autumn for my bed


kejadian malam itu sungguh masih membekas begitu pilu di benakku…
semua memori tentang perjumpaan terakhir kita tak akan pernah terlupa..
ya, perjumpaan terakhir, karna setelahnya bahkan kita tak pernah lagi bertegur sapa..

“kita udah gak bisa sama-sama lagi.. kamu menarik tapi aku sudah tertarik dengan yang lainnya..” ucapmu yang membuat hujan di pelupuk mataku kian deras malam itu..

segera aku tinggalkan kamu setelah itu, berlari menuju……. entah kemana aku menuju, akupun tak tau!
yang aku butuhkan ruang sunyi karna aku ingin sendiri.
cuma itu bisik hatiku yang terdengar sayup-sayup di tengah erangan pedih yang terucap dari bibirku..
ya, bibirku.. bibir yang terakhir mengecupmu manis.. manja dan sinis…

perselingkuhanmu yang kesekian kalinya.. begitu pedihnya, hingga aku tak bisa lagi bertahan dalam daya.. berulang kali aku mencoba mempercayaimu, tapi ternyata semua tetap semu, semu dalam kalbu, karna kamu buat aku kian membiru dalam pilu…

di tengah kepedihan itu, aku ambil telefon genggamku dan dengan segera kutekan angka-angka yang tertera di sana.. oh..aku benar-benar dilema dalam luka…
“halo.. jooo.. lo dimanaa? lo gapapa kan? daritadi gw hubungin lo susah bgt.. lo diapain lagi sama dia?” suara sahabat di seberang telefon..
“lo di kos kan? gw ke tempat lo sekarang ya… gw sedih banget.. ga tau harus gimana..” jawabku ditemani segala kelu di lidahku…
“iya cepetan sini..” katanya..

“dia selingkuh.. lagi.. sama selingkuhannya yang kedua waktu itu.. ternyata mereka bohongin gw selama ini..” terbata menahan tangis karna aku tak ingin sahabatku menjadi miris dalam ringis-nya…

“joo..udah ya.. udah.. cukup ya sama dia.. gw jg bingung kenapa lo masih balikan lagi sama dia sih.. skarang lo gini lagi kan… udah udah.. lo udah terlalu baik sama dia, dan menurut gw itu udah cukup.. karna dia gak pernah bisa mensyukuri keberadaan lo..” sahabatku berujar dalam gelegar amarahnya yang tertahan. ya amarah, tampak dari wajahnya yang mulai memerah dan hatinya yang terasa gerah melihat aku tersiksa dalam duka akibat luka karna mencinta..

setelah aku ceritakan kronologis peristiwa hari itu, sedih dan pedih hatiku sedikit tersisih.. tepatnya terbagi pada sahabatku yang baik hati menemaniku melewati malam dalam balutan hitam sang kelam yang teramat muram …
detik demi detik berlalu, hari membaru, dan aku harus segera pulang sebelum pintu gerbang kosku tak lagi dapat diterjang..

kurebahkan diriku di atas spring bed di kamarku.. sedikit berfikir mengapa rasanya malam ini tempat ini inginnya kunamai autumn bed ya? ya, autumn..musim itu nampaknya lebih cocok menemani lelapku malam ini..

sayang, walau begitu seringnya aku lupa ingatan, namun sampai kapanpun aku tak akan pernah hilang ingatan mengenai semua yang tadi kau torehkan.. torehan kisah kasih pilu bak diiris sembilu yang menyisakan bilur dalam kelamur..

kumiringkan tubuhku ke samping kanan, sejenak bercerita pada Sang Maha, lalu kuakhiri ceritaku dengan menitipkan pada-Nya benda kecilku yang rapuh dan meleleh karna lepuh sampai jangka waktu yang tak tentu..

“terimakasih bijaksana untukmu, mantan kekasih”
akhirnya tanpa sadar terlelapku bersama hatiku yang berguguran karna-nya…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Joan Arae


    "Art is my breath.. As long as I breathe, Art never dies.."

    A young energetic girl who realizes her existence in this world as a human learner and kept asking in her mind "Why I can't stop thinking & doing here?".

    Gonna be on top! ♥

%d bloggers like this: