Aku, Hati, dan Kampus.


Hari ini, aku berangkat setengah hati. Bangun pagi terasa begitu menyebalkan, rasanya masih ingin tidur lagi. Tapi, untungnya tidak jadi. Kalau tidak, aku pasti menyesal sekali.

Melewatkan semua pemandangan ini..

kampus ramai

mahasiswa baru wara wiri

tanya sana sini

bingung cari itu ini..

lucu sekali!

_______________

aku jadi iri,

rasanya baru kemarin aku mengikuti seluruh rangkaian orientasi

rasanya baru kemarin aku begitu bangganya menjadi seorang mahasiswi.

tanpa tapi,

waktu mengingatkan aku harus segera meninggalkan tempat ini

walau hatiku sejujurnya belum ingin langkahkan kaki untuk pergi.

kini,

aku jadi mulai merasa asing dengan semua yang terjadi

aku jadi mulai merasa tak seharusnya lagi ada di sini

_______________

Empat tahun sudah kita belajar di kampus ini, sekarang waktunya untuk kita segera lulus. ” bisikku pada si hati.

Aku sesaat terpaku

hati sedang meragu.

Aku tahu, kamu masih ingin di sini, ya kan ? Aku juga sama, biar bagaimanapun, kampus ini yang telah merawat dan membesarkan aku empat tahun belakangan.. tapi kita harus segera pergi, ‘mereka’ sudah datang untuk menggantikan. ” aku mencoba memahami si hati yang masih sangat kesulitan menghadapi semua kenyataan.

_______________

Kamu

pasti ragu

aku tau

walau sejak tadi kamu membisu

tapi aku sungguh mengerti kamu

aku juga merasakan hal itu

sama denganmu.

_______________

Dua jam sudah berlalu, aku sudah selesai mengurus berkas-berkas kelengkapan persyaratan untuk mengikuti ujian komprehensif yang akan dilangsungkan tanggal 25 bulan ini. Aku sekarang berdiri di depan ruang dosen koordinator ujian bersangkutan untuk mendaftarkan diri menjadi peserta. Aku cek satu per satu berkas sambil mengurutkannya sesuai dengan ketentuan yang terpampang di depan ruang dosenku itu.

Formulir pendaftaran, transkrip nilai, sertifikat TOEFL,  surat bebas biaya, bukti pembayaran ujian. Ok,siaapp! ” ujarku dalam hati.

Setelah selesai menyerahkan semua berkas dan menuliskan nama di kertas yang diberikan dosen tadi, aku menjenguk jam di tangan kiriku ” Ooops! Sudah setengah satu.. harus buru-buru nih, kuliah jam satu, kalau telat bisa gawat! ” sedikit tersentak, kemudian segera aku nyalakan mesin roda empatku yang terparkir tepat disamping kampusku.

_______________

Tidak begitu lama aku menunggu di dalam kelas walau dosenku datang terlambat, beliau hampir lupa bahwa hari itu kuliah sudah dimulai. Aku duduk manis di kursi empuk yang disediakan di ruang nan sejuk tempat kegiatan belajar-mengajar hari itu berlangsung. Lalu aku hanyut dalam sebuah diskusi panjang bersama dosen dan rekan-rekanku di kelas, membahas mengenai metodologi penelitian. Tak terasa dua jam telah berlalu, kelaspun diakhiri dengan beberapa catatan dari dosen mengenai tugas dan topik yang akan dibahas pada pertemuan minggu depan.

_______________

Ini kampus kita sekarang, bagaimana, apa kamu bisa mencintainya seperti kamu mencintai kampus kita dulu? Suasananya memang agak berbeda, tapi, bukankah kampus ini lebih nyaman? Fasilitas yang diberikan begitu berlimpah. Penyikapan dari setiap individu yang kita temui di sini juga berbeda, kita dianggap lebih dewasa, kita diperlakukan setara. Bukankah itu menyenangkan? Walau kita dituntut jauh lebih mandiri dalam mengkonsumi semua materi yang diberi, tapi aku yakin kita pasti bisa lalui semua ini. Yang terpenting bagiku sekarang, apakah kamu mampu jatuh hati (lagi) dengan kampus baru ini?

Hening.Tak lama kemudian wajahku mulai menyunggingkan senyum pertanda gembira.

Kamu sudah mulai jatuh hati kan? Terimakasih ya, semoga ini jadi awal yang baik bagi kita memulai kehidupan yang baru di sini. Aku akan buat kamu mampu mencintai kampus baru ini, tanpa kamu perlu melupakan kampus kita dulu. Kita nikmati ya, bersama. Belajar lagi, di sini. Temani aku sampai suatu hari nanti kita harus meninggalkan kampus baru ini (lagi)..

Tidak kulanjutkan kalimatku, karna aku tidak ingin merusak kesenanganku dan si hati.

Kami sama-sama tidak begitu suka dengan kata ‘meninggalkan’, aku sangat memahami dia soal hal itu.

Aku tutup perbincanganku bersama si hati dengan sebuah janji :

kalau nanti sudah lulus ujian komprehensif, aku tidak akan ucapkan ‘selamat tinggal’ pada kampus lama yang mengukirkan sejuta cinta pada setiap cerita yang terlukis, walau sambil menangis aku akan ucapkan ‘sampai jumpa lagi di kehidupan mendatang’ dengan tulus.

Dan untuk kampus baru, aku ucapkan “ Selamat datang! Aku senang, hati riang.. Kami siap berjuang! Untuk masa datang yang gemilang!

_______________

Sekarang aku masih seorang siswi yang bergelar ‘maha’

yang membedakan hanya sekarang aku sudah strata dua

aku akan terus berjuang untuk buat semua bangga

suatu hari nanti ijinkan aku ukirkan senyum bahagia

di hari aku wisuda.

_______________

Terimakasih, Maha!

masih Kau ijinkan aku tetap bernyawa

aku tak ingin Kau jadi kecewa

dan semua sia-sia

aku akan terus berusaha

hingga ajal bertahta.

Terimakasih, Maha!

atas semua yang Kau anugerahkan, semua.

_______________

Untukmu pembaca, tolong dukung aku lewat doa.

Terimakasih ya, sebelumnya!

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Joan Arae


    "Art is my breath.. As long as I breathe, Art never dies.."

    A young energetic girl who realizes her existence in this world as a human learner and kept asking in her mind "Why I can't stop thinking & doing here?".

    Gonna be on top! ♥

%d bloggers like this: