dekonstruksi dalam kontemplasi


hey anak bangsa!
kita ini sudah merdeka,
kembalilah pada konteksnya..
berhenti mengkritik sejarah,
konstruksi sosial bukan untuk dijajah,
cukup sudah semua pertumpahan darah!

anggapan-anggapanmu itu terlalu angkuh,
coba tengok, mungkin saja karna otakmu terlalu keruh..

jangan kau proklamirkan posisi institusi,
jika tak mampu kau bawakan resolusi,
ini bukan tahta tirani..
jangan malah kau terus berebut materi,
memang itu bisa dibawa mati?
terus janjikan prestasi,
padahal hanya diplomasi..
cukuplah sudah rakyat dijejali janji,
masih punya kan kau nurani?
mereka itu mempertanyakan aksi..

coba jenguk sedikit dunia nyata,
sudah berlimpah kan kau dibanding mereka?
lalu pikiran rakyat masih ingin kau rekayasa?
mau kau bawa kemana Indonesia kita?
berhentilah menghamba pada harta..
mulailah perhatikan mutu dalam karya,
junjung tinggi kejujuran dalam kata..

angkat kakimu,
keluarlah dari area abu-abu,
rakyat mempertanyakan ketegasanmu!
dimana malumu?
buka mata hatimu,
tunjukkan kalau kau memang mampu!

duduk di sana sebuah prestise tak ternilai bukan?
berdiri di sana sebuah eksistensi tak terbeli bukan?
kalau begitu segeralah buktikan!
bahwa semua yang kau miliki itu memang layak,
bukan sekedar keabsolutan diri yang congkak..

hadirkan irama abadi dalam relung semesta,
berikan jawaban kegelisahan ruang batin mereka,
berikan nafas di tanah khatulistiwa,
dan jangan lupa mohon rahmat nirwana..

tunjukkan pesona sebagai anak bangsa,
jaga kemilau nusa agar tak lagi dihina..
segera!

aku memang hanya rakyat yang berdiri di bawah kibaran sang saka,
aku memang tak punya kuasa berbicara di sana,
aku hanya bisa berharap pada kalian para penguasa,
tidak muluk, hanya berharap realisasi dari pancasila,
ya pancasila, ideologi bangsa kita!

aku hanya bocah,
yang jengah pada kesenduan semesta,
aku hanya bocah,
yang muak melihat hujan air mata mengguyur persada,
aku hanya bocah,
yang hanya bisa menuliskan buah pikiran dalam goresan tinta,
yang ingin menuliskan kesuksesan di kertas perjalanan bangsa.

tulisan ini bukan sekedar retorika demonstratif,
tapi jadikan sebagai retorika deliberatif!
berharap semua pihak bisa kooperatif..
terimakasih secara definitif dan deskriptif!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Joan Arae


    "Art is my breath.. As long as I breathe, Art never dies.."

    A young energetic girl who realizes her existence in this world as a human learner and kept asking in her mind "Why I can't stop thinking & doing here?".

    Gonna be on top! ♥

%d bloggers like this: