Tentang Aku dan Dia


Aku : “ Mengapa termenung? Bukannya  wanita disekitarmu tak terhitung?  Selalu ada wanita yang bersedia menemanimu kan?

Dia : “ Ya, tapi aku tak mau mereka. Mereka mau saja ternoda dan sama sekali tak merasa terluka saat aku meninggalkannya. Mereka tak lebih mahal dari segelas minuman keras.


Aku : “ Lalu.. Apa maumu?

Dia : “ Sesungguhnya selama ini, sejak mentari menyapa hingga bulan bertahta yang memenuhi pikiranku hanya kamu. Tapi aku tak pernah tau harus sampai kapan menunggumu karna kebelum-mampuanku.


Aku : “ Kamu tak perlu menunggu.

Dia (sontak tersentak) : “ mak..sud..mu? ka..mu..?


Aku (hening tak bergeming).

Dia (masih terperanjat dalam jerat) : “ Selama ini aku selalu bermimpi ingin mencumbumu di atas sekawanan awan hitam, menikmati romansa hasrat penuh cinta bersamamu sepanjang malam di langit yang terus mengelam. Bersedikah kamu menjadikan mimpiku nyata malam ini?


Aku (bertahan dalam senyum) : “ Menurutmu?

Dia (menjangkar tak sabar) : “ Sejak saat aku melihatmu menari-nari di pangkuan pantai dengan rambut yang terurai disisir semilir angin pesisir, aku sangat ingin memiliki semua keindahan yang ada di dirimu.


Aku (tersenyum sinis) : ” Maaf, tapi aku tak bisa.

Dia (limbung melinglung) : “ Tadi katamu aku tak perlu menunggu, mengapa sekarang kau katakan tak bisa?


Aku (nada perlahan meninggi) : “ Kamu tak perlu menunggu karna itu hanya akan sia-sia! Kamu pikir aku sama seperti MEREKA yang katamu mau saja ternoda dan sama sekali tak merasa terluka??

Dia : “ Kamu jangan salah paham dulu.. maksudku bukan begitu.. maksudku…


Aku (menangkis dengan tangkas) : “ Aku tak peduli maksudmu. Kamu mencoba merayuku padahal sebenarnya kamu sama sekali tidak menghargai aku kan??

Dia : “ Aku bukan tidak menghargaimu.. Dengar dulu penjelasanku…


Aku (menyela tanpa memberi celah) : ” Aku harus pergi,aku ada janji menemani dia (menunjuk seorang pria muda yang sedang berdiri di samping Mercedez-Benz seri E-550). Dia menghargaiku lebih dari segelas minuman keras!

_____________


Dia (diam dalam temaram) : “Aku memang belum mampu, bukannya tak menghargaimu.

_____________


Aku (sesal dalam kesal) : “Aku ini berkelas! Berlagak romantis merayuku dengan seribu kata-kata puitis, padahal tak bermodal! Buang-buang waktu!




Note : This is my style fiction of extreme brevity literature.



Advertisements
Comments
3 Responses to “Tentang Aku dan Dia”
  1. joan6 says:

    makasiiyy yaa ekaa… 🙂

  2. eka yazid says:

    pembuatan karakter yang bagus, aku suka……..
    hehehe….

Trackbacks
Check out what others are saying...
  1. […] This post was mentioned on Twitter by GhinaAghniaGhassani, jooaan. jooaan said: Tentang Aku dan Dia: http://wp.me/pV31Z-6j […]



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Joan Arae


    "Art is my breath.. As long as I breathe, Art never dies.."

    A young energetic girl who realizes her existence in this world as a human learner and kept asking in her mind "Why I can't stop thinking & doing here?".

    Gonna be on top! ♥

%d bloggers like this: