gempa dan metropolis humanis


manusia itu egosentris,
berfikir diri adalah aku,
membedakan diri dengan orang lain.

padahal sebenarnya manusia hanyalah SATU dari unsur keagungan alam.

Tempora motantur et nos mutamur in illis
setiap sudut dunia kini berubah dengan cepat,
berubah penuh kenikmatan ironis.
tak ada pemerataan, yang ada hanya keserakahan.
ketimpangan melanda antar generasi,
menyisakan sengsara.
dunia yang bulat kini menjadi terlipat.

mungkin kata Mahatma Gandhi relevan,
“The earth has enough for eveyone’s need but not for anyone’s greed”

pilih mental kelimpahan atau mental kelangkaan?
hidup itu pilihan,
maka pilihlah dengan bijak.

  • abundance mentality : keyakinan bahwa segala sesuatu akan cukup bagi semua orang, rahmat Tuhan berlimpah untuk setiap umatNya.
  • scarcity mentality : keyakinan bahwa segala sesuatu tidak cukup bagi semua orang, rahmat Tuhan terbatas jumlahnya.

manusia mengutamakan hukum ekonomi demand and supply,
menganggap itu cukup memenuhi tuntutan zaman.

mengapa masih iri melihat orang lain mendapatkan kebahagiaan?
mengapa masih iri melihat orang lain mendapatkan sukses?
mengapa masih iri melihat orang lain lebih besar dari diri kita?

mungkin itu penyakit keturunan,
tidak senang disamakan dengan orang lain,
selalu ingin menjadi si lebih.

mentalitas kelangkaan menganggap jika kebahagiaan diraih orang lain,
maka dirinya akan mendapat lebih sedikit.
mentalitas kelimpahan bersyukur jika orang lain mendapat kebahagiaan,
percaya bahwa dirinya juga akan mendapat yang sama.

Tuhan itu adil.
manusia hanya perlu mempersiapkan diri.
Pemilik memiliki wewenang mutlak untuk memberi pada siapapun,
dan penerima tidak punya hak menggugat.

Tidak perlu mengeluh dan menuntut mengapa hanya diberikan satu, lima, atau sepuluh talenta.
ingatlah, orang bertalenta lebih banyak juga memikul tanggung jawab lebih besar.

kita menjadi humanis ketika tidak mau peduli sebagai satu kesatuan ekosistem.
turunlah dari altar keegoisan, bagikan diri demi kemanusiaan,
sadar bahwa kita semua menapakkan kaki di bumi yang sama!
ketidaksadaran sikap akan mana yang baik dan buruk,
karna hanya menjalankan yang ada.
bukalah kesadaran diri untuk mengubah dalam aksi.

bumi diserap habis tanpa pemeliharaan,
menyalahkan alam marah pada manusia.
momen itu kembali berulang,
mencoba menyadarkan kita dari keterpesonaan,
dibalik takjub mendalam,
merintihkan pengorbanan yang mahadahsyat,
gempa kembali menghentakkan aksioma iman.

iman yang semakin memudar kehilangan makna,
tak lebih dari seonggok historia manis,
ketika manusia memahat ego dalam sanubari,
tak ada lagi ruang untuk berbagi dan berkorban.

sudahlah,
syukuri saja rahmatNya,
yang penting kini bukanlah berapa banyak yang mau diberikan,
tapi kepeduliannya mau berbagi.

Turut berduka cita sedalam-dalamnya bagi para korban gempa,
semoga yang ditinggalkan diberi ketabahan.

Semoga berguna.

Blogged with the Flock Browser
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Joan Arae


    "Art is my breath.. As long as I breathe, Art never dies.."

    A young energetic girl who realizes her existence in this world as a human learner and kept asking in her mind "Why I can't stop thinking & doing here?".

    Gonna be on top! ♥

%d bloggers like this: