Trial and Error


Bandung,
11 September 2oo9.


Lagi lagi dan lagi televisi maupun situs berita di Indonesia marak membahas persoalan Malaysia,
dan gw yg tadinya hanya tersenyum dan memilih ‘no comment’ krn nanti dibilang sok tau jadi kesulitan menahan hasrat untuk mengajak merefleksikan apa yg uda terjadi di negri tropis Indonesia tercinta ini..


sebelum lebih jauh, gw mau memberi tahukan bahwa di dalam artikel ini hanyalah tumpahan hasil pemikiran seorang mahasiswi biasa yg sedang menimba ilmu di bangku kuliah yg punya mimpi suatu hari bisa membawa Indonesia gak hanya satu langkah maju ke depan tapi dua langkah.
ibarat kita jalan kaki, ga enak kan kalo cm majuin kaki kanan, gak sinkron ama kaki kirinya, akhirnya kita berdirinya ga tegak dan malah agak bungkuk,
sama aja seperti Indonesia, kalo selama ini dibawa selangkah maju ke depan ya jd ga sinkron, jd belum bs berdiri tegak sbg INDONESIA.


Jangan dibawa berfikir lebih melenceng, paragraf ini hanya pengantar aja untuk gw memulai curhat.


Masalah Malaysia begini begitu bla bla bla kayanya uda hampir ga pernah absen nangkring di pembahasan berita2 nasional, menurut gw berita itu ya ada yg bener ya ada juga yg malah jd seolah-olah menghasut perang.
dan sbg salah seorang ‘MAHA’-siswi dengan beban gelar MAHA itu gw mencoba berfikir sedikit lebih intelek dibanding mencaci maki yg ujung2nya buangin energi gw tapi ga jg ngasi solusi.
eitss, tapii gw lewat tulisan ini ga ngasi solusi lho, jd kl ga mau meneruskan membaca jg gpp, gw cm mau mengajak berfikir dan berdiskusi bersama..


Langsung aja ke inti masalahnya, gw mungkin ga suka ikut2an caci maki Malaysia, bukan krn gw ga nasionalis, tp krn gw mau mempergunakan energi dan volum otak tersisa lebih efisien aja!

mayoritas manusia yg hidup di muka bumi ini mengakui bahwa lebih mudah mencari kesalahan orang lain ketimbang diri sendiri, dan gw termasuk dalam mayoritas tersebut.

mungkin ini relevan dgn kondisi kenegaraan saat ini, yg gw liat banyak orang yg melihat dengan jelas kesalahan yg dibuat negara tetangga kita tapi ga mencoba untuk merefleksikan diri negara tercinta kita ini, but it’s ok..

itu bukan sesuatu hal yg salah, hanya mungkin akan jauh lebih tepat jika kita tidak hanya mencaci tetangga kita itu, tapi kita membenahi diri kita ini agar esok lusa bs selalu berdiri tegak di depan semua tetangga dan tidak lagi diperlakukan tdk menyenangkan.


contoh paling simple, masalah HAK PATEN kebudayaan, pernah tau ga sih kalo banyak lho rakyat daerah yg datang jauh2 ke Jakarta dan mengurus untuk mematenkan suatu produk milik daerahnya. Di sisi lain, hey liat deh pemerintah juga udah menyediakan fasilitas mudah untuk membuat hak paten tersebut, hanya dengan Rp. 40.000,- saja.

berarti kebutuhan yg muncul dari rakyat sudah difasilitasi kan oleh pemerintah ? tapii sayangnya, rekan2 senior kita yg bekerja di bidang tersebut terkadang suka ‘nakal’ yg tadinya Rp. 40.000,- bisa tiba2 terbelit birokrasi ‘khayalan’ dan akhirnya menjadi Rp. 4.000.000,- untuk membuat hak paten even itu budaya maupun suatu produk, dan rekan yg nakal itu ga cuma satu, yaa jadi kebayangkan betapa sulitnya kawan kita dari daerah dengan ongkos mandiri dan niat baik melestarikan dan mematenkan hak budaya daerahnya jadi harus merogoh kocek yg menjadi berlipat2.

dan bukan suatu kesalahan juga kalo akhirnya mereka memutuskan untuk ‘nanti dulu deh’ mematenkannya, dan juga gak salah dari sudut pandang tetangga itu kalo tiba2 dia mematenkan duluan.
Mungkin kita semua bs menyimpulkan sendiri siapa yg menjadi asal muasal pembuat masalah tsb. Dan patut ditekankan, siapapun yg menurut kita salah ya tergantung dari sudut pandang mana kita melihat, jd siapapun itu ya bisa saja.

kalo kalian mencoba mendalami ilmu ‘manajemen transfer teknologi’ mungkin kalian akan beranggapan spt gw, yaitu Malaysia gak salah, dia justru pandai dan cerdik dalam melihat dan mempergunakan peluang.

Dan Indonesia gak bodoh, hanya saja terkadang kita gak sadar apa yg kita miliki sebelum yg kita miliki itu hilang kan?

kesimpulan gw, kebutuhan Indonesia yg mendasar adalah PEMBENAHAN POLA PIKIR.


yaa.. terkadang sebagai generasi muda calon penerus bangsa ga ada salahnya lho kt mulai memikirkan sistem pemerintahan yg skrg ini masih relevan kah? atau perlu sedikit polesan pembenahan kah? pembenahan seperti apa kah yg dibutuhkan ?

supaya ketika saatnya kt duduk sebagai pimpinan bangsa kt bs melakukan ‘sesuatu’ yg semoga menjadikan Indonesia lebih baik lagi.
ketimbang kita mencaci dan menyalah2kan pemerintah yg skrg, yg notabene ga akan membuat para elit2 politik itu berubah, adanya kt hanya dianggap angin lalu..


bukankah akan menjadi lebih efektif bila skrg kita timba ilmu setinggi2nya, berjuang agar suatu hari bs menjadi salah satu dr mereka yg punya kuasa membenahi pemerintahan Indonesia dan melakukan sedikit banyak polesan di negara kita yg tergores2 ini?

membenahi sistem memang tidak mudah, apalagi dalam kurun waktu yg hanya 5 tahun dalam satu periode kepemimpinan.
tapi minimal kt bs memulai membangun pondasi kuatnya, dan meregenerasi pimpinan2 berikutnya untuk meneruskan perencanaan yg kita miliki.


so, got the point ? PERENCANAAN menjadi point terpenting untuk membenahi pemerintahan.
perencanaan yg tepat, yg mungkin akan menuntut pengorbanan yg jauh lebih banyak. maukah kita terus berkorban? even kita hanya menerima caci maki dr rakyat? ask ur heart, darling..


Indonesia sebenarnya negara yg kaya, negara yg hebat, dan banyak lagi pujian yg hanya ‘sebenarnya’..
gak capek gitu telinga lo mendengar kata ‘yg sebenarnya’ ??
gw sih lumayan bosen dan lelah, dan sering terlintas pikiran “kenapa sih mental ‘yg sebenarnya’ itu dipertahankan ? ayolah.. ini udah bukan jaman kuda gigit besi, mendingan skrg kita bangun mental ‘menRENCANAkan dan meREALISASIkan’ gimana, setuju ?”

walaupun kita gak tau apa perencanaan kita uda jd yg terbaik untuk Indonesia atau belum, tapi kan ga ada salahnya mencoba.. ya gak?
yg penting niat kita uda baik, dan gw yakin apa yg kita korbankan ga akan sia2 gitu aja.. namanya juga trial and error, siapa sih yg bs tau hasilnya spt apa kalau belum mencoba?

Ayo semangatt, simpan energi kita untuk sesuatu yg lebih positif ketimbang membuang2 percuma energi kita untuk melakukan hal2 negatif seperti mencaci dsb, itu ga akan merubah apa2, percaya dehh 🙂


MERDEKA !!!

Regards,
Joan.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Joan Arae


    "Art is my breath.. As long as I breathe, Art never dies.."

    A young energetic girl who realizes her existence in this world as a human learner and kept asking in her mind "Why I can't stop thinking & doing here?".

    Gonna be on top! ♥

%d bloggers like this: