Bali, 12 Agustus 2010.


Tiga malam sudah aku mencari bintang di langit, tapi ia tak kunjung menyapaku dengan terangnya.

Hey, di mana kamu ? Aku merindumu..” hati kecilku bertanya dalam isaknya setiap kali aku memandang langit malam di Denpasar, kelam. Ya, hanya kelam, tak ada cahaya, sungguh kebahagiaan yang kuteguk setiap malam di pulau dewata ini terasa kurang sempurna tanpanya.

Kemarin sore di pinggir Pantai Kuta, di atas pasir dan ditemani angin semilir aku berdiri menatap mentari yang berpamit diri, kemudian kuminta Bli Komang (seorang pelukis temporary tattoo) menggambarkan bintang di pundak dan kaki kananku. Saat itu aku berfikir “Kalau tak kutemukan lagi bintang di langit nanti malam, minimal aku tak lagi merasakan kehilangan yang mendalam seperti malam-malam sebelumnya dengan memandangi bintang-bintang yang terlukis di tubuhku ini sebagai pengobat rinduku..

Dan lagi-lagi malam itu, walau sudah kutunggu sampai pukul empat dini hari berikutnya, tetap saja bintang tak juga menampakkan wajahnya. Aku mulai merasa depresi, kehilangan inspirasi, seperti mau mati. Di dalam hati, terasa sepi, benar-benar tak terobati.

Semalam (11 Agustus 2010), emosiku mulai terreduksi, inspirasiku terdegradasi, dan otakku . . . mulai frustasi. Ternyata bintang yang kucari tak terganti walau terlukis bintang-bintang di diri ini. Kupasang headset di kedua indera pendengarku agar suara mp3-ku tidak mengganggu kawan-kawanku yang ingin beristirahat. Saat itu mulai menjelang midnite, aku mulai menulis di atas kertas :

Hey kamu ! Aku rindu…

Malam ini, lagi-lagi ditemani sendu..

Hati ini, lagi-lagi dirundung rindu…

Dan… rasa ini… pilu…

Di mana kamu ?

Aku… masih menunggu…

Kamu tak tau,

dalam bisu, aku merindumu..

sungguh ingin rasanya mengadu,

tapi… dimana.. kamu ?

aku… rindu…

_________________________

Lalu aku lanjutkan diamku menatap langit malam, menanti sahabat yang dinanti namun tak jua menampakkan diri.

sahabat, ini aku . . dan rindu . . di mana kamu ?

jangan biarkan akulebih lama lagi menunggu..” bisik hati kecilku. pilu.

Dan dalam penantianku, yang datang malah telefon itu, telefon dari seseorang yang bahkan sama sekali tak kunanti. Tak lama aku berbincang dengannya, segera kuakhiri karena perbincangan kami sama sekali tak berisi, dan malah memanaskan hati. Setelah kututup telefon, lalu kucari nomor telefon seorang kawan di phonebook, kuhubungi dia dan kami hanyut dalam melodi diskusi. Topik malam itu sungguh tak terprediksi, berawal dari cerita tentang telefon ‘yang tak menyenangkan’ tadi, sampai akhirnya menyimpang ke ranah sensasi. Ya, kami tertawa dan bercanda dalam piluku malam itu.

Sambil kupandangi langit..

laluuuu…

Nes! Akhirnya setelah sekian malam aku menanti bintang sekarang di atas sana ada satu, bintangnya terang banget!! cuma satu ditengah-tengah langit yang begitu gelap, terangnya itu seolah menyapaku, menyapa batinku… ” ujarku girang menyimpang dari perbincangan, disambut tawa oleh kawanku yang mungkin tak habis fikir dengan pernyataan yang baru saja aku keluarkan.

Kepala dan rasa di hati mulai terdistraksi. Tapi ternyata senang itu hanya sekejap kukecap. Langit kemudian mulai kembali menghitam, gelap lagi-lagi merebut keceriaanku. Dan.. malah gerimis yang mulai menari-nari dihadapanku. Sungguh kejam kau, malam! Kau rajam aku dengan kelam.

Kawanku di seberang telefon kembali menghiburku, mengajakku kembali hanyut dalam tawa. Aku bicara di telefon genggam sambil memandang bintang-bintang di kakiku, berharap ini dapat mengobati kekecewaanku, walaupun tak sebegitunya mampu. Kawanku tak habis fikir dengan semua yang aku nyatakan dan lakukan, namun ia tetap membiarkan aku menikmati semua caraku melewati malam yang menggelisahkan hati. Ia menemani dari seberang telefon sambil menikmati segala sensasi yang cukup kontroversi dalam perbincangan kami.

Ketika perbincangan kami akhiri, aku kembali sendiri, merenung dalam sepi. Di tengah hati yang sunyi, kudengar rintih naluri. Ditemani gerimis, aku berusaha menahan tangis. Rasanya lebih baik menangis dalam hati daripada menitikkan gerimis juga di wajah. Aku sedang tak bersahabat dengan gerimis malam ini, karena ia membuat sahabatku meninggalkan aku (lagi).

_____________________________

Wahai bintang sahabatku, tiap hari mulai malam, aku selalu menunggumu…

Tahukah kamu?

Aku tak paham apa namanya rasa ini, tapi.. aku.. entah sejak kapan, aku begitu mengagumimu..

Bintang, aku ingin sepertimu…

Aku takkan bisa menjadi kamu, tapi aku ingin sepertimu…

Maukah kamu mengajarkan aku?

Ajarkan aku, bagaimana agar tetap terlihat terang di tengah kelam..

Ajarkan aku, bagaimana agar mampu memberi indah di kala muram..

Ajarkan aku, bagaimana agar bisa menjadi bidadari disaat hari malam..

Ajarkan aku, bukan untuk menjadi kamu,

tapi untuk menjadi seperti kamu…

Malam ini, aku berjanji . . pada diriku..

Aku tetap dirikku, namun ingin milikki terang seperti terangmu..

Aku ingin milikki indah seperti indahmu…

Aku ingin menjadi bidadari . . sebaik kamu…

sssst, Angin, tolong sampaikan bisikku padanya di atas sana ya!

_____________________________

Bintang,

Saat gelap, ia di sana, dengan terangnya menemani..

Saat terang, ia masih di sana, walau tak lagi menerangi..

Ia biarkan sahabatnya mentari menunjukkan eksistensi di muka bumi..

Ahh, bintang, sungguh kamu yang kukagumi..

_____________________________

Dear kamu,

Aku ingin menjadi seperti bintang,

yang tidak hanya hadir saat kamu bahagia,

tapi juga menemanimu disaat terluka..

Aku bukan ingin membuatmu tergila padaku,

tapi hanya ingin torehkan sedikit rindu

di hatimu..

Karna aku bukan ingin terkenal, tapi ingin terkenang..

_____________________________

Aku tulis status di facebook ” Let it flow.. Just feel the flow..I feel so painful, but everything still beautiful.. because I love You full, myLord. 🙂

Lalu aku berbisik “ Selamat pagi mentari, kamu datang cepat sekali.. Tidurlah kembali, aku belum ingini pagi.

Dan tulisan ini . .

Selesai.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Joan Arae


    "Art is my breath.. As long as I breathe, Art never dies.."

    A young energetic girl who realizes her existence in this world as a human learner and kept asking in her mind "Why I can't stop thinking & doing here?".

    Gonna be on top! ♥

%d bloggers like this: