam keluarga besar ASEAN.

Bahwa pemerintah NKRI mengajukan solusi berupa perundingan batas wilayah dengan pemerintah NFM.

Bahwa beberapa elemen masyarakat NKRI mengajukan solusi berupa melakukan konfrontasi dengan NFM.

Bahwa kedaulatan Negara dan keutuhan wilayah NKRI merupakan kepentingan nasional yang sangat vital.

Mengingat

Konstitusi NKRI adalah Undang-Undang Dasar 1945 (http://www.bpkp.go.id/unit/hukum/uud/uud1945.pdf) .

Ideologi NKRI adalah Pancasila (http://id.wikipedia.org/wiki/Pancasila).

Hubungan antara NKRI dan NFM dalam bidang pendidikan dan ekonomi yang bersifat simbiosis mutualisme.

Memperhatikan

Pidato Presiden NKRI mengenai dinamika hubungan NKRI dan NFM di Markas Besar TNI, Cilangkap, Rabu, 01 September 2010 (http://www.presidenri.go.id/index.php/pidato/2010/09/01/1473.html).

Analisis dan Kesimpulan Pandangan Saya

Sebagai seorang siswa bergelar maha yang masih belajar di bangku perguruan tinggi, saya mencoba sedikit berbicara mengenai analisis dan kesimpulan terhadap konflik yang menjadi polemik berkelanjutan di NKRI dari kacamata saya pribadi dengan kesadaran penuh akan posisi dan porsi saya sebagai warga NKRI yang saya relevansikan terhadap kondisi teraktual.


Insiden antara NKRI dan NFM faktual

Menurut saya, adalah benar bahwa kedaulatan Negara dan keutuhan wilayah NKRI merupakan kepentingan nasional yang sangat vital yang harus kita perjuangkan sebagai warga NKRI.

Pada kenyataannya, pemerintah NKRI telah melakukan beberapa tindakan insidentil sebagai langkah awal, implementasi tindakan yang merupakan sebuah bentukan awal proses penyelesaian sengketa yang terjadi telah dijabarkan di dalam pidato Presiden NKRI yang saya cantumkan pada poin ‘Memperhatikan’. Proses ini berjalan sesuai dengan solusi yang diajukan yaitu berupa perundingan batas wilayah kenegaraan bersama dengan NFM.

Menurut saya, pemerintah NKRI mengambil keputusan yang cukup tepat sebagai langkah awal karena sebagai bangsa yang memiliki kredibilitas dan intelektualitas tinggi adalah baik jika kita mencoba menyelesaikan setiap permasalahan yang ada (yang dalam konteks ini adalah sengketa NKRI dan NFM mengenai batas wilayah kenegaraan) dengan metode komunikasi dua arah baik itu dalam bentukan konferensi di atas meja perundingan maupun diskusi antar pemerintahan.

Evaluasi serta relevansi terhadap situasi dan kondisi kenegaraan merupakan bagian terpenting dalam proses penentuan solusi atas sengketa tersebut. Sesuai dengan prinsip dasar politik kita yang bersifat bebas dan aktif, diskusi maupun konfrontasi merupakan dua solusi yang tidak salah. Namun menurut saya, solusi berupa konfrontasi belum tepat untuk dilaksanakan sekarang, mengingat situasi konsolidasi internal kenegaraan kita yang belum stabil baik itu dilihat dari kondisi politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan maupun keamanan.

Konfrontasi mungkin dapat dijadikan upaya terakhir jika sengketa mencapai tahap dead log. Pertimbangannya karena konfrontasi akan memberikan dampak yang buruk terhadap hubungan bilateral yang terjalin antara NKRI dan NFM. Sesuai yang saya cantumkan pada poin ‘Mengingat’, simbiosis mutualisme terjadi antara pihak NKRI dan NFM terutama dalam bidang pendidikan dan ekonomi, simbiosis mutualisme di sini saya artikan sebagai hubungan keterkaitan antara pihak NKRI dan NFM dalam suatu sistem dimana kedua belah pihak menjadi saling membutuhkan untuk saling menyokong agar dapat memperkokoh pondasi Negara masing-masing. Maka dari itu menurut saya, hubungan yang baik antara pihak NKRI dan NFM perlu dipertahankan demi kelangsungan pembangunan NKRI yang bermartabat dan berkesinambungan.

Sebagai salah satu Negara pendiri ASEAN, setiap permasalahan yang terjadi di NKRI selalu menjadi sorotan negara-negara di dunia. Maka dari itu menurut saya, ada baiknya jika kita menganalisis setiap permasalahan yang ada secara lebih mendalam dengan kejernihan sehingga setiap pengelolaan terhadap permasalahan yang ada dapat memberikan hasil akhir berupa solusi yang memiliki akurasi dan presisi yang cukup tinggi.

Menurut saya, dunia ini merupakan dunia tiga dimensi yang memiliki enam sisi sehingga akan jauh lebih bijak jika kita para kaum intelektual Indonesia mencoba melihat keenam sisi tersebut dalam upaya pencarian solusi, tanpa melupakan esensi yang terkandung di dalam setiap hal untuk menghindari terjadinya disorientasi dan disfungsi selama proses berlangsung.


Insiden antara NKRI dan NFM dari kacamata pribadi

Beberapa elemen masyarakat merasa dilecehkan oleh pihak NFM.

Berdasarkan statemen di atas, saya hanya ingin mencoba merefleksi diri sebagai bentuk rasa peduli. Pelecehan tentunya melibatkan dua belah pihak, yaitu pihak yang dianggap sebagai yang melecehkan dan pihak yang dianggap sebagai yang dilecehkan. Pelecehan dapat terjadi jika terdapat peluang di antara dua pihak terkait. NKRI diklaim oleh sebagian masyarakat sebagai pihak yang dilecehkan dan NFM sebagai pihak yang melecehkan. Jika benar klaim tersebut, maka saya memilih untuk merefleksi diri, mengapa NKRI memiliki celah yang akhirnya dilihat sebagai sebuah peluang oleh NFM ?

Dalam refleksi diri ini menurut saya :

NKRI memiliki kekurangan dalam kelalaian memberikan celah kepada NFM yang ternyata memiliki kelebihan dalam ketangkasan melihat celah tersebut sebagai peluang. Apa yang dilakukan NFM kurang tepat jika diartikan sebagai suatu kesalahan, mungkin lebih tepat diartikan sebagai suatu bentuk kecerdasan pihak NFM dalam memanfaatkan kesempatan. Maka dari itu, sebagai pihak NKRI, saya mencoba mengevaluasi diri untuk menutup celah tersebut di kemudian hari agar tidak lagi menjadi pihak yang merugi.

Apa yang salah dari NKRI? Pemerintah atau rakyat nya? Saya mencoba meminimalisir subjektifitas saya terhadap oknum-oknum baik itu di kalangan pemerintah maupun di kalangan rakyat, dan saya menemukan bahwa keduanya sama-sama memiliki kesalahan dimana kedua belah pihak terkait belum menjalin hubungan kerja sama internal yang baik. Konsolidasi internal NKRI menurut saya masih sangat minim, hal ini terbukti dengan tidak adanya bentukan apresiasi dari rakyat terhadap pemerintah dan mungkin juga sebaliknya. Hubungan ke-saling-an yang tidak terjalin antara kedua belah pihak ini menjadi akar permasalahan utama menurut saya.

Apakah penyebabnya? Saya mencoba menarik benang merah dari setiap permasalahan yang terjadi baik itu hanya melibatkan pihak-pihak internal NKRI maupun antara pihak internal NKRI dengan pihak eksternal NKRI, saya menemukan adanya disorientasi paradigma terutama dalam kehidupan berpolitik. Hal ini berdampak pada kelangsungan kehidupan kenegaraan di NKRI selama bertahun-tahun. Sering kali saya menemukan fakta bahwa para elit politik menjadikan politik sebagai tujuan dan permasalahan sebagai sarana pencapaiannya. Sedangkan jika berbasis pada ilmu pengetahuan, seharusnya politik tersebut yang justru dijadikan sarana pencapaian tujuan, dimana tujuan kenegaraan yang saya maksudkan di sini adalah kesejahteraan rakyat.

Bagaimana peranan media? Menurut saya media memegang peranan yang sangat penting sebagai jembatan penghubung antara pihak pemerintah dan pihak rakyat. Namun, berdasarkan fakta yang saya lihat, media yang seharusnya bersifat netral, terkadang tidak lagi selektif dalam menyaring informasi, akhir-akhir ini media menjadi terkesan provokatif, tidak lagi kooperatif baik itu terhadap rakyat maupun pemerintah. Saya mencoba menafsirkan hal tersebut sebagai bentuk pemahaman terhadap esensi kebebasan media yang menyimpang, dimana kode etik mungkin menjadi kurang diperhatikan sehingga sadar atau tidak sadar terjadi penyalahgunaan fungsi dan kebebasan oleh media yang mengakibatkan seolah-olah terjadi perekayasaan paradigma berfikir masyarakat.

Jadi bagaimana solusinya? Menurut hasil evaluasi dari refleksi pribadi saya, pembenahan menyeluruh terhadap sistem pemerintahan NKRI serta pembenahan mengenai deskripsi dan definisi terhadap hal-hal yang esensi yang terkait dalam sistem tersebut menjadi kebutuhan utama yang harus segera dipenuhi. Pembenahan ini dimaksudkan untuk mengembalikan segala sesuatunya dalam sistem ketatanegaraan NKRI ke tataran yang seharusnya agar pemerintahan dapat berjalan dengan efektif, efisien, dan kooperatif, serta mampu menerapkan ideologi NKRI sesuai dengan koridor konstitusi NKRI yang berlaku, yang saya cantumkan pada poin ‘Mengingat’ guna membangun bangsa dan mencapai tujuan bersama yaitu kesejahteraan masyarakat serta menutup celah yang menjadi peluang bagi Negara lain meraup keuntungan yang menyisakan kerugian terhadap Negara kita.

Catatan Saya

Mulailah segala sesuatu dengan itikad yang baik

Karna segala sesuatu yang dimulai dengan itikad baik akan menghasilkan sesuatu yang baik, dan Yang Kuasa pasti melancarkan jalannya.

Trying for the best and preparing for the worst

Pandanglah segala sesuatunya dari sisi yang positif agar dapat melihat dengan jernih sesuai dengan kedalaman yang relevan sebagai bentuk keoptimisan untuk terus berkembang  dan maju ke depan. Jadikanlah pemikiran negatif sebagai sebuah bentuk kewaspadaan, bukan sebagai hambatan.

Kuasai emosi dan manfaatkan untuk melakukan hal baik

Manajemen emosi berguna untuk memanfaatkan emosi yang ada sebagai semangat untuk mencapai tujuan yang baik bagi bersama. Melakukan hal baik tidak akan menimbulkan kerugian dan tidak akan melahirkan kesalahan, yakinlah bahwa hal baik akan selalu mendapat restu dari Yang Kuasa untuk menghasilkan kebaikan.

Ajukkan kritik dan saran maupun solusi yang konstruktif

Segala sesuatu yang sifatnya konstruktif akan mendewasakan dan membawa kita pada kesuksesan, sedangkan segala sesuatu yang sifatnya destruktif hanya akan menghantarkan kita pada pintu gerbang kehancuran. Mari kita cukupkan menghina, lalu belajar memberikan kritik dan saran yang membangun.

Jika berani berucap cinta pada NKRI, lakukanlah segala sesuatunya untuk NKRI berdasarkan cinta

Mari kita sama-sama belajar menghargai negara kita sendiri sebelum menuntut negara lain menghargai negara kita. Dari hal yang paling mudah, mari kita belajar menghargai pemimpin kita. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, dia rela mengorbankan hidupnya untuk mengurusi setiap permasalahan dari sabang sampai merauke, dan saya rasa dia patut untuk kita hargai lebih lagi. Jika kita sudah mampu menghargai negara kita, negara lain pasti tidak akan enggan menghargai negara kita.

Pegang teguh nilai kemanusiaan dan keTuhanan

Mari kita sama-sama saling mengingatkan untuk sebuah kesadaran akan kapasitas kita sebagai manusia yang manusiawi yang akrab dengan dosa dan khilaf, saling mentoleransi sebagai manusia yang terbatas karna kita hanyalah makhluk ciptaanNya yang wajib menjalankan tugas sesuai perintahNya. Dia memberikan masing-masing dari kita peranan, dan marilah menjalankan peran kita dengan sebaik-baiknya untuk memenuhi harapanNya. Sadarilah bahwa hidup kita di dunia hanya sementara, tabunglah kebaikan untuk jangka akhirat.

Penutup

Saya dengan kesadaran dan keterbatasan pengetahuan sebagai warga Negara yang masih duduk di bangku perguruan tinggi mohon maaf sebesar-besarnya jika tulisan yang saya buat ini menyinggung pihak-pihak yang terkait maupun tidak terkait. Harap maklum jika masih banyak terdapat kekurangan baik dalam sistematika penulisan, pemilihan kata, pembahasaan, serta pembendaharaan kata yang seadanya. Atas perhatiannya, saya ucapkan terimakasih.

Saya, menurut sepengetahuan saya mengenai Solusi Hubungan Diplomasi (http://www.scribd.com/doc/4073289/Solusi-Hubungan-Diplomasi-IndonesiaMalaysia) menyatakan siap untuk mendukung pemerintah NKRI menyelesaikan sengketa dengan solusi tersebut sebagai sebuah bentuk langkah awal, jika perkembangan menuntut perubahan terhadap solusi, saya sebagai bagian dari NKRI yang peduli dan mencintai tanah air siap mengabdikan diri untuk nusa dan bangsa hingga tetes darah terakhir.

Advertisements
Comments
3 Responses to “Dari saya, mengenai sengketa Indonesia dengan Malaysia.”
  1. bolehngeblog says:

    pastinya, ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan presiden sby dalam pidatonya…salah satunya adalah keadaan TKI di Malaysia yang jumlahnya mencapai 2 jutaan dan itu belum termasuk TKI yang ilegal..SBY mungkin takut malaysia “mengganggu” para TKI (terlebih lagi TKI Ilegal), sehingga mencoba untuk berhati-hati thd Malaysia

    • Joan says:

      iya saya setuju.. beliau pasti memiliki pertimbangan dan alasan yang cukup berdasar dalam pidatonya.. menurut saya dalam setiap keputusan dan pemikiran kt mengenai solusi yg akan kita berikan seharusnya kita mempertimbangkan dari berbagai aspek.. tidak bisa semata2 karna dirajai emosi lalu mengambil keputusan dengan menutup mata dari situasi dan kondisi baik itu lingkup pemerintah maupun rakyat.. terimakasih ‘bolehngeblog’ atas opininya.. semoga tulisan ini bs bermanfaat.. 🙂

Trackbacks
Check out what others are saying...
  1. […] This post was mentioned on Twitter by Susan R Chrysanova and Arief Hidayat, Joan. Joan said: Dari saya, mengenai sengketa Indonesia dengan Malaysia.: http://wp.me/pV31Z-7A […]



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Joan Arae


    "Art is my breath.. As long as I breathe, Art never dies.."

    A young energetic girl who realizes her existence in this world as a human learner and kept asking in her mind "Why I can't stop thinking & doing here?".

    Gonna be on top! ♥

%d bloggers like this: