Bandung, 6 menuju 7 agustus 2010.


“hey, mentari! selamat pagi..
masihkah mau kau berikan senyummu padaku hari ini?
bussy ‘ itu judul hariku (lagi)..
aku mulai tertatih,
tapi aku tak ingin merintih..
aku ingin terus terus dan terus berlatih,
karna aku yakin aku tidak ringkih..”

itu bisik lirihku pada diriku pagi ini saat tak kutemukan sahabat merahku di atas awan..
ya, hari ini aku memulai hari dengan tersenyum di bawah lengkungan pelangi.. hari hujan!

begitu banyak pilihan yang membuat aku mulai tertekan..
”hey, ingat kamu itu hanya gadis kecil yang tidak tahu apa-apa tentang kehidupan!”
itu bisikan-bisikan yang menghantui setiap kali aku ingin memutuskan..
bisikan yang selalu membuat aku berakhir pada keragu-raguan..
baiklah, aku rasa kali ini aku benar-benar membutuhkan sebuah pembenahan!

kulangkahkan kakiku perlahan menuju parkiran,
yeaaa.. segera aku panaskan kendaraan perangku! dan…
“ayo, kita segera melaju..” itu kataku padanya..

jalanan hari ini terasa lebih ramai dari biasanya,
entah mengapa…
huh!
segera aku tersadar untuk tak boleh mengeluh,
karena itu hanya akan menambah peluh..
peluh dalam hati terasa lebih menyebalkan dibanding peluh yang mengalir di sekujur tubuh!

dan ketika ingin aku memulai langkahku kembali menuju dunia baru,
lagi-lagi hatiku dirundung ragu..
‘kenapa sih kamu?’ itu pertanyaan yang aku jadikan pernyataan dari kawan-kawanku..
ya pernyataan, karna aku tak memberikan jawaban dan hanya melempar seutas senyum pilu..
segera setelahnya kutinggalkan kampusku..

sekian waktu kuhabiskan untuk berbincang dengan kemacetan, dan akhirnya kuhentikan mobilku di depan surga duniaku.. di sini aku akan menghabiskan waktu untuk memanjakan diriku dan sejenak melepaskan penat di kepalaku.. terasa begitu menyenangkan ketika seluruh tubuhku disentuh dengan sentuhan berirama di ruang remang itu ditemani wewangian aroma terapi yang akupun tak pernah tau apa nama baunya.. ‘body acupressure ‘ itu menu yang kupilih tadi di depan..

dua jam telah berlalu, dan kini aku kembali melaju..
melaju untuk memenuhi janji dengan seorang kawan untuk bertemu..
bertemu memperbincangkan mengenai apa yang akan kami ramu..
seharusnya pertemuan itu terlaksana jam enam,
namun apa daya situasi jalanan benar-benar kurang bersahabat dan membuat aku terlambat satu setengah jam..

“maaf aku terlambat..” hanya itu yang mampu aku ungkapkan saat beradu pandang dengannya..
sebelum akhirnya kami larut dalam sebuah perbincangan seru mengenai mimpi-mimpi ke depan, sebuah rencana..
rencana yang sungguh mulia, aku rasa..
sungguh menarik semua isi perbincangan itu, semula agak canggung tapi kelamaan menjadi seru di setiap keterlibatan..
namun detak di dinding itu mengingatkan bahwa hari telah larut malam, maka kamipun harus berujung di sebuah kesimpulan..
kesimpulan untuk bersama berkarya dan mereguk kenyataan dunia sambil tetap berjuang diiringi nikmat dari setiap proses pengolahan hingga suatu hari nanti karya kami akan menjadi produk unggul yang mampu dinikmati oleh para penikmat di luar sana.. dan kamipun tak lupa bagian uji kenikmatan yang akan kami laksanakan setiap sehabis menghasilkan sebuah karya di pertemuan-pertemuan selanjutnya..

kelam mulai merajam,
oh! hari sudah malam..
lampu-lampu di ruangan mulai padam,
menandakan kami harus segera mengakhiri pertemuan itu,
ya, segera sebelum terkunci semua pintu..

setelah mengucapkan ‘sampai jumpa lagi’ pada kawanku,
segera aku melarikan roda empatku ke arah tempat tinggal sementaraku..

semua yang terekam dalam ingatanku di perbincangan kami tadi sungguh membuat adrenalinku terpacu..
semangatku kembali menderu..
segera aku bercerita kepada sahabat elektronikku..
tentang bagaimana aku menyelesaikan hariku..
tak peduli aku pada sang waktu,
walau ia mengingatkan bahwa ini sudah pukul satu..

sebelum kututup hariku,
tadi sudah kukirim pesan eletronikku,

“Joan, kebetulan terlahir di Jakarta tertanggal 16 Juni 1988. Seorang gadis muda yang sadar sebagai manusia pembelajar, selalu menjalani hari dengan hati dan pertanyaan dalam diri ‘mengapa aku tidak bisa berhenti berfikir dan berbuat?”. Pemimpi yang menjadikan seni sebagai ekspresi melodi emosi, ungkapan rasa dari asa-nya yang hanya ingin diterima apa adanya. Menulis untuk memahami esensi dan memaknainya dalam realita kehidupan, dan berharap karyanya mampu dinikmati para penikmat.”

ya, itu tulisku..

singkat,
namun cukup untuk aku menyuratkan apa yang tersirat..

kurasa aku harus segera memejamkan mata,
karna aku berharap esok dapat melihat senyum manis sahabat merahku yang tadi pagi tak menyapa..

aku ingin tetap menulis, aku suka menulis, walau bagaimanapun tulisanku, aku hanya ingin menulis.. ya menulis.. karna menulis membuat aku tak perlu meringis dan menangis saat mengais dalam realita yang sinis.. sungguh romantis beradu dalam kata-kata puitis!

semoga Sang Maha ijinkan aku untuk terus menulis..
walau aku bukan seorang berprofesi penulis..
walau aku mungkin terlalu idealis,
atau jangan-jangan teralu realis?
ah! aku tak peduli.. hanya ingin menulis..

*terimakasih untuk kalian yang menemaniku berbagi cerita hari ini*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Joan Arae


    "Art is my breath.. As long as I breathe, Art never dies.."

    A young energetic girl who realizes her existence in this world as a human learner and kept asking in her mind "Why I can't stop thinking & doing here?".

    Gonna be on top! ♥

%d bloggers like this: