untukmu yang kusayang.


Hari ini tepat empat ratus tujuh puluh empat hari kau pergi meninggalkan aku. Aku masih ingat dengan sangat jelas bagaimana rasa pedih di hatiku saat terpaksa harus melepas kepergianmu. Di saat terakhir itu kau hanya terus tersenyum, dan aku hanya bisa terus memperhatikannya, walau sedih karna ternyata itu adalah yang terakhir kalinya.

Tak ada sepatah kata, dan kau bahkan tak sedetikpun menatap mataku yang deras mengalirkan air mata karna batinku tak mampu menahan perihnya luka. Itu goresan terakhir perjumpaan kita. Ya, setelahnya, tak dapat lagi aku berjumpa denganmu walau hanya untuk  sekedar bertegur sapa. Padahal kita dulu selalu berbagi cerita, larut dalam canda tawa, berbagi bahagia, bersama. Bersama.

Di manapun engkau berada sekarang, aku memang sudah tak lagi mampu menjangkaumu dengan kelima inderaku. Namun jauh di dasar hatiku, sering kali masih merasakan besarnya kasih sayangmu yang selalu kau berikan untukku, sejak dulu hingga. . . aku harap tak akan pernah berhingga. . . dan aku yakin pasti begitu adanya.

­________________

Aku ingin sekali bertemu denganmu, membagikan semua kisahku, kisahku yang selalu merindu kehadiranmu. Aku juga selalu rindu ceritamu, cerita tentang bagaimana kau berjuang untuk bisa bertahan di dunia yang semakin lama semakin sinis menatapmu yang tak pernah menangis.

Aku masih sering menuliskan puisi untukmu, puisi yang selalu kuberikan padamu di setiap pertemuan kita. Dan nyatanya akupun masih selalu menunggu senyum bangga dan bahagiamu yang selalu kau lukiskan di wajah tampanmu setiap kali menerima karyaku. Aku masih terus berkarya di sini, seperti yang selalu kau ingini. Aku ingin kau masih di sini, aku tak ingin kau pergi, tapi aku tau semua hanya menjadi mungkin ketika aku ada di alam mimpi.

Aku masih sering menitikkan gerimis di wajah saat tengah malam kusebut namamu dalam doaku. Wajahku, wajah yang selalu kau belai lembut saat aku berada di dekatmu.  Wajah yang selalu merindukan dekapan hangatmu kala aku merasa dunia ini sangat dingin padaku bahkan seperti ingin membunuhku perlahan. Wajahku selalu merindukan setiap tetes kasih sayangmu yang tak pernah habis ditelan waktu.

________________

Kau di sana pasti merindukan aku juga, ya kan? Aku tau itu walau tak pernah kau membisikkannya lagi di telingaku.

Kau di sana pasti masih memperhatikan aku, ya kan? Memperhatikan setiap apa yang aku lakukan, kemudian tersenyum bahagia ketika aku berhasil melakukan segala sesuatu dengan baik walau mungkin tak memberikan hasil yang terbaik.

Kau selalu ingin aku menjadi orang baik, karna aku selalu katakan bahwa yang terbaik itu harapan yang terlalu muluk untuk orang sepertiku. Dan aku . . aku masih berjuang, berjuang untuk tetap menjadi baik seperti yang kau inginkan. Tapi kini aku berjuang sendiri, kau tak lagi di sini, di sampingku menemani. .

Kau sangat menyayangi aku, ya kan? Aku tau itu tanpa perlu kau beri tau. Dan aku yakin kaupun tau bahwa aku juga sangat menyayangimu, selalu, s e l a l u.

Kau selalu memberiku makna di setiap sentuhanmu, kasihmu mengalir tiada pernah berakhir bagai sungai yang tak berhilir bagiku. Aku merasakannya itu, bahkan masih sampai sekarang setiap kali kau kukenang.

Hati kita pasti saling merindu walau kita jauh terpisah ruang dan waktu.

________________

Maha, bagaimana kabarnya dia?

Apa yang dia lakukan di sana?

Maha, bolehkah sebentar saja aku menatapnya?

Maha, bolehkah sekali lagi saja aku menyapanya?

Maha, aku inginkan dia ada di sampingku seperti biasanya..

Maha, bolehkah jika aku menghamba agar Kau mengembalikan dia padaku?

Aku sungguh membutuhkan dia untuk berbagi,

aku tak ingin dia pergi dan aku jadi sendiri..

 

Maha, tapi..

di sana dia pasti bahagia

di sana dia pasti tersenyum setiap kali mengingatku..

Aku yakin di sana dia selalu bersamaMu,

memperhatikan setiap langkahku. .

Kau dan dia selalu menjagaku,

dari surga…

________________

Kakek,

Aku masih di sini, berdiri sendiri..

Kadang akupun berlari, seperti yang kau ingini..

Aku terus mengejar mimpi..

Untukmu, untuk senyummu, untuk banggamu..

Aku sangat menyayangimu..

Walau tak pernah sempat aku mengucapkannya di saat terakhir hidupmu..

Saat aku merindukan sosokmu,

aku selalu berdoa untukmu,

Dan aku tau, dari sana kau pasti tersenyum untukku..

Aku tau kau tak pernah inginkan aku menangis,

dan aku di sini tiada henti berjuang, berjuang untuk selalu tersenyum manis..

Untukmu, kek.. Untukmu, untuk kakekku yang sangat aku sayang. . .

Kek, kita pasti akan berjumpa lagi. .

Aku tau dan aku yakin kau selalu menanti. .

Di sana, di surga, seperti yang selalu kau ceritakan padaku lewat mimpi. .

Tunggu aku, kek.. Tunggu aku kembali..

Kembali dalam dekapmu lagi..

Tunggu aku kembali..

Akan kubawakan sejuta cerita tentang dunia tempat kita pertama kali bersua..

Akan kukirimkan sejuta puisi tentang mimpi yang kita ukir bersama di dalam hati..

Kakek, aku sayang.. sayang sekali..

Kita pasti bersama lagi,

suatu saat nanti..

________________

Maha,

tolong sampaikan ini padanya,

dan sampaikan juga betapa aku begitu merindunya.

Terimakasih.

 

Advertisements
Comments
2 Responses to “untukmu yang kusayang.”
  1. “Wajahku selalu merindukan setiap tetes kasih sayangmu yang tak pernah habis ditelan waktu.” sangat indah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Joan Arae


    "Art is my breath.. As long as I breathe, Art never dies.."

    A young energetic girl who realizes her existence in this world as a human learner and kept asking in her mind "Why I can't stop thinking & doing here?".

    Gonna be on top! ♥

%d bloggers like this: